
Dia masih kukuh mendekati Devon mengikutinya hingga masuk kedalam mobilnya dengan seorang anak kecil yang sudah duduk dijok belakang.
"Daddy, apa kita akan pulang kerumah Daddy?" tanya gadis kecil yang sedang duduk manis menatap Devon dengan tatapan berbinar.
Devon tidak menjawab pertanyaan dari gadis kecil yang diketahui nya sebagai putri nya. Hingga suara wanita yang duduk disamping nya berbicara pada gadis kecil itu.
"Iya sayang. Kita akan pulang kerumah Daddy, dan kita akan terus bersama-sama" jawab wanita itu sambil tersenyum pada putri nya.
"Apa yang kamu bilang? Itu tidak mungkin, aku tidak mengijinkan kamu untuk tinggal bersama ku!" ucap Devon dengan sangat merah.
"Kenapa tidak. Aku dan anak ku berhak atas kamu dan juga tinggal dirumah mu" jawab nya dengan sangat tegas. Tidak mau kalah dengan Devon.
"Daddy tidak suka aku ikut Daddy pulang? Apa Daddy memang tidak pernah sayang padaku?" tanya gadis kecil itu yang sudah meneteskan air matanya.
Entah kenapa Devon merasa sakit juga dengan melihat air mata gadis kecil itu. Dia tidak mengucapkan apa-apa lagi, dia hanya mengemudikan mobilnya menuju rumah nya bersama Lulu.
'Sayang, aku minta maaf. Karena kesalahanku dimasalalu akan membuat kamu sakit hati, tapi aku tidak bisa lepas tanggung jawab begitu saja padanya. Aku benar-benar minta maaf sayang, maafkan aku' ucap Devon hanya mampu didalam hatinya saja.
Devon mengemudikan mobilnya hingga sampai didepan rumah nya. Dan disana sudah ada pelayan yang menyambut kedatangan nya. Jangan lupakan, Lulu juga ikut menyambutnya dengan senyuman dibibir.
Tapi tiba-tiba senyuman nya menghilang seiring keluar nya wanita cantik dan juga anak kecil yang digandeng oleh wanita dewasa itu.
Devon berlari menuju pada Lulu yang sedang berdiri mematung disana. Melihat bagaimana pria yang bersetatus sebagai suami nya membawa pulang wanita dan juga anak nya.
"Sayang, aku ingin bicara berdua dengan mu. Ayo kita masuk" ucap Devon saat akan membawa Lulu masuk kedalam tiba-tiba suara seorang anak kecil memanggil nya.
"Daddy, apa aku boleh ikut?" tanya gadis kecil itu dengan pandangan memohon.
"Daddy?" beo Lulu dengan tatapan penuh dengan tanda tanya.
"Iya Daddy" jawab wanita dewasa yang berjalan mendekati mereka berdua dengan anggun nya.
"Kenapa? Kaget ya? Santai saja, aku tidak akan merebutnya dari mu. Jika kita bisa saling berbagi, iya kan sayan" ucap wanita yang sudah berdiri disamping Devon dan memegan bahunya.
"Sofia cukup! Sudah cukup kamu bicaranya, dan diantara kita tidak ada hubungan apa-apa. Jadi stop berbuat kekacauan seperti ini!" ucap Devon dengan sangat tegas juga menahan emosinya.
"Kenapa? Apa kamu sakit sama istri kamu ini. Seharusnya kamu itu sadar Dev, aku sudah membesarkan anak kita tanpa bantuan kamu. Aku kesini juga atas permintaan anak kita. Jadi jangan membuat seolah-olah aku yang salah disini" ucap wanita yang dipanggil Sofia oleh Devon.
__ADS_1
Devon hanya diam dan mencoba menahan emosinya supaya tidak meledak. Dia akan menjelaskan semuanya pada Lulu. Dan disinilah mereka berada diruang tamu.
Lulu masih menunggu, ingin mendengarkan penjelasan dari kedua orang yang ada dihadapan nya saat ini. Mereka semua hanya diam dan saling menunggu siapa yang akan bicara lebih dulu.
"Oke biar aku jelaskan. Perkenalkan nama aku Sofia ibu dari anak yang berada disamping ku ini. Aku dan Devon pernah menjalin hubungan dan menghasilkan seorang anak. Dan kamu bisa tahu lah mana anak nya. Aku hanya ingin meminta pertanggung jawaban dari Devon atas aku dan anak kita" ucap wanita yang bernama Sofia itu menjelaskan semuanya dengan panjang kali lebar.
"Kamu jangan mentang-mentang istri sah nya menolak kami begitu saja. Itu tidak adil bagi kami, saya tidak masalah jika harus jadi yang kedua. Asalkan aku dinikahi secara sah, itu saja sih keinginan ku" ucap nya lagi tanpa beban dan tanpa memikirkan perasaan orang lain.
"Sayang, aku tidak akan menikahi nya. Aku tidak kan pernah menghianati kamu, aku akan mempertahankan hubungan kita. Kita akan selalu bersama bukan? Sayang percaya sama aku" ucap Devon sambil menggenggam kedua tangan Lulu dengan sangat erat dan juga penuh dengan permohonan dari Devon.
Lulu hanya diam saja, dia tidak berbicara apapun pada Devon atau pada wanita yang bernama Sofia. Lulu masih mencerna setiap ucapan mereka berdua. Devon tidak menyangkal jika wanita itu mengada-ngada. Berarti benar, yang dikatakan wanita itu benar adanya.
"Aku butuh waktu sendiri" hanya itu yang diucapkan oleh Lulu. Dia beranjak pergi dari ruang tamu menuju kamarnya yang berada tidak jauh dari ruang tamu.
"Sayang, please dengarkan aku dulu" ucap Devon mengejar Lulu memasuki kamar mereka berdua.
Lulu hanya diam mematung. Entah apa yang ada dalam fikiran Lulu saat ini, dia mau marah. Tapi marah pada siapa? Mau menangis, apa yang musti dia tangisi. Inilah pilihan nya waktu itu, bukankah dia akan menerima masalalu Devon? Jadi, inilah sekarang yang dia dapatkan.
"Sayang please, jangan diam seperti ini terus. Kamu mau marah. Marah lah, jangan diam seperti ini" ucap Devon sambil berlutut dihadapan Lulu.
Lulu hanya menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskan nya secara perlahan. Lalu dia menatap wajah suami yang selama ini dia cintai, suami yang dia hormati, suami yang dia terima baik dan buruknya. Apa benar dialah yang salah? Karena terlalu cepat memutusakan untuk menikah? Atau memang takdir lah yang tidak bisa berpihak padanya? Entahlah, hanya Allah yang tahu.
"Sayang" ucap Devon terus, sambil terisak.
"Sudahlah tidak perlu dibahas. Aku lelah, aku ingin istilahat" ucap Lulu, dia mengeluarkan suaranya tapi dengan nada dingin dan datarnya.
Devon dibuat tercengang akan ucapan istrinya yang sejak tadi dia tunggu. Dia kira Lulu akan marah dan memaki-maki nya dengan kata-kata kasar mungkin yang lebih parahnya lagi akan, memu*ul nya.
Tapi ini semua diluar dugaan oleh Devon. Devon melihat punggung Lulu yang menjauh darinya dan merebahkan tubuh nya diatas ranjang king size. Lulu langsung menarik selimut dan menutupi seluruh tubuh nya.
Devon tidak mendekati Lulu lagi. Devon yakin jika Lulu benar-benar tertidur. Dia keluar kamar untuk menghampiri Sofia dan juga anaknya. Dia ingin mengusir mereka berdua. Perse*an dengan anak yang dia anggap anak kandung nya.
"Lebih baik sekarang kalian pergi. Aku tidak mau kalian ada disini. Pergilah sebelum aku bersikap ka*ar pada kalian, terutama kamu Sofia" ucap Devon sambil menunjuk wajah Sofia.
"Tega kamu yah. Kamu tega mengusir kami? Sudah tidak memberi nafkah selama bertahun-tahun. Sekarang dengan enteng nya kamu mengusir kami? Wah Devon, wah. Kamu benar-benar the real bang*at!" ucap Sofia dengan penuh amarahnya lalu dia mendekati Devon dan lalu
Plakk
__ADS_1
Suara tam*aran menggema diseluruh ruangan. Dan ternyata Lulu juga menyaksikan apa yang terjadi diluar kamarnya.
"Itu balasan untuk baji*gan seperti mu!" ucap Sofia lalu ingin beranjak pergi dari rumah mewah Devon.
"Tunggu!" ucap seseorang yang menahan langkah kaki Sofia. Siapa lagi jika bukan Lulu yang memanggilnya.
Sofia langsung berhenti melangkah dan menghampiri Lulu yang berdiri tidak jauh dari Devon.
"Kalian boleh tinggal disini. Masalah Devon biar nlmenjadi urusanku" ucap Lulu dengan datar tanpa ekspresi.
Lalu dia melangkah masuk kembali kedalam kamarnya. Dia tasnya malas sekali melihat kedua orang yang sudah terlewat batas. Apa lagi mereka bertengkar dihadapan seorang anak kecil.
Itu sangat-sangat membuat Lulu geram. Tidak bisakah berbicara pelan-pelan dan baik-baik? Sungguh sangat aneh buat Lulu.
Devon tidak bicara apa-apa lagi dia langsung masuk kedalam ruang kerja nya. Dia ingin menenangkan fikiran nya yang sangat kacau.
Sedangkan Sofia sudah berada didalam kamar lantai dua rumah mewah milik Devon. Sofia merebahkan dirinya diatas kasur empuk nya. Dan anak-anak nya sedang ditemani oleh salah satu pelayan yang ada didalam rumah ini.
"Akhirnya, sebentar lagi aku akan menjadi Nyonya Devon Tomlinson. Tidak sia-sia aku mempertahankan anak itu, dan ternyata membawa keberuntungan untuk ku" gumam Sofia sambil menyeringai.
Lalu datang seorang pelayan membawakan dua buah koper berukuran sangat besar memasuki kamar yang ditempati oleh Sofia.
"Ini koper anda Nona" ucap seorang pelayan yang mengantarkan koper.
"Taruh saja disitu" jawab Sofia.
"Eh, mau kemana? Antarkan koper yang itu pada putriku" ucap Sofia sambil menunjuk satu koper pada pelayan.
"Baik Nona" jawab sang pelayan.
.
.
.
Othor masih menunggu komen kalian semua....
__ADS_1
Tolong tinggalkan like, vote dan hadiahnya 🤗🤗😖