
Jika Devon sedang berusaha untuk bisa memiliki Lulu. Berbeda dengan Danu yang sedang bucin akut, kondisi Soraya juga sudah semakin membaik walau belum seperti sebelum mengalami cidera.
Hari ini adalah hari wisudanya, Soraya sudah mempersiapkan dirinya untuk mendapatkan gelar sarjananya. Danu juga sedang bersiap untuk menemani istrinya, begitu pula dengan Mama Rena dan Papa Wijaya sudah ada dikota K untuk menemani Soraya.
"Sayang, sudah siap?" tanya Danu pada Soraya yang sudah selesai dengan dandanan sederhana nya.
"Sudah Mas" jawab Soraya sambil tersenyum dan menghampiri suaminya yang berada siambang pintu.
"Kamu selalu terlihat sangat cantik sayang" ucap Danu yang sudah menghampiri istrinya.
"Terimakasih Mas, Mas juga selalu terlihat sangat tampan" jawab Soraya sambil tersenyum dan menatap wajah suaminya.
Mereka berdua berpelukan, saling mencurahkan rasa cinta masing-masing. Mereka berdua sudah tidak canggung lagi jika sudah seperti ini.
"Mas, kita harus segera keluar. Mama dan Papa pasti sudah menunggu kita sejak tadi" ucap Soraya mencegah suaminya yang ingin nyosor.
"Hah, baiklah" jawab Danu dengan lemas dan tidak bersemangat.
Mereka berdua berjalan keluar kamar. Ternyata benar, Mama dan Papa Wijaya sudah menunggu mereka berdua keluar dari kamar.
"Kalian ini lama sekali" gerutu Mama Rena yang sudah karatan menunggu.
"Maaf Ma" ucap Soraya sambil menundukan wajahnya.
"Ya sudah, ayo kita berangkat sekarang" ajak Mama Rena yang menggandeng tangan Soraya, menantunya.
Danu tidak bisa protes pada Mamanya, karena sejak mereka baru bertemu lagi setelah mereka baru menikah hingga sekarang.
"Kamu cantik sekali sayang. Pantas saja kanebo kering bisa bucin akut" ucap Mama Rena sambil menyindir putranya yang kaku dan datar seperti kanebo kering.
"Mama bisa saja, Mas Danu kan sekarang tidak seperti itu Ma. Dia sudah lebih hangat dan juga tidak kaku lagi" jawab Soraya membela suaminya yang sejak tadi memandanginya dengan tatapan teduhnya.
"Benarkah sayang? Mama rasa tidak" ucap Mama Rena yang melihat wajah putranya yang masih seperti itu.
"Iya Ma" jawab Soraya sambil tersenyum.
Mereka sudah duduk didalam mobil, dengan Danu yang menyetirnya. Disebelah Danu ada Papa Wijaya, dibelakang sudah ada Mama Rena dan Soraya yang sudah duduk manis.
Danu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, tidak memakan waktu lama mereka sudah sampai didepan gedung universitas tempat Soraya menimba ilmu.
__ADS_1
Ternyata disana sudah ada Rina dan Lulu sudah menunggu nya. Tapi ada sosok asing disamping Lulu, Soraya ingin bertanya tapi waktunya tidak cukup.
"Kalian datang juga, makasih yah sudah mau datang" ucap Soraya pada kedua sahabatnya.
"Iya, jelas kami akan datang dihari bahagia kamu ini" jawab Rina sambil memeluk Soraya.
"Iya Sora, kami pasti datang untuk kamu. Selamat ya sudah lulus dengan cepat" ucap Lulu menimpali.
"Ya sudah kamu masuk gih, sudah waktunya kan" ucap Rina sambil mempersilahkan Soraya dan keluarganya masuk.
"Terimakasih ya nak, kalian mau ikut masuk atau disini saja?" tanya Mama Rena pada Rina, Lulu dan seorang pria yang berdiri disamping Lulu.
"Kami disini saja tante, kami ingin menikmati pemandangan yang sangat indah ini" jawab Rina sambil tersenyum simpul pada Mama Rena.
"Ya sudah, kami masuk kedalam dulu ya" ucap Mama Rena menyusul Soraya dan Danu yang sudah lebih dulu masuk kedalam gedung.
"Mas, kenapa wajah kamu seperti tidak suka menatap mereka? bukankah Mas sudah mengenal mereka?" tanya Soraya saat sudah duduk dibangku yang sudah disediakan.
"Aku memang mengenal mereka berdua, juga laki-laki yang ada disamping sahabat kamu sayang" jawab Danu, tapi ada perubahan diwajahnya saat bilang mengenal laki-laki itu.
"Benarkah Mas? aku justru baru pertama melihat nya, nanti aku berencana untuk menanyakan nya pada mereka berdua" jawab Soraya sambil tersenyum dan menggenggam tangan Danu yang terkepal.
Acara demi acara sudah selesai, Soraya dan keluarganya sudah keluar dari aula kampus. Mereka akan menuju taman kampus, dimana kedua sahabat Soraya sudah menunggunya.
"Selamat ya sayang, kamu sudah meraih gelar kamu dengan nilai yang sangat bagus dan comelaude. Mama sangat bangga atas pencapaian kamu nak" ucap Mama Rena sambil memeluk menantunya dan tidak henti-hentinya tersenyum.
"Terimakasih Ma, aku memang ingin segera lulus supaya bisa meraih impian aku selama ini Ma" jawab Soraya sambil tersenyum lepas dan membalas pelukan Mama Rena.
Mereka berdua mengurai pelukannya, lalu disambut oleh uluran tangan Papa Wijaya. Beliau juga mengucapkan selamat.
Sikap Danu benar-benar membuat Soraya menjadi gelisah, pasalnya Danu tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya. Walau terkesan datar dan dingin, tapi tidak seperti sekarang yang terlihat sangat mengerikan auranya.
Soraya dan kedua sahabatnya saling berpelukan dan saling mengucapkan selamat atas pencapaian Soraya.
"Sora kenalkan ini Devon, calon suami aku" ucap Lulu sambil memperkenalkan laki-laki yang berdiri disamping nya sejak tadi.
"Soraya" ucap Soraya memperkenalkan dirinya.
"Devon" begitu juga dengan Devon yang memperkenalkan dirinya juga.
__ADS_1
Danu melihat itu sudah sangat marah, bahkan dia langsung menarik tangan Soraya yang sedang berjabat tangan dengan Devon.
Sikap Danu yang tiba-tiba, membuat semua orang menjadi heran. Pasalnya Danu tidak pernah bersikap seperti ini, apa lagi didepan umum.
"Mas, sakit" ucap Soraya yang menahan rasa sakit dipergelangan tangannya yang sedang digenggam erat oleh Danu.
Danu yang sudah diselimuti api amarah tidak menghiraukan ucapan Soraya yang sedang merintih kesakitan. Apa lagi kakinya juga belum sepenuhnya pulih, sekarang malah berjalan dengan sangat cepat dan akhirnya...
Bruk
Soraya terjatuh tidak sadarkan diri. Danu yang sedang menggenggam tangan Soraya baru menyadarinya jika yang sejak tadi dia tarik adalah istrinya.
Danu langsung panik, begitu juga dengan Mama dan Papa nya. Mereka membawa Soraya menuju mobilnya dan akan membawanya ke rumah sakit.
Setelah sampai Danu langsung menggendong tubuh istrinya menuju ruang UGD supaya mendapatkan penanganan yang tepat.
Setelah Danu meletakkan tubuh istrinya diatas brangkar, dia disuruh keluar oleh suster. Supaya mereka bisa memeriksa kondisi Soraya.
Jelas saja kejadian itu membuat Rina, Lulu dan Devon menjadi khawatir dan juga bertanya-tanya melihat sikap yang tadi ditunjukan pada Soraya.
Rina, Lulu dan Devon menyusul mereka untuk kerumah sakit. Mereka bertiga sudah sampai didalam dan melihat keluarga Danu yang sedang menunggu Soraya yang sedang diperiksa.
Tanpa diduga, Danu bangkit dari duduknya dan langsung mengha*ar Devon dengan pu*ulan yang sangat keras mendarat diwajahnya.
Devon bingung dengan apa yang dilakukan oleh Danu padanya. Dia merasa tidak memiliki masalah dengannya, tapi kenapa dia langsung memu*ulnya begitu saja.
Devon yang terhuyung langsung ditolong oleh Lulu dan yang lainnya. Baru saja Danu akan melayangkan pu*ulan berikutnya, tiba-tiba seorang suster memanggil.
"Apa disini ada suaminya pasien?" tanya suster tersebut.
"Nak kamu dipanggil" ucap Mama Rena pada Danu yang siap akan melayangkan bogem mentahnya pada Devon.
Danu langsung menghampiri suster yang memanggilnya dan mengikuti masuk kedalam ruang UGD.
"Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Danu begitu berhadapan dengan dokter yang memeriksa keadaan Soraya.
"Anda suaminya?" tanya dokter pada Danu dan dijawab anggukan oleh Danu.
"Mari ikut saya Pak, saya akan menjelaskan diruangan saya" ucap sang dokter dan diikuti oleh Danu dibelakngnya.
__ADS_1
Danu merasa sangat khawatir akan kondisi Soraya, dia benar-benar merasa sangat bersalah. Karena ulahnya Soraya jadi terluka, dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu pada istrinya.