
Soraya memang belum merasakan tanda-tanda akan melahirkan, jadi dia tenang-tenang saja saat didalam mobil. Hanya Mama Rena yang panik dengan semua ini, sedang kan yang akan melahirkan santai-santai saja malahan.
Bik Darmi saja sampai bingung, sebenar nya yang mau melahirkan itu Nona Soraya atau Nyonya Rena? Bik Darmi sambil geleng-geleng kepala dan juga menggaruk kepala nya yang tidak gatal sama sekali.
"Ma, Mama tenang dong Ma. Disini yang mau melahirkan adalah Soraya, menantu kita. Kenapa menjadi Mama yang panik dan juga seperti itu?" ucap Papa Wijaya yang sesekali melihat nya didalam kaca didalam mobil.
"Dan, kamu kenapa diam saja sejak tadi? Relax saja semua nya akan baik-baik saja. Lihatlah Soraya, dia saja tenang dan tidak merasa tegang" ucap Papa Wijaya menenangkan putra nya yang sedang tegang.
Apa lagi melihat Mama Rena yang membuat nya semakin tegang dan berfikiran yang macam-macam. Danu mengikuti saran dari Papa Wijaya dan selalu memandangi wajah Soraya yang sesekali memang meringis dan selalu membaca do'a.
Danu memandangi terus wajah Soraya hingga mobil sudah sampai didepan rumah sakit. Danu langsung memapah Soraya yang jalan nya mulai sedikit pelan dan mencengkram tangan Danu dengan kuat.
"Sayang, apa baby sudah ingin segera keluar?" tanya Danu pada Soraya sambil berjalan menuju ruangan UGD.
"Iya Mas, aku mulai merasa mulas dan juga pinggang nya terasa sangat panas" jawab Soraya sambil terus mengatur nafasnya dan selalu merapalkan do'a supaya diberi kemudahan dan kelancaran saat melarikan.
Danu dengan telaten nya mengusap-ngusap perut dan juga pinggang Soraya yang memang terasa sangat kencang dari sebelum-sebelumnya, begitu juga dengan perut nya.
Tak lama kemudian dokter yang menangani persalinan Soraya datang dengan beberapa perawat yang mendampingi. Saat diperiksa ternyata pembukaan nya sudah hampir sempurna.
Dokter menyarankan untuk segera masuk kedalam ruang persalinan segera. Dan disinilah Soraya dan Danu berada, didalam ruangan persalinan. Soraya sedang berjuang untuk baby nya melihat dunia.
"Kamu pasti kuat sayang. I love you" ucap Danu sambil terus menggenggam tangan Soraya yang semakin mencengkram tangan Danu.
"Mas, aku. Rasa nya tidak kuat" ucap Soraya pada Danu saat tenaga nya sudah berkurang.
"Bu, jangan menyerah. Baby nya sudah terlihat, ikuti intruksi saya ya bu. Jika baby nya mendorong ingin keluar Ibu harus mengejan dengan kuat ya" ucap dokter dengan memberi semangat.
"Kamu bisa sayang, kamu kuat" ucap Danu sambil memeluk Soraya dan menciumi pucuk kepala Soraya yang dipenuhi keringat.
"Ayo bu sudah terlihat. Sekarang dorong" ucap dokter nya tersebut dan diikuti oleh Soraya. Dan....
Oe...
Oe...
Oe...
"Selamat Pak buk, baby nya laki-laki sehat dan sangat gemoy" ucap dokter lalu menaruh baby diatas dada Soraya untuk mencari sendiri nutrisi nya.
__ADS_1
"Sayang, dia sangat tampan sekali. Terimakasih banyak sayang, terimakasih" ucap Danu tak henti-hentinya mengucapkan terimakasih pada Soraya dan juga menciumi seluruh wajah istrinya.
Soraya hanya tersenyum dan mengangguk lemah, dia benar-benar sangat lemas. Tapi rasa lemas, lelah, dan sakit nya terbayar sudah dengan kehadiran baby yang sangat menggemaskan.
"Sebentar ya Pak, baby nya akan dibersihkan dulu. Nanti baru bisa langsung diadzani" ucap dokter tersebut dan perawat membawa baby boy untuk dibersihkan.
Soraya sedang dijahit dan juga dibersihkan semua nya, lalu dipindahkan kedalam ruang rawat PIV.
Ternyata didalam ruangan VIP sudah ada Mama Rena dan Papa Wijaya. Sudah menunggu nya didalam dan juga baby boy juga sudah ada didalam ruang VIP tersebut.
"Selamat datang sayang" saat Soraya sudah berada didalam kamar rawat nya.
Soraya hanya tersenyum saja. Dan Danu tidak beranjak sedikit pun juga dari Soraya, dia selalu berada didekat Soraya terus tanpa melepaskan genggaman tangan nya juga.
Mama Rena selalu menggendong cucu pertama nya yang sangat mirip dengan Danu waktu bayi. Mama Rena tak henti-hentinya menciumi pipi gembul nya.
Apa kalian sudah menyiapkan nama untuk baby gembul yang lucu ini?" tanya Mama Rena.
"Nama nya Alkana Wijaya Kusuma" jawab Danu dan Soraya tersenyum mendengar nama yang disebutkan oleh Danu.
"Wah, nama yang sangat bagus dan juga sesuai dengan baby boy gembul ini" ucap Mama Rena dengan sangat antusias dan juga sangat bahagia.
"Siapa nama panggilan nya?" tanya Papa Wijaya.
"Hei, berhenti berbuat seperti itu. Karena kamu akan berpuasa selama tiga bulan" ucap Mama Rena dengan sangat serius.
"What! Tiga bulan?" tanya Danu dengan tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Mama nya sendiri.
"Kenapa. Tidak percaya? Tanyakan saja pada Papa kamu" tanya Mama Rena yang melibatkan suami nya dalam keadaan seperti ini.
"Yang dikatakan oleh Mama kamu benar Dan, Papa juga melakukan hal yang sama dulu" jawab Papa Wijaya membenarkan ucapan istrinya.
"Sudah percaya?" tanya Mama Rena kembali. Lalu baby AL menangis kencang.
"Apa ASI nya sudah keluar sayang?" tanya Mama Rena pada Soraya.
"Masih sedikit Ma, mudah-mudahan cukup untuk baby AL" jawab Soraya sambil tersenyum dan menerima baby AL yang diberikan dari Mama Rena.
Papa Wijaya yang sudah tahu langsung pergi menjauh dari anak dan menantu nya.
__ADS_1
Baby AL sangat kuat menyedot sumber makanan nya dari sang Mama nya. Bahkan Danu yang melihat nya selalu menelan slivanya dengan susah payah, dia juga menginginkan nya juga.
"Boy, jangan dihabiskan. Sisakan untuk Papa" ucap Danu dengan nada memelas nya.
Plakk
Mama Rena menggelepak kepala Danu, dia tidak habis fikir dengan jalan fikiran putra nya yang tidak mau mengalah pada putra nya sendiri.
"Awoh, sakit Ma" protes Danu yang merasakan sakit dikepala nya.
"Maka nya kalau ngomong itu mbok ya disaring dulu. Jangan asal jeplak saja, masa kamu tidak bisa mengalah dengan anak kamu sendiri?!" ucap Mama Rena dengan sangat kesal pada putra nya.
"Ya aku kan hanya bilang untuk menyisakan nya untuk ku sedikit Ma" ucap Danu membela diri.
"Mas, yang dikatakan oleh Mama memang benar. Baby AL harus minum ASI nya selama dua tahun. Supaya tumbuh kembang nya baik dan ikatan batin antara Ibu dan anak terjalin erat" ucap Soraya menimpali ucapan suami nya.
"Benarkah, kenapa selama itu?" tanya Danu pada Soraya yang menganggukkan kepala nya.
Sedangkan baby AL sudah terlelap, karena dia sudah kenyang habis meminum ASI nya dengan sangat lahap.
Mama Rena mengambil baby AL untuk ditidurkan didalam baby bok nya. Mama Rena tidak membiarkan cucu nya, dia selalu memperhatikan nya terus. Terlihat sangat menggemaskan bagi yang melihat nya.
Lalu mama Rena menghampiri Soraya dan Danu. Danu akan pergi keluar untuk membeli keinginan Soraya, apa lagi dia harus banyak makan, makanan yang sehat dan juga bergizi supaya ASI nya lancar dan juga banyak.
"Terimakasih ya sayang. Kamu sudah memberikan penerus keluarga Kusuma nak, terimakasih banyak" ucap Mama Rena langsung memeluk Soraya dan mengusap-ngusap punggung nya dengan penuh kasih sayang.
"Iya Ma, Sora juga sangat berterimakasih pada Mama, karena Mama sudah sangat menerima Sora sebagai menantu Mama. Dan mau menerima Sora apa adanya" jawab Soraya juga memeluk erat pinggang Mama Rena.
Karena posisi nya Soraya sedang duduk diatas brangkar pasien, sedangkan Mama Rena berdiri disamping nya.
"Kamu ini bicara apa sayang. Kamu sudah Mama anggap seperti putri Mama sendiri, jangan pernah bicara seperti itu lagi ya. Mama benar-benar menyayangi kamu" ucap Mama Rena tidak mau jika Soraya merasa rendah lagi.
"Terimakasih Ma" ucap Soraya dengan senyuman mengembang.
"Sama-sama sayang. Ngomog-ngomong apa kamu tahu siapa keluarga Wijaya Kusuma?" tanya Mama Rena dengan hati-hati takut menantu nya tersinggung.
"Tahu, Wijaya Kusuma adalah pengusaha ternama dinegri ini. Dan juga perusahaan terbesar nomor dua, dan tempat Sora kerja juga salah satu pabrik cabang dari WJ.CORP. Dan Mas Danu yang mengelola nya sekarang. Yang tidak lain dan tidak bukan adalah putra tunggal dari pasangan suami istri yang bernama Papa Wijaya Kusuma dan Mama Renata Kusuma" jawab Soraya sambil tersenyum dan juga mengangguk kan kepala nya.
"Jadi, jadi kamu sudah tahu semua nya? Sejak kapan?" tanya Mama Rena penasaran.
__ADS_1
"Sejak awal pernikahan Ma, walau diadakan sederhana dan tamu undangan juga berpakaian biasa saja tapi Sora pernah baca artikel tentang salah satu pengusaha yang datang. Dan tidak sengaja mendengar ucapan nya jika aku beruntung bisa menjadi menantu keluarga terpandang" jawab Soraya kembali.
Mama Rena hanya diam dan memandangi wajah Soraya yang selalu tersenyum manis menatap nya.