Suamiku Ternyata Orang Kaya

Suamiku Ternyata Orang Kaya
Jalan berdua (bagian 2)


__ADS_3

Walau Siva sudah pergi Silvia tidak merasa bersalah sedikitpun. Dia malah merasa senang, orang yang selalu ikut campur masalah nya sudah pergi. Jadi dia tidak akan kesal lagi.


"Sil, kenapa kamu biarin Siva pergi? kita kan sudah berteman lama. Kenapa masalah sepele seperti ini kamu kayak gini?" tanya Sinta yang merasa tidak enak pada teman nya satu lagi.


"Apa loe bilang! Sepele? Kalo ngomong asal jeplak aja loe! Gue paling tidak suka dengan orang yang sok dihadapan gue. Faham loe!" bukannya meerasa bersalah malah semakin ngegas bicaranya.


"Gue kan nggak ada maksud kayak gitu Sil, cuman kan.. " Sinta belum selesai berbicara sudah dipotong lebih dulu oleh Silvia.


"Kalo loe sudah bosan berteman dengan gue, loe boleh ikut dia pergi! Gue nggak masalah, yang ada gue seneng" sanggah nya lebih menyakitkan ucapannya.


Sinta hanya diam saja, dia tidak mau jika tidak berteman lagi dengan Silvia. Berteman dengan Silvia dia bisa memiliki yang dimiliki oleh Silvia.


'Jika bukan karena loe kaya dan royal. Gue nggak mau berteman dengan loe, gue masih butuh nampang dari duit loe' ucapnya hanya berani dalam hati.


Mana berani Sinta berbicara seperti itu langsung. Yang ada dia dimarahi oleh Silvia, bukan hanya itu. Bisa saja dia mendapatkan umpatan dan juga makian dari Silvia.


Dia akan dipermalukan juga didepan umum. Dia mungkin akan dijadikan an*ing oleh Silvia, sudah sering Silvia berbuat sesuka hatinya.


Silvia beranjak dari duduknya, dia ingin menuju ruang VIP yang ditempati oleh Danu dan Soraya. Dia ingin mempermalukan Soraya dihadapan umum.


Tapi ternyata dia tidak bisa masuk, karena ada beberapa orang yang berjaga didepan pintu masuk.


"Saya mau menemui orang yang ada didalam" ucap Silvia pada kedua orang yang berjaga.


"Maaf, anda tidak boleh masuk" jawab salah seorang yang berjaga.


"Tapi ini urgent. Sangat penting" ucap Silvia lagi. Dia mencoba meyakinkan dua orang yang berjaga.


"Maaf, anda bisa menyampaikan semua nya pada kami. Kami akan menyampaikan nya pada Tuan Muda" jawab salah seorang pria yang berjaga.


"Tidak bisa, ini harus saya sendiri yang menyampaikan nya langsung" ucap Silvia masih juga membujuk.


"Tidak bisa Nona. Maaf, tetap tidak bisa" jawab mereka tegas.


"Tapi...." belum selesai berbicara Silvia sudah diusir dari situ.


"Maaf Nona, anda harus pergi sekarang juga. Sebelum kami usir dari sini" sela dua orang yang sedang berjalan.


.


Jika diluar Silvia sedang memaksa masuk kedalam ruang PIV yang sudah ada Danu dan Soraya.


"Kamu senang?" tanya Danu yang selalu memandangi wajah Soraya.


"Iya Mas, makasih yah sudah mengajak aku makan siang diluar. Apa lagi ini private room, apa tidak apa-apa berada disini? Pasti mahal Mas bayarnya. Dari pada itu lebih baik uangnya ditabung" jawab Soraya malah bilang menabung pada Danu.

__ADS_1


"Tidak apa-apa sesekali, jadi jangan memikirkan yang tidak-tidak. Aku mau membuat kamu bahagia, mungkin dengan cara seperti ini. Jadi jangan merasa sungkan pada ku" ujar Danu sambil menggenggam tangan Soraya.


"Terimakasih Mas, aku sangat senang diperlakukan seperti ini. Aku sangat bersyukur akan hal itu" ucap Soraya membalas genggaman tangan Danu.


Tidak lama kemudian datang seorang pelayan masuk membawakan makanan pesanan mereka berdua.


"Silahkan Tuan dan Nona" ucap seorang pelayan ramah yang menyediakan makanan diatas meja.


"Terimakasih" ucap Soraya.


Mereka berdua menikmati makan siang mereka berdua dengan sangat menikmatinya dan terlihat sangat romantis.


Setelah selesai menikmati makan siang nya mereka berdua beranjak untuk melanjutkan jalan berdua nya menuju suatu tempat yang sudah direncanakan oleh Danu sebelumnya.


Danu menggandeng tangan Soraya untuk keluar dari private room. Mereka terlihat sangat romantis sekali, yang laki-laki tampan dan yang perempun cantik. Pasangan yang sangat serasi sekali.


.


Berbeda dengan Soraya dan Danu yang sedang berkencan disiang hari itu. Disini Lulu sedang bekerja seperti biasanya, dia selalu bersemangat dalam menjalankan pekerjaan nya.


Lulu sudah selesai bekerja, karena sekarang sudah waktunya semua yang lembur hanya sampai sing hari saja.


"Aku duluan ya" ucap Lulu pada salah seorang kariawan yang lembur dengan nya.


Lulu melangkahkan kakinya keluar pabrik. Dia berjalan biasa saja, Lulu ingin membeli sesuatu untuk Uci. Sebagai kado ulang tahun nya.


Lulu melangkahkan kakinya menuju toko perhiasan. Dia pernah melihat Uci menginginkan sebuah liontin, walau bukan emas Lulu membelikan nya dengan penuh kasih sayang untuk adiknya.


"Ada yang bisa saya bantu mbak?" tanya pelayan toko.


"Saya ingin beli liontin untuk adik saya mbak" jawab Lulu.


"Silahkan dipilih dulu mbak. Mungkin ada yang sesuai dengan keinginan anda" ucap pelayan nya lagi.


"Saya mau, yang simple tapi terlihat bagus buat anak berusia 14tahun mbak" jawab Lulu menjelaskan keinginan nya.


"Apa ini sesuai keinginan anda?" ucap seorang pelayan memberikan sebuah liontin yang sangat indah dan juga sesuai dengan keinginan nya, juga sesuai dengan usia Uci.


"Iya, ini berapa harganya mbak?" tanya Lulu langsung.


"Ini model terbaru mbak, harganya 2.570.000 mbak" jawab pelayan toko.


"Apa tidak bisa kurang mbak? saya hanya ada yang 2.500.000 saja, itu pun jika diperbolehkan" ucap Lulu, sebenarnya dia malu. Tapi dia sudah berjanji untuk membelikan adiknya liontin.


"Ini, pakai ini saja" ucap seorang pemuda yang tiba-tiba sudah ada dibelakang Lulu.

__ADS_1


Sang pelayan langsung mengambil kartu yang diberikan oleh pria yang dibelakang Lulu, dan langsung melakukan transaksi dengan kartu yang diberikan oleh pria yang ternyata adalah Devon.


Lulu langsung menoleh keasal suara yang berada dibelakang nya.


"Terimakasih, tapi anda tidak perlu melakukannya. Saya bisa membelinya sendiri" ucap Lulu pada Devon.


Belum Devon berbicara, pelayan sudah memberikan bungkusan liontin beserta kartu yang diberikan oleh Devon tadi.


"Terimakasih atas kunjungan anda" ucap pelayan yang melayani pembelian liontin untuk Lulu.


Devon menerima bungkusan yang diberikan oleh pelayan tadi. Lalu Devon memberikan nya pada Lulu, awalnya Lulu tidak mau menerimanya. Tapi setelah didesak oleh Devon akhirnya Lulu menerimanya, walau dengan terpaksa.


"Terimakasih, ini saya anggap hutang" ucap Lulu pada Devon.


"Terserah anda" jawab Devon biasa saja.


Sebenarnya dia hanya ingin lebih dekat dengan Lulu, wanita yang selalu mengusiknya siang dan malam. Entah kenapa selalu memikirkan wanita yang selalu bersikap dingin dan cuek padanya.


"Apa kita bisa berteman? Saya adalah warga baru disini, saya baru saja dipindahkan kerja kesini dari tempat saya bekerja sebelumnya" jelas Devon pada Lulu.


"Iya, kita bisa berteman. Anda sekarang tempat tinggal nya dimana?" jawab Lulu sambil bertanya pada Devon.


"Saya, bisakah jangan terlalu formal?" tanya Devon.


"Boleh" jawab Lulu.


"Aku tinggal dikosan jalan xx no5" ucap Devon.


"Kita berdekatan. Lebih tepatnya dekat dengan sahabat aku" jawab Lulu.


"Benarkah? Jadi rata-rata yang ngekos disitu kariawan pabrik WJ CORP?" tanya Devon merasa tidak percaya.


"Iya, semuanya memang bekerja dipabrik yang sama" jawab Lulu.


"Wah, ternyata disini bakalan banyak teman. Tidak seperti tempat kerja ku sebelumnya" ucap Devon.


"Benarkah? Memangnya kamu bekerja dimana sebelumnya?" tanya Lulu mulai penasaran.


"Dikantor pusat, banyak yang bilang jika aku ini play boy. Ya mungkin karena wajahku yang tampan ini mungkin, jadi dijuluki seperti itu. Padahal boro-boro play boy, deket sama wanita saja tidak pernah" jawabnya narsis.


"Aku nggak percaya dengan ucapan kamu. Mungkin saja memang benar, jika kamu memang seorang play boy sejati. Nyatanya selalu ada dimana pun aku berada" ucap Lulu penuh selidik.


"Aku tidak sengaja bertemu kamu lagi tadi. Aku cuman penasaran aja sama wanita yang beli sesuatu pake nawar segala kayak dipasar" jelas Devon.


"Sorry, bukannya mau menghina atau membuat kamu malu. Cuman aku heran saja, dijaman sekarang masih ada wanita seperti kamu ini. Disaat semua orang mementingkan penampilan dan diri sendiri, kamu malah sebaliknya" ucap Devon lagi. Takut Lulu salah faham.

__ADS_1


__ADS_2