Suamiku Ternyata Orang Kaya

Suamiku Ternyata Orang Kaya
Extra part Rina&Rudi


__ADS_3

Ternyata Ibu dan Ayah nya Rudi sudah ada didalam butik tersebut. Dan sudah menunggu keduanya untuk datang. Tapi tidak kunjung datang juga, membuat Ibunya Rudi semakin khawatir kepada keduanya.


Saat akan keluar butik ternyata mobil Rudi baru saja terparkir didepan butik tersebut. Ibunya Rudi langsung menyambut calon menantunya dengan sangat ramah juga penuh kasih sayang.


"Kenapa lama sekali sampainya? Ibu jadi khawatir pada kalian berdua" ucap Ibunya Rudi sambil menggandeng tangan Rina memasuki butik tersebut.


"Maaf bu, tadi kami mampir kesuatu tempat dulu baru kemari" jawab Rina merasa tidak enak sudah ditunggu sejak tadi.


"Ya sudah tidak apa-apa. Yang penting kalian sudah datang. Kalian langsung pilih gih yang kalian inginkan supaya lebih cepat. Kan habis ini harus mencari cincin juga" ucap Ibu Suryoto pada calon menantunya itu.


"Iya bu. Ibu sendiri sudah mencobanya belum baju yang akan ibu kenakan nanti?" tanya Rina pada calon mertuanya yang sudah dia anggap Ibu nya sendiri.


"Ibu sudah selesai sejak tadi. Tinggal kalian saja" jawab Ibu dengan senyuman nya.


"Ya sudah bu. Aku sama Pak Rudi ingin mencoba pakaian kami dulu" ucap Rina yang langsung masuk dengan diarahkan oleh pegawai butik tersebut.


Rina dan juga Rudi sedang berganti pakaian untuk acara akad nikah nya dulu. Baru setelah itu gaun yang akan Rina kenakan saat resepsi pernikahan mereka berdua.


Mereka sudah selesai dengan baju pengantin nya. Sekarang tinggal beli cincin pernikahan untuk mereka. Rina sudah memilih cincin yang biasa saja. Karena dia tidak ingin yang mewah-mewah karena menurutnya itu sangat berlebihan.


"Apa kalian akan jalan-jalan dulu? Jika iya, Ibu dan Ayah akan segera pulang saja. Ibu sudah lelah seharian ini harus mondar madir" tanya Ibu pada kedua calon pengantin tersebut.


"Iya bu, masa sudah mau menikah malah tidak jalan-jalan dulu. Setelah kami menikah kan Rina akan ikut juga kekota, masa tidak dipuas-puasin dulu untuk jalan-jalan disini nya" ucap Rudi yang memang ingin jalan berdua dengan Rina dan menghabiskan waktu berdua saja hingga malam.


"Baiklah, Ibu dan Ayah akan pulang sekarang. Kalian berdua jangan terlalu malam pulangnya, kalian harus banyak istirahat. Supaya tidak sakit pas acaranya nanti" ucap Ibu pada putranya dan calon menantunya.


"Iya Ibu. Kami akan melaksanakan perintah dari Ibu" jawab Rudi yang langsung memeluk tubuh Ibunya ini.


Setelah Ayah dan Ibunya pergi, Rudi mengajak Rina menuju taman yang memang tidak jauh dari mall tempat mereka membeli cincin pernikahan mereka.


"Apa kamu ingat, jika disini adalah tempat pertama kali kita bertemu?" tanya Rudi yang menatap kedepan sana. Dimana ada banyak orang yang sedang menikmati weekand mereka ditaman ini.

__ADS_1


"Iya, disini juga aku membuat Devon terkapar" jawab Rina yang juga menatap lurus kedepan.


"Kenapa kamu bisa melakukan hal seperti itu pada seorang pria sepertinya? Apa kamu tidak takut jika Devon balik menyerang kamu dan kejadian nya mungkin terbalik" tanya Rudi yang sekarang menatap Rina dengan intens.


"Untuk apa aku takut. Aku hanya ingin memberinya pelajaran saja supaya dia jera dan juga menghargai wanita. Apa lagi wanita itu adalah istrinya sendiri dan sedang mengandung darah dagingnya juga" jawab Rina tanpa mengalihkan pandangan nya dari depan sana.


"Apa yang membuat kamu nekad seperti itu? Apa kamu tidak takut jika kamu dilaporkan pada pihak yang berwajib atas tuduhan penganiayaan?" tanya Rudi lagi masih menatapi wajah rina dari samping.


Karena Rina tidak menoleh sedikit pun padanya. Jadi Rudi tetap bisa memandang wajahnya dari samping dan itu sangat menyenangkan bagi Rudi.


"Awalnya aku tidak takut. Tapi setelah ada seseorang yang bilang seperti itu sempat terfikirkan juga kearah sana. Tapi setelah sekian lama tapi dia tidak melaporkan nya. Dan hingga saat ini aku berada disini juga disisi mu" jawab Rina yang langsung menolehkan wajahnya menatap Rudi.


Sesaat mereka saling pandang dan tidak lama kemudian mereka berdua saling membuang pandangan nya. Dan saling diam satu sama lain.


"Apa yang ingin anda lakukan sekarang?" ucap Rina membuyarkan lamunan Rudi yang entah memikirkan apa.


"Kenapa?" Rudi balik bertanya pada Rina.


"Anda ingin melakukan apa setelah ini? Apa akan tetap disini hingga hujan turun?" tanya Rina lagi saat hari sangat gelap. Bukan karena akan malam, tapi akan turun hujan yang sangat deras.


Sedangkan Rina hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah Rudi yang aneh sekali hari ini. Bahkan terlihat sering salah tingkah jika sedang berdua dengan Rina.


Mereka berdua masuk kedalam coffeeshop. Untuk menikmati me time berdua sebelum pernikahan mereka dilaksanakan beberapa hari kedepan.


"Apa yang sedang anda fikirkan? Kenapa sejak tadi diam saja?" tanya Rina yang memang tidak bisa jika sedang ada teman nya hanya berdiam diri tidak bicara sedikit pun.


"Tidak memikirkan apa-apa. Hanya ingin diam saja, lagi pula inilah saya yang sebenarnya. Tidak banyak bicara dan seperti ini" jawab Rudi yang menjelaskan bagaimana dirinya.


"Oh" hanya itu yang Rina ucapkan sampai ada seseorang yang memanggil Rina dari kejauhan.


"Rin, disini juga loe" ucap seseorang yang tidak lain dan tidak bukan adalah Eric teman dekatnya selama ini.

__ADS_1


"Hai Ric. Sendiri saja?" tanya Rina setelah Eric mendekat kearahnya dan juga Rudi.


"Iya nih, gabut tahu nggak ada loe. Lagian loe kenapa sih susah banget dihubunginya?" ucap Eric yang langsung duduk disamping Rina tanpa melihat jika Rina sedang bersama dengan seorang Pria.


"Kenapa memangnya?" tanya Rina dan dia juga memperkenalkan Rudi.


"Oh iya Ric, kenalin ini Mas Rudi calon suami gue" ucap Rina memperkenalkan Rudi pada Eric.


"Oh, sorry. Maaf Mas, saya tidak tahu" ucap Eric merasa tidak enak pada calon suami Rina ini.


"Iya tidak apa-apa" jawab Rudi yang merasa tidak nyaman dengan kehadiran Eric.


"Mas kenalin, ini Eric teman kuliah ku dan juga teman satu jurusan juga" ucap Rina mencoba menghormati Rudi didepan teman nya ini.


"Iya" mereka saling berjabat tangan memperkenalkan dirinya masing-masing.


"Loe masih betah sendiri aja dari dulu? Kagak bosen loe?" tanya Rina yang lebih santai jika berbicara dengan Eric.


"Ya bosen sih, tapi mau gimana lagi. Jalan hidup gue kayak gini-gini aja kan" jawab Eric yang seperti biasa akan selalu nyerocos jika sudah berdua dengan Rina.


"Loe emang paling ajaib tau nggak. Oh iya, nanti gue bakalan pindah dari sini. Gue mau ngikut suami soalnya, loe jangan nangis ya gue tinggal sendiri disini" ucap Rina yang sengaja meledek Eric yang seperti akan menangis.


"Loe tega banget sama gue. Loe yakin bakalan pindah, dan nggak bakalan kesini lagi?" tanya Eric yang sudah berkaca-kaca menatap Rina.


"Ya, yakin lah. Masa kagak, eh lagian mana ada lakik gue dimana dan gue juga dimana. Aneh-aneh saja sih loe kalo ngaomong" ucap Rina yang menoyor kepala Eric hingga Eric hampir terjatuh.


"Eh Marimar. Yang kira-kira dong loe, loe kira kepala gue ini apaan sampe mau jatoh juga gue" ucap Eric yang ingin membalas Rina tapi melihat Rudi yang sepertinya akan marah tidak jadi.


Eric mengurungkan niatnya membalas Rina dengan menoyor balik Rina. Eric mendekati Rina dan berbisik padanya.


"Lakik loe nyeremin" ucap Eric sambil berbisik dan juga melirik Rudi yang sedang menatapnya tajam.

__ADS_1


"Macem-macem aja sih loe kalo ngomong" ucap Rina yang menggeserkan kepala Eric yang berada didekatnya.


Sedangkan Rudi merasa insecure dengan keadaan ini. Dia merasa sangat tua dibandingkan dengan keduanya yang masih terlihat seperti bocah. Rudi merasa tidak nyaman dengan situasi seperti ini, dia ingin sekali mengusir Eric dari hadapan nya dan lebih tepatnya dari dekat Rina.


__ADS_2