Suamiku Ternyata Orang Kaya

Suamiku Ternyata Orang Kaya
Oh God!!


__ADS_3

Sudah beberapa hari kondisi Danu sudah semakin membaik. Dan hari ini rencananya sudah diperbolehkan untuk pulang.


Soraya sedang membereskan barang-barangnya dibantu oleh bik Darmi dan juga Mama Rena. Sedangkan Papa Wijaya sedang bersama Danu membahas masalah pekerjaan.


Seperti biasa jika para pria sedang berkumpul, maka yang dibicarakan tidak jauh-jauh dari masalah pekerjaan dan juga bisnis, begitulah mereka berdua.


"Sayang, kamu harus lebih sabar ya menghadapi bayi besar kamu" ucap Mama Rena dengan tulus.


"Iya Ma, aku akan menjaga nya dan juga menyayanginya dengan sepenuh hati Sora Ma" jawab Soraya sambil memeluk erat tubuh Mama Rena.


"Iya sayang, Mama sangat percaya sama kamu" ucap Mama Rena dengan membalas pelukan dari menantunya yang sangat dia sayangi.


Mereka berdua berpelukan bersama dengan disaksikan oleh bik Darmi yang ikut terharu melihat kedekatan duanya. Antara Ibu mertua dan menantu yang sudah seperti Ibu dan anak kandung saja. Tidak memperlihatkan seperti mertua dan menantu.


.


Jika Danu sudah pulih dan akan segera pulang kerumahnya. Ditempat yang berbeda Rio sedang disibukkan dengan semua berkas-berkas yang menumpuk didepannya. Hingga dia tidak bisa bersantai walau hanya sejenak.


"Apa Tuan Wijaya tidak akan cepat kembali? Jika iya, tamat lah riwayat ku... " gumam Rio sambil menghempaskan punggungnya disandaran kursinya.


Tok...


Tok...


Tok...


"Permisi Pak, rapat akan segera dimulai. Bapak sudah ditunggu" ucap sekertarisnya yang hanya menyembulkan kepalanya saja.


"Iya, saya akan segera kesana" jawab Rio sambil beranjak dari duduknya menuju ruangan rapat.


Rio benar-benar dibuat pusing dengan semua pekerjaan nya saat ini. Belum lagi harus tetap kuliah supaya bisa meraih gelar sarjananya.


"Pak, saya bisa pulang sekarang atau harus lembur lagi bersama anda?" tanya sekertaris nya yang bernama Lisa.


"Kamu boleh pulang. Saya juga akan pulang" jawab Rio sambil mengenakan jas nya yang sejak tadi hanya digantungkan dikursinya.


"Baik Pak" ucap Lisa pergi dari ruangan kerja Rio.


Saat Rio sedang berada didepan gedung WJ CORP dia melihat Lisa yang sedang berdiri. Mungkin sedang menunggu taxi atau ojeg online nya.


"Kamu sedang menunggu jemputan?" tanya Rio pada Lisa.


"Tidak Pak, saya sedang memesan taxi dan juga ojeg online tapi tidak ada yang merespon" jawabnya sambil menundukan kepalanya.

__ADS_1


"Naiklah, biar saya yang mengantar mu" ucap Rio pada Lisa.


"Tapi Pak, saya bisa sendiri" ucap Lisa merasa tidak enak harus diantarkan oleh Bos.


"Jika kamu tidak mau naik sekarang juga, maka saya akan membuat mu kerja lembur hingga kamu bisa tinggal disini dengan lama" ancaman telak dari Rio.


Dan mau tidak mau Lisa menurutinya. Dia masuk kedalam mobil Rio yang masih berada dihadapan nya. Dengan kekesalan yang hakiki Lisa masuk kedalam mobil dan menutup pintu nya dengan lumayan keras.


"Jika kamu sudah bosan bekerja, maka besok pagi saya harus sudah menerima surat pengunduran dirimu dimeja saya" ucap Rio pada saat Lisa sudah duduk disamping nya.


Lisa yang diancam seperti hanya bisa nyengir kuda. Dia juga meminta maaf karena sudah membanting pintu mobil lumayan keras.


"Dimana alamat rumah mu?" tanya Rio dengan datar dan tetap fokus menyetir mobilnya.


"Dijalan Y nomor 54" jawab Lisa dengan pandangan tetap kedepan.


Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi Rio melajukan mobilnya menuju alamat yang diberikan oleh Lisa. Ternyata tidak memakan banyak waktu, Lisa tinggal diapartemen yang tidak jauh dari WJ CORP.


"Terimakasih banyak Pak, sudah mau mengantarkan saya" ucap Lisa saat sudah sampai didepan gedung apartment yang Lisa tempati.


Tanpa mengucapkan apapun Rio melajukan kembali mobilnya keluar dari area apartment yang Lisa tempati.


.


Sesampainya dirumah Rio sudah disambut oleh ketiga adiknya. Mereka sangat bersemangat kakak nya pulang tepat waktu, tidak seperti biasanya yang jika pulang akan sangat larut malam.


"Kakak sangat lelah, akhir-akhir ini pekerjaan sangat menumpuk. Tuan Wijaya juga belum tahu kapan kembali, rasanya kakak sangat tidak sanggup Ri" ucap Rio yang langsung mendudukan tubuhnya disofa ruang tamu dengan sangat kasar.


"Nih kak, minum dulu" ucap Rana memberikan segelas teh hangat.


"Terimakasih Ra" ucap Rio pada Rana setelah menerima teh dari adiknya.


Tiba-tiba Rani ada dibelakang nya dan memijat pundaknya dengan sangat lembut dan juga nyaman.


"Enak tidak kak?" tanya Rani. Tangannya dengan cekatan memijat dengan lembut juga membuat Rio sangat nyaman.


"Enak, sangat enak. Terimakasih ya, maaf kakak jadi merepotkan kalian semua" jawab Rio sambil memejamkan matanya menikmati pijatan yang sangat membuat nya semakin relax.


Ternyata Rio benar-benar tertidur dengan lelap. Ketiga adiknya bersama-sama mengangkat tubuh Rio untuk dipindahkan kedalam kamar. Supaya tidurnya nyaman.


"Huh selamat" ucap Rani yang badan nya paling kecil.


"Apanya yang selamat? Kamu ini ada-ada saja" tanya Ria yang melihat tingkah adik bungsunya.

__ADS_1


Yang ditanya hanya nyengir kuda. Dia memang yang paling bisa mencairkan suasana, mereka bertiga keluar dari kamar Rio. Membiarkan kakak nya istirahat.


.


Kembali pada Danu dan Soraya. Mereka berdua seperti premen karet yang menempel disepatu, sangat sulit untuk dilepaskan. Jika mereka berdua berjauhan walau dalam kurang dari satu menit, pasti Danu akan muntah-muntah dengan parahnya.


"Kalian bisa tidak makan sendiri-sendiri?" tanya Mama Rena yang kesal melihat kemesraan anak dan menantunya.


"Tidak bisa Ma" jawab Danu yang masih menerima suapan dari istrinya.


"Oh God" ucap Mama Rena sambil menepuk keningnya sendiri.


"Ma, maaf ya. Bukan nya Sora mau begini, entah kenapa Sora merasa nyaman jika menyuapi dan disuapi Mas Danu" ucap Soraya sambil menundukan wajahnya dan tiba-tiba dia terisak.


Mood bumil ini sangat sensitif, dia tidak bisa mendengar ucapan yang tidak mengenak kan menurutnya. Entah itu tentang Danu atau yang lainnya. Itu benar-benar membuat Mama Rena dan yang lainnya menjadi pusing.


"Sayang, kenapa kamu menangis?" tanya Danu yang melihat istrinya sudah menangis terisak.


"Ma, Mama keterlaluan! Mama tega membuat istriku menangis" ucap Danu dengan wajah merah menahan amarahnya.


Jika Soraya yang mudah menangis dan juga bersedih, berbeda dengan Danu yang tidak bisa mengontrol emosinya. Dia akan meledak-ledak jika melihat istrinya menangis, apa lagi menangis karena ucapan atau nasehat dari orang.


"Ya Tuhan... Kenapa Kau coba hambamu dengan cobaan yang seperti ini? Tidak bisakah mereka mengidam nya dengan normal. Atau yang lain, mengapa seperti ini ya Tuhan" ucap Mama Rena masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang.


"Sudah lah Ma, lebih baik kita kembali saja. Papa juga pusing menghadapi sikap kedua nya, bisa-bisa Papa darah tinggi jika berlama-lama berada disini" Papa Wijaya mencoba untuk menenangkan istrinya yang sudah sangat frustasi.


"Iya, lebih baik Mama dan Papa pulang saja" ucap Danu dengan nada dingin.


Tiba-tiba Soraya semakin kencang menangisnya.


"Huaaaa, Mas Danu jahat! Kenapa Mas Danu malah mengusir Mama dan Papa? Kamu jahat Mas! Huaaaa, hiks hiks hiks" ucap Soraya pada Danu sambil memukul lengan Danu.


"Sayang aku nggak bermaksud buat ngusir mereka. Tapi kan Mama dan Papa sendiri yang meminta pulang. Aku sama sekali tidak mengusir" jelas Danu yang ikut menangis.


Terjadilah pagi hari dirumah Danu sedang ada tragedi yang menyayat hati. Danu dan Soraya menangis bersama dan juga sambil berpelukan diruang makan.


Sedangkan Mama Rena dan Papa Wijaya sudah pergi untuk menentram kan fikiran yang sangat kacau akibat ulah anak dan menantunya.


"Kita akan kemana Tuan, Nyonya?" tanya mang Asep yang sedang menyetir mobil.


Ya Mama Rena dan Papa Wijaya memutuskan untuk meminta mang Asep mengantarkan kesuatu tempat yang bisa membuat pasangan paruh baya itu bisa menenangkan fikiran mereka.


"Kita kepabrik saja mang" jawab Papa Wijaya sambil memijat pangkal hidungnya yang tiba-tiba terasa pusing.

__ADS_1


"Pa, apa Papa baik-baik saja?" tanya Mama Rena yang melihat suaminya memijat keningnya.


Mereka benar-benar dibuat pusing akan sikap dan sifat anak-anak nya yang diluar nalar. Mereka berdua sudah melebihi anak kecil sifatnya.


__ADS_2