
Jika Rina sedang mengantarkan Rudi menuju kamarnya yang ada didalam hotel ini. Berbeda dengan Soraya, Lulu, Danu, Devon, Sinta, Siva, dan Eric yang sedang berkumpul didalam ruangan yang sangat luas itu. Dan itu membuat Soraya dan yang lainnya heran, mengapa dia wanita yang dulunya adalah wanita yang selalu membuat masalah dengan dirinya maupun Rina. Sekarang malah bisa dekat dan bisa dibilang berteman.
"Sebenarnya sejak kapan kalian berdua dekat dengan Rina?" tanya Soraya yang baru tahu jika Rina sekarang dekat dengan dua orang yang dulunya adalah musuh Rina sendiri.
"Baru sih, belum lama juga. Mungkin beberapa bulan yang lalu. Kenapa memangnya? Ada yang salah?" tanya Siva yang menjawab pertanyaan dari Soraya dan bertanya kembali.
"Oh, tidak ada yang salah sih. Hanya heran saja kami melihat kalian bertiga akrab" jawab Soraya yang memang apa adanya.
"Iya, kami memang berteman dengan Rina semenjak Silvia sering merendahkan dan juga menghina kami karena kami tidak sepadan dengan dia. Bahkan kami berdua sering dijadikan seperti pelayan olehnya. Pernah pada suatu hari, kami berdua sedang dimarahi habis-habisan oleh Silvia karena masalah gue tidak sengaja menyiram pakaian yang dia kenakan karena gue terjatuh. Yah seperti itulah Silvia yang memaki dan bahkan menghina gue didepan umum" jelas Sinta yang mengingat kejadian itu, dimana dia sangat direndahkan sebagai manusia dan juga sebagai teman.
"Miris banget nasib loe" ucap Rina yang ternyata sudah duduk juga disamping Soraya dan yang lainnya.
"Iya, lebih kebetulan lagi ada seseorang yang menjadi pahlawan buat gue waktu itu. Saat gue disuruh berlutut dan men*ilat sepatu Silvia" ucap Sinta yang berkaca-kaca menahan air matanya.
"Kurang a*ar memang tuh manusia satu itu. Loe jangan mengingat itu lagi jika loe merasa sakit hati dan juga direndahkan. Loe sekarang sudah bagus meninggalkan manusia modelan ondel-ondel sepertinya" ucap Rina yang hanya menatapnya saja dan memberikan support untuk Sinta.
"Kalian berdua sempai diperlakukan seperti itu? Tega banget, seperti tidak punya iman saja. Si Iman saja baik dia" tanya Lulu yang ikut nimbrung pembicaraan Sinta dan Rina.
"Eh si Lulu, dia bisa ngelawak juga rupanya" ucap Rina yang disambut gelak tawa oleh semua orang yang ada diruangan itu.
"Terus bagaimana dengan kamu Siva? Bukankah kalian bertiga berteman? Sorry bukan nya aku ingin mengorek tentang kalian berdua. Hanya saja kenapa teman kamu diperlakukan seperti itu kamu diam saja?" tanya Soraya yang ingin mendengar kelanjutan dimana mereka berdua bisa berteman dengan Rina, sahabatnya.
"Gue sudah lama nggak lagi sama dia semenjak dia dikeluarkan dari pabrik. Gue nggak suka saja sama sikap dan juga sifatnya sang terlalu bosy banget. Apa lagi memang dia sudah menjadi pemimpin perusahaan nya yang diturunkan langsung oleh Papa nya. Semakin menjadi lah dia, makanya gue sudah tidak dekat lagi dengan nya" jawab Siva yang memang selalu bisa pendapat dan juga selalu melawan jika Silvia menginginkan sesuatu.
"Jadi hanya kamu dan Silvia saja saat itu?" tanya Soraya pada Sinta yang sedang mengusap air matanya yang menetes.
__ADS_1
"Iya, dan Siva sama sekali tidak tahu saat itu. Bahkan sampai gue masuk pabrik dan bertemu dengan Siva gue belum cerita. Tapi saat waktu yang gue rasa tepat gue akhirnya cerita sama Siva dan hingga saat ini kami berdua lost contact dengan Silvia" jawab Sinta yang seolah-olah lega dengan menceritakan semuanya pada Soraya and the gang.
"Lalu sejak kapan kalian bertiga dekat? Kenapa aku bisa nggak tahu? Kamu tega banget Rin sama aku, hiks... hiks... hiks..." ucap Soraya yang memang selalu ngederama semenjak dinyatakan hamil kedua ini.
"Sejak kapan nya sih nggak tahu Sora. Gue hanya biasa dan ya seperti itu hingga sekarang. Tapi jika pria diujung sana sudah tahu dan kenal kan?" jawab Rina sambil menunjuk Eric menggunakan dagunya.
"Iya, dia memang sangat dekat dengan kamu sejak kuliah. Tapi ternyata sampai saat ini juga, memang pesona seorang Rina no kaleng-kaleng" ucap Soraya yang kembali ceria saat baru saja dia mewek-mewek karena tidak diberitahu tentang kedekatan Rina dan double S.
"Yoi, bagaimana bisa nolak seorang Rina yang aduhai ini" jawab Rina dengan sangat percaya diri sekali saat dipuji oleh Soraya.
"Tidak usah seperti itu Marimar! Gedek gue dengernya" ucap Eric yang selalu seperti itu jika sedang bersama Rina. Tapi walau begitu selalu kompak dan juga selalu bersama disaat sedang salaing membutuhkan.
"Hei Ferguson! Jangan asal nguap saja tuh mulut. Kalo ngomong itu kagak pake bismilah loe" jawab Rina tidak kalah sengit dari Eric.
"Stop! Kenapa jadi seperti ini? Apa kalian berdua tidak malu apa dilihatin oleh orang yang menatap aneh pada kalian berdua?" tanya Lulu yang sudah pusing saat mendengar Rina dan Eric berdebat.
Sedangkan Rina langsung tergelak melihat sikap Devon yang ternyata susis (suami sieun/takut istri) Membuat Soraya juga ikut tersenyum melihat pasangan suami istri itu sedang sling tatap dan yang satunya hanya menunduk ketakutan.
"Eh ngomog-ngomong, loe masih stay disinikan Rin, setelah menikah nanti? Gue pasti kangen banget nggak ada loe disini. Waktu loe resign saja sepi banget nggak ada loe" tanya Siva yang lebih dulu bertanya dibandingkan dengan Sinta.
"Gue mau ngikut lakik gue. Masa gue stay disini sedangkan lakik gue kagak ada" jawab Rina yang langsung membuat Siva dan Sintia terlihat sedih mendengar ucapan Rina.
"Sudah gue duga" ucap Sinta yang memang sepertinya tahu akan hal itu.
"Sorry kawan. Gue memang harus ikut kemana pun suami gue pergi, yang kali kali gue kaya raya kagak gue nikmatin kekayaan nya" ucap Rina yang membuat semua orang yang ada disana langsung menatap horor padanya.
__ADS_1
"Sorry, gue hanya bicara fakta. Hahahaha" ucap Rina yang langsung tergelak dengan sangat kencang nya.
"Dasar petasan banting" umpat Devon yang sejak tadi sangat gatal ingin ikut nimbrung ucapan Rina yang sangat heboh sendiri.
"Dasar loe Tevlon! Apa loe liat-liat gue?!" ucap Rina yang geram dengan Devon yang memancing keributan.
"Sudah-sudah, kalian ini jika dekat pasti saja seperti itu. Bikin pusing saja, kalian para suami sebaiknya pergi saja deh dari sini. Kami para teman dan sahabat sedang reuni bersama. Jadi, jangan ada yang protes!" ucap Soraya yang melihat Danu ingin protes karena Soraya ingin bersama dengan sahabatnya tanpa dirinya.
"Yang dikatakan oleh Sora memang benar kami semua ingin menghabiskan waktu bersama sebelum kami berpisah untuk menjalani kehidupan masing-masing. So, jangan ada penolakan atau protes jika tidak ingin jatahnya juga dipangkas" ucap Lulu yang ucapan nya sedikit merambah kehal yang enak-enak.
"Betul" jawab Soraya. Sedangkan yang belum menikah dan berpengalaman hanya menatap bingung dan dengan kompak mereka berempat mengedikan bahunya bersama-sama.
"Baiklah, dari pada nggak dapat jatah" ucap Devon yang langsung beranjak dari duduknya untuk segera pergi.
Sedangkan Danu masih diam dan tidak bergeming. Membuat Soraya pusing akan sikap posesif dan juga over protective nya Danu pada Soraya. Soraya menatap wajah Danu dan dengan patuhnya Danu langsung beranjak juga mengajak baby AL yang sudah terlelap.
"Wah Soraya keren banget bisa menaklukan Pak Danu yang gahar" ucap Sinta yang merasa takjub atas sikap Soraya yang bisa menaklukan gunung es yang sangat dingin itu sampai mencair dan terlihat sangat menyayangi Soraya.
"Bener banget. Itulah Soraya yang memang sudah menjadi pawangnya Pak Danu yang terkenal sangat dingin dan juga datar. Tapi jika sudah didekat Soraya sudah seperti kelinci kecil yang sangat imut" jawab Rina yang memang selalu saja heboh dengan semua yang dia lakukan.
Mereka semua saling bercerita dan juga berbagi pengalaman yang pernah para Ibu muda rasakan. Dan Rina sangat menyimak semuanya yng dikatakan oleh Lulu maupun Soraya. Karena keduanya sudah lebih berpengalaman dibandingkan dengan para jomblo dan calon pengantin.
Semuanya mengobrol hingga lupa waktu sampai mereka semua dijemput kembali oleh para suami dan calon suami untuk ikut makan malam bersama dengan yang lainnya. Sedangkan ketiga teman Rina yang baru berteman dekat dengan Lulu dan Soraya juga diajak makan malam bersama didalam restaurant hotel yang mewah ini.
Semuanya sangat menikmati hidangan yang disajikan oleh pihak hotel. Apa lagi Sinta dan Siva sangat merasa tersanjung bisa makan ditempat yang nyaman dan juga mewah seperti ini. Makanan nya juga sangat enak-enak dan membuat keduanya semakin bersyukur bisa bertemu dan bisa berteman dengan ketiga wanita yang menikahi sultan.
__ADS_1
Baik Sinta maupun Siva sangat beruntung bisa bergabung dan juga dihargai dalam berteman. mereka tidak pernah melihat sesuatu dari harta atau yang lainnya. Jadi mereka merasa sangat dihargai menjadi teman dari Soraya, Lulu dan Rina. Sekarang nambah lagi Eric yang menjadi teman mereka berdua.