
"Aku adalah anak sulung dari keluargaku, aku sekaligus tulang punggung mereka juga. Makanya penampilan menurutku tidak begitu penting. Selagi aku masih berpakaian layak dan juga tidak mempermalukan diri sendiri, itu cukup untukku" jawab Lulu sambil menampilkan senyuman dibibirnya yang tipis.
Devon sangat terkejut dengan jawaban dari Lulu. Bagaimana bisa, dijaman yang seperti ini anak sulung menjadi tulang punggung untuk keluarganya. Ini benar-benar sudah sangat langka bagi Devon.
"Maaf sebelumnya, jika kamu yang jadi tulang punggung. Dimana ayah dan Ibumu?" tanya Devon dengan sangat hati-hati.
"Ayah ku sudah lama meninggal. Jika Ibu, dia sudah tua dan sakit-sakitan. Jadi mana mungkin aku membiarkan nya bekerja, dengan kondisi yang tidak bisa untuk bekerja lagi" jawab Lulu.
Mereka berdua memutuskan untuk duduk ditaman, mereka banyak mengobrol. Lebih tepatnya saling bercerita tentang kehidupan masing-masing.
"Oh, jadi kamu sekarang yang bertugas buat menggantikan posisi ayah kamu mencari nafkah?" tanya Devon, dijawab anggukan oleh Lulu.
"Ini jika ya. Jika ada seseorang tiba-tiba melamar kamu ingin menikahi kamu, apa kamu akan menerimanya? Apa lagi jika orang itu ternyata orang yang sudah mapan dan juga kaya?" tanya Devon ingin mengetahui bagaimana jawaban Lulu jika bertemu dan dilamar oleh orang kaya.
"Jika itu terjadi maka aku akan menerimanya" jawab Lulu sambil tersenyum smirks.
'Sudah ku duga, semua wanita sama saja. Semuanya hanya kiasan saja, ku kira dia berbeda. Ternyata sama' kesimpulan yang disalah artikan oleh Devon.
"Jangankan mengajak menikah atau pacaran pun itu tidak mungkin. Aku kenal laki-laki saja hanya kamu, itu juga baru kali ini. Jika setiap harinya hanya ada kedua adik laki-laki ku saja. Jadi mana ada yang mau sama wanita seperti aku ini. Kamu ini ada-ada saja" ucap Lulu sambil menatap langit cerah pada siang hari itu.
'Oke, ternyata dugaan ku salah. Dia berbeda' sorak dalam hati Devon.
"Tapi seandainya akulah orangnya bagaimana? Apa kamu mau menerimanya?" tanya Devon lagi menggali informasi sedetail mungkin.
"Hahaha" Bukannya menjawab pertanyaan dari Devon, Lulu malah tertawa mendengar pertanyaan dari Devon.
"Kenapa tertawa? Apa ada yang salah dengan pertanyaan aku?" tanya Devon tidak mengerti.
"Kamu ini kalo ngomong asal aja sih. Kamu saja baru mengenalku, begitu pula sebaliknya. Kenapa malah memutuskan untuk menjalin hubungan dan apa lagi menikah. Itu tidak mungkin bukan" jawab Lulu masih terkekeh akan pertanyaan yang tidak masuk akal menurut Lulu.
"Memangnya kamu tidak tau istilah love at first sight?" tanya Devon.
"Aku tau istilah itu. Tapi aku rasa itu tidak berlaku buat ku, jika kamu memang orang kaya dan mapan. Apa yang kamu lihat dari aku yang seperti ini?" jawab Lulu menoleh kesamping untuk menatap Devon.
__ADS_1
"Aku melihat kesedihan dimata kamu, melihat beban berat yang ada didalam hati kamu, melihat bagaimana kamu berjuang, melihat kamu sangat gigih dalam segala hal. Melihat betapa menyayangi keluargamu. Tidak penting jika kamu tidak makan atau tidak bisa membeli kebutuhan mu sendiri, yang penting adalah keluargamu. Benar kan?" jawab Devon membalas menatap wajah Lulu.
Wajah yang terlihat lebih kusam dan juga terlihat tua dari usianya. Apa lagi badan yang kurus, kelopak mata menghitam akibat kurang tidur. Kantung mata yang sangat besar. Menandakan jika dia sangat lelah dengan keadaan, tapi dia dipaksa untuk bisa melakukan nya.
"Dari mana kamu tau semuanya? Apa kamu memata-matai aku?" tanya Lulu penuh selidik menatap manik mata berwarna abu itu lekat.
"Aku tidak perlu menyelidiki mu, aku hanya melihat langsung dari mata kamu. Apa lagi pada saat kamu menceritakan tentang keluarga kamu, itu sangat terlihat. Bagaimana perjuangan kamu, bagaimana kamu bisa mendapatkan uang untuk tetap bertahan. Dengan melihat kondisi fisik kamu, maaf bukan maksud aku merendahkan atau menghina fisik seseorang. Itu sudah sangat terlihat jelas bukan?" jawab Devon dengan tatapan teduhnya. Juga diiringi dengan senyuman dibibirnya.
"Apa sekentara itu? Sampai-sampai kamu yang baru mengenalku saja sudah tau sejauh itu?" tanya Lulu sambil mengalihkan pandangan nya menjadi menatap langit lagi.
"Dari pandangan ku memang seperti itu. Tapi entah jika orang yang melihatnya" jawab Devon sambil mengedikkan kedua bahunya.
Mereka berdua diam. Seperti menyelami fikiran masing-masing, diantara keduanya tidak ada yang mengucapkan sepatah kata pun. Hingga mereka dikejutkan oleh kedatangan seseorang.
"Eh Lu, kamu disini rupanya" ucap seseorang yang menepuk bahunya lumayan keras.
Siapa lagi pelakunya, jika bukan Rina. Dia ternyata baru pulang kuliah, dan dari jauh melihat seperti sosok teman nya Lulu. Setelah berjalan mendekati, benar saja itu Lulu. Bersama seorang pria lagi, Rina semakin semangat untuk menggoda Lulu.
"Kamu Rin, bikin kaget aja. Dari mana atau mau kemana?" ucap Lulu sambil bertanya juga.
"Baru pulang kuliah nih" jawab Rina.
"Ngomong-ngomong, kamu lagi ngapain? Boleh gabung nggak?" tanya Rina sambil mendudukan dirinya disamping Lulu.
"Aku lagi duduk lah masa lagi lari-lari. Sudah duduk baru minta izin. Dasar" gerutu Lulu yang sudah sangat tau akan sikap sahabatnya satu ini.
"Iya aku tau. Ngomong-ngomong dia siapa? Cowo kamu ya?" tanya Rina menggoda Lulu, apa lagi dia sambil menaik turunkan alisnya.
"Oh iya, kenalin. Ini Devon teman aku" ucap Lulu memperkenalkan Devon pada Rina.
"Devon, kenalin ini Rina sahabat aku" ucap Lulu pada Devon.
Devon dan Rina saling berjabat tangan memperkenalkan dirinya masing-masing.
__ADS_1
"Sejak kapan kalian berteman? Kenapa aku tidak tau? Ah, aku tau... Atau jangan-jangan kalian ada hubungan ya...?" tanya Rina dengan memicingkan matanya menatapi wajahnya keduanya.
"Tebakan anda benar sekali. Saya disini sedang melamar Lulu, anda malah merusak suasana romantis saja dengan kedatangan anda diantara kami" jawab Devon dengan ucapan seriusnya.
"Aaaaa, jadi kalian berdua...." ucap Rina heboh dan dia membekap mulutnya sendiri karena terkejut.
"Jadi... Wah parah nih anak, gue nggak dikasih tau. Sahabat macam apa loe? Jelasin. Jelasin bagaimana kejadiannya, dan jangan ada yang terlewat sedikit pun" ucap Rina dengan menggebu-gebu meminta penjelasan dari Lulu dan juga Devon.
"Itu bukan seperti yang kamu fikirkan Rin, dia ini memang teman baru aku. Kita emang sudah sering ketemu, aku kan pernah cerita sama kamu kan tentang laki-laki yang aku ceritain ke kamu" jawab Lulu meluruskan masalah.
"Jadi dia?" tanya Rina.
"Iya, dialah orang nya. Dia itu tadi menggoda kamu saja Rin, kamu kan sudah mengenal aku lama. Masa tidak tau aku seperti apa?" jawab Lulu.
"Tunggu dulu, aku memang serius sama kamu Lulu. Kenapa kamu bilang ini hanya bercanda?" sela Devon tidak terima dengan penjelasan Lulu yang bilang jika dia hanya menggoda saja.
"Waw, jadi anda memang benar-benar serius dengan sahabat saya ini Tuan Devon? Jika memang iya, datangi keluarganya. Bukan malah merayu nya ditempat umum, sungguh tidak mencerminkan lelaki gentle" ucap Rina menyindir Devon jika dia memang serius.
"Jadi aku boleh datang kerumah kamu Lu?" tanya Devon pada Lulu.
"Jika memang mau datang ya, datang saja. Kenapa harus izin segala?" jawab Lulu.
"Oke, nanti aku akan datang untuk meminta kamu pada Ibu kamu untuk menjadi istri aku" ucap Devon sangat menggebu.
"So, apa aku mengganggu waktu kalian berdua?" sela Rina sambil menatap dua orang itu bergantian.
"Jika anda sudah tau jawabannya kenapa masih bertanya?" jawab Devon dengan sinis.
"Wah, anda sudah menyulut api permusuhan dengan saya rupanya" ucap Rina tak kalah sinis.
"Oke, saya terima permusuhan ini" jawab Devon.
"Kalian berdua kenapa jadi ribut seperti ini? Aku jadi takut jika nanti kalian malah saling mencintai" ucap Lulu sambil menunjuk keduanya bergantian.
__ADS_1
"Idih amit-amit" jawab mereka berdua kompak.
Lulu hanya tertawa mendengar jawaban dari Rina dan Devon. Mereka berdua bisa membuat Lulu menjadi ceria dengan tingkah konyol keduanya.