
Laura, gadis berambut hitam sebahu itu, menarik pelan tangan temannya.
"Sin, jadi gimana? Kamu mau nggak? Lumayan loh duitnya buat jajan, orangtuamu nggak usah kirim uang lagi," katanya sambil menaik turunkan alis.
"Em, gimana ya, tapi beneran 'kan kerjanya cuma pacaran sama Om-Om aja?" Sinta bertanya memastikan, suaranya dipelankan, takut terdengar oleh murid-murid yang sedang berlalu lalang.
"Gitulah pokoknya. Mau 'kan? Mau ya! Ayo Sin, mau ya, mau yaaa!"
"Tapi--" Belum sempat Sinta melanjutkan kata-katanya, wali kelas mereka-Bu Riri-menghampiri.
"Sinta, jangan lupa waktu pembayarannya tiga hari lagi, ya. Kita sudah mau ulangan semester genap. Yang buku paketnya belum dibayar nggak boleh ikut ulangan," kata guru berwajah galak itu.
"I-iya, Bu. Pasti saya lunasi," kata Sinta gemetar.
"Janji, ya? Soalnya yang dulu-dulu pasti saya terus yang bayarin dulu hutangmu, demi menutupi malu saya kepada kepada sekolah!" kata Bu Riri dengan tegas, dan memberi tekanan pada kata 'bayarin'.
"Pasti Sinta bayar kok, Bu. Tenang aja, deh!" Kali ini Laura yang menjawab, karena ia juga kurang suka pada guru judes bin killer itu.
Bu Riri menjauh dari mereka, masuk ke ruang guru.
"Aku mau, Ra. Demi buat bayar uang buku, aku rela kerja apa aja, asalkan halal, Ra." Akhirnya, dengan berat hati Sinta menyetujui pekerjaan yang ditawarkan temannya.
"Nah, gitu dong. Kenapa nggak dari dulu aja, waktu aku nawarin kamu langsung iya-in? 'Kan lumayan, Sin. Bisa buat beli baju branded, tas, sepatu, jajan sekolah, bayar buku, bahkan aku kadang ngirim uang buat Ibuku di desa, loh!" Laura bercerita dengan bangga.
"Ah, masa' sih, Ra? Hebat dong kamu. Pacaran sama Om-Om emang sering dikasih duit gitu, ya?"
"Kita pacaran sama Om-Om itu dikontrak, Sin. Nah, biasanya di luar uang kontrak itu aku sering juga dikasih uang jajan, kadang shopping apa aja bebas, orang yang ngontrak kita yang bayarin, makanya aku pacarannya sama yang bener-bener berduit, Sin. Soalnya aku sering dikasih kebebasan buat beli apa aja yang aku mau. Coba kamu lihat aku, semuanya aku punya 'kan?" tanya Laura sambil mengibaskan rambutnya, bangga.
"Iya-iya, hidupmu sih mewah, Ra. Motor ada, baju bagus-bagus, sepatu tiap hari ganti, baju jalan juga kamu punya banyak, nggak kayak aku, bajuku masih baju-baju yang dibawa dari desa aja," lirih Sinta sedih mengingat perbandingan dirinya dengan Laura sangat jauh, bagai putri raja dan upik babu. Padahal, mereka berdua sama-sama datang dari desa.
Waktu berapa lama tinggal di kota juga sama, yaitu dua tahunan, sebentar lagi mereka akan naik kelas ke jenjang akhir.
"Bagus deh kalau kamu udah nyadar. Nah, kamu mau nggak kayak aku juga? Apa-apa serba mewah, makanan tiap hari di kost nggak cuma oseng kangkung sama ikan asin aja, aku malah nggak pernah masak, Sin, selama pacaran sama Om-Om, aku delivery makanan terus."
"Iya, 'kan aku udah bilang tadi, Ra? Aku mau asalkan kerjaan halal."
"Oh, iya-iya, aku lupa Sin, saking senengnya kamu nerima tawaran aku, hehehe. Aku udah ada target buat kamu pacarin, dia temannya Om yang aku pacarin, orangnya tajir melintir, Sin. Nggak jauh beda sama yang pacaran sama aku, pokoknya dijamin kamu pasti senang!" ucap Laura sembari mengacungkan kedua jempolnya.
"Emang kamu udah berapa lama jadi pacarnya Om-Om, Ra?" tanya Sinta penasaran.
"Berapa lama, ya ... kayaknya sudah lama, Sin. Aku kurang ingat pastinya sejak kapan. Yang kuingat waktu itu aku nggak ada uang sama sekali buat bayar buku, sama kaya kamu, karena uang bayar bukunya udah aku pakai buat beli baju, hehehe." Laura nyengir, gingsulnya ikut unjuk keberadaan, hal itu yang membuatnya terlihat lebih cantik.
"Kebiasaan kamu ya, Ra. Masa' Ibumu capek-capek kerja di kampung nyariin uang buat kamu belanja beberapa minggu, malah dihabisin buat hal gituan," cerocos Sinta, sudah kebiasaannya menceramahi Laura jika perbuatan yang dilakukan temannya itu tidak sesuai sebagaimana mestinya.
"Hehe, aku 'kan khilaf, Sin, kalau lihat ada diskon di mall. Langsung serbuu!"
"Serbu-serbu, diskon diserbu, dompet makin tipis, etdah," ejek Sinta.
"Dengerin dulu aku cerita sampai habis," sungut Laura.
"Iya-iya, buruan cerita gimana awalnya."
"Nah, siangnya 'kan aku ditagih sama Bu Riri soal uang buku itu, terus malamnya aku nangis di kost'an-ku, Sin, gara-gara aku bingung mikirin gimana caranya ngembaliin itu uang buat bayar buku. Terus, tante di sebelah kamar ngetuk-ngetuk kamarku, dia nanya kenapa aku nangis, padahal aku nangisnya pelan aja, kenapa dia bisa dengar. Nah, aku ceritain gimana masalahku, dia bilang aku tenang aja, dia ngasih aku solusi, modal percaya diri sama pinter ngerayu Om-Om aja, apalagi katanya aku cantik, pasti bayarannya mahal. Malam itu dia ngajak aku ke caffe, ketemu sama pacarnya dia terus sama satu orang laki-laki lagi, laki-laki itu yang sampai sekarang jadi pacar aku, Sin. Mungkin waktu itu kita kelas sepuluh." jelas Laura.
"Emm, gitu. Jadi malam itu kamu resmi jadi pacarnya Om-Om, cuma jadi pacarnya aja, Ra? Terus dapat duitnya kapan?" tanya Sinta masih kurang paham.
__ADS_1
"Iya malam itu aku jadi pacar Om Heri, dapat uangnya malam itu juga, Sin. 'Kan dia udah ngontrak aku. Kontrak aku sama dia setahun, Sin." Laura menjelaskan
"Whatt?!" Sinta berteriak kaget, Laura dengan cepat menutup mulut Sinta, sebab, beberapa murid tampak mengarahkan mata pada mereka.
"Sstt, jangan keras-keras, dong, Sin. Nanti kalau teman-teman tahu pekerjaan rahasia ini, gimana?!" Laura berbisik sambil melepaskan tangannya dari mulut Sinta.
"Iya-iya, maaf, 'kan aku cuman kaget tadi. Satu tahun, Ra? Iih, lama bener. Nggak takut kamu pacaran sama orang nggak dikenal selama itu?"
"Enggak takut, ngapain takut, orang aku sudah dibayar, mahal lagi, uangnya buaaanyak lho, Sin!" kata Laura dengan semangat, ia selalu gembira ketika membahas uang.
"Banyak itu berapa? Dua puluh juta? Tiga puluh juta?" Sinta semakin penasaran. Baginya, uang jutaan itu sudah sangat besar, maklum, ia hanya orang kampung yang sehari-harinya dulu jarang melihat uang, kalaupun ada, pasti uang hasilnya berjualan kue keliling, upah membantu orangtuanya membersihkan sayuran yang akan dijual, atau upahnya berjualan belut hasil tangkapan di sawah, itupun hanya beberapa ribu saja.
"Lima ratus juta, Sin! Coba bayangin, uang lima ratus juta kamu bisa beli apa aja yang kamu mau!"
"Gilee, banyak banget, Ra! Serius kamu?" Sinta berusaha memelankan suaranya, meski ia kaget. Ia tak ingin siswa-siswi lain mengetahui pembicaraan mereka.
"Serius, kok. Tapi tergantung kamu mintanya berapa, misal kamu mintanya lebih, kemungkinan dikasih juga, kalau aku sih mintanya segitu aja. Menurut aku itu udah banyak banget, belum lagi kadang juga Om Heri ngasih uang juga tapi nggak tiap hari, lumayanlah buat aku jajan, hehehe." katanya sembari tersenyum tipis.
"Eh, tapi kalau misalkan istrinya Om-Om itu tahu kita pacaran sama suaminya, gimana Ra? Aku takut, iih." Sinta bergidik ngeri, terbayang kisah-kisah pelakor yang dijambak dan ditampar oleh istri sah, ia sering membaca kisah ini google.
"Nggak usah takut, pokonya rahasia kita tersimpan rapi, Sin. Omnya nggak bakalan nunjukkin sikap aneh atau cuek di depan istri mereka, pokoknya istri mereka nggak akan curiga, percaya deh sama Laura."
"Iya, aku percaya. Aku pamit dulu ya, Ra. Mau ke kelas," kata Sinta sambil berlalu meninggalkan temannya.
"Loh, loh, loh, kok ke kelas? Ini 'kan waktunya istirahat, kamu nggak jajan ke kantin?" tanya Laura mengernyitkan dahi, kepalanya dimiringkan sebelah, tanda bingung.
"Aku nggak punya uang, Ra. Kiriman Ibuku masih seminggu lagi, terpaksa aku nggak ke kantin, tapi berdiri di sini padahal aroma makanan udah keciuman, tambah joget-joget cacing di perutku, Ra. Hehehe." Sinta menyengir, menunjuk perut ratanya yang lapar.
"Oalah, Sin. Yuk aku traktir, semalam aku dikasih bonus sama Om Heri, karena pernainanku tambah 'hot' katanya,"
"Enggak pa-pa, yuk!" Laura merangkul Sinta agar tidak berkutik, dengan pasrah ia mengikuti langkah temannya.
Antara malu dan senang, akhirnya ia bisa kembali merasakan hangatnya kuah bakso.
Dua insan itu makan dengan lahap, sampai-sampai tidak menghiraukan teman-teman mereka yang menyapa.
Sinta makan dengan lahap karena sejak tadi malam perutnya belum terisi, hanya air putih yang ia gunakan untuk mengganjal perutnya.
Sedangkan Laura, ia makan dengan lahap karena pagi tadi ia kesiangan, tidak sempat memesan makanan lewat aplikasi, ia kesiangan karena malam tadi kecapekan 'bermain' dengan sugar daddy (Om)nya.
Di sela-sela menyuap makanan, Laura mengeluarkan ponsel di kantong seragam abu-abunya, mengetik dengan cepat.
[Berhasil, Om. Tunggu di Caffe Rock nanti malam, kita ketemu. Aku jamin, yang ini cantik, Om pasti suka!]
Send.
Laura menutup aplikasi hijau di gawainya, lalu menyimpan kembali ponselnya, tersenyum penuh kemenangan.
"Kenapa senyum-senyum sendiri, Ra? Kesambet, ya?" Sinta menghentikan suapannya, heran melihat temannya.
"Ah, enggak. Yuk makanannya dihabisin. Oh iya, Sin. Nanti malam ikut aku, ya."
"Nanti malam? Kemana?"
"Ada deh, pokoknya kamu pakai baju yang bagus, ya."
__ADS_1
"Waduh, bajuku semuanya jelek-jelek, Ra. Maklum, baju waktu di kampung. Di kota ini aku nggak pernah beli baju," kata Sinta resah, setiap diajak teman-temannya jalan atau kumpul-kumpul, urusan pertama yang ia khawatirkan adalah masalah pakaian.
"Emm, gimana kalau kamu pinjam baju aku aja? Mau ya, Sin?"
"Iyadeh kalau kamu maksa. Tapi pulangnya nggak malam banget 'kan, Ra?"
"Belum tahu, pokoknya kamu ikutin aja rencana aku, oke?"
"Iyadeh, oke," kata Sinta pelan, fokusnya kembali pada mangkuk bakso.
"Siip!" Laura mengacungkan jempol seraya mengedipkan mata.
"Eh, Ra, katamu tadi kamu dikasih bonus sama Om Heri pacarmu itu, karena permainan kamu 'hot', emang permainan yang hot itu gimana, Ra? Kalian bikin api unggun terus bakar-bakar jagung, gitu?"
"Hahaha, ternyata kamu benar-benar masih polos ya, Sin. Padahal kita udah hampir dua tahunan loh tinggal di kota." Laura tak dapat menahan tawanya, menurutnya, temannya itu benar-benar polos.
"Aku nggak polos kali, buktinya bentukku abstrak gini, ada hidung, mata, mulut. Kalau polos itu mukaku rata, Ra!" Sinta cemberut dibilang polos.
"Haha, iya-iya, maksud aku bukan bentuk fisik kamu yang polos, tapi pikiran kamu, Sin. Masa' umur udah tujuh belas tahun tapi pikiran masih kayak anak SD, nggak paham hal begituan, anak SD di sini udah paham hal gituan kali, Sin." Lagi-lagi Laura tidak dapat menahan tawanya, Sinta makin cemberut.
"Apaan, sih. Nggak lucu kali, aku nggak mau ya dibanding-bandingin sama anak SD, apalagi anak SD di kota, sebel deh!" Sinta mengerucutkan bibirnya, tangannya menambahkan saos tomat ke mangkuk bakso.
"Lucu aja, Sin menurutku, hehe. Nanti kamu bakalan tahu sendiri kok, artinya permainan 'hot' itu gimana,' ucap Laura sambil menghabiskan sisa bakso di mangkuknya.
_____
Malam itu Sinta sudah berpakaian seadanya, ia gelisah menunggu Laura. Sesekali Sinta melirik handphone jadulnya, yang kalau keypad-nya diketik-ketik, makan akan menimbulkan suara berisik, teman-temannya sering mengejeknya dengan panggilan Si Jangkrik. Karena handphone jadul itu ia mendapat julukan.
Sinta tidak menanggapi juga tidak marah saat teman-temannya mengejek begitu. Toh, kenyataannya handphone-nya memang jadul.
Kebetulan, sekolah Sinta tidak melarang muridnya membawa handphone, ia sering melirik-lirik handphone di tangan teman-temannya, Sinta kagum.
"Kapan ya, aku punya handphone canggih kayak teman-teman," guman Sinta suatu hari. Ia iri.
Tapi tak apa, walaupun jadul, masih bisa digunakan untuk menelpon orangtuanya di kampung.
Sinta kembali melonggokkan kepalanya ke jalan gang, siapa tahu Laura muncul, sudah lebih dari setengah jam ia menunggu setelah azan isya tadi.
Sinta mencoba memiskol Laura, karena ia tidak punya pulsa.
'Nomor yang ada tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi ...,' kata operator di dalam handphone-nya.
"Kok nggak datang juga, ya? Padahal udah malam banget ini, aku masuk aja deh, mungkin nggak jadi," ucap Sinta sambil tangannya merogoh kunci pintu di saku roknya.
Belum sampai kuncinya masuk ke lobang, sebuah suara motor mendarat di halamannya.
"Hai, Sin. Maaf lama, tadi aku ada urusan penting, hehehe." Laura cengar-cengir melihat rona sebal di wajah temannya.
"Lama banget, sih, Ra? Kamu muter-muter kota dulu tadi?" tanya Sinta masih menunjukkan wajah sebal, ia paling tidak suka pada orang yang tidak tepat waktu, apalagi pada orang yang tidak menepati janji, ia benci.
***
~~Laura dan Sinta adalah siswi SMA favorit di kota tempat mereka tinggal, mereka berdua awalnya tinggal di desa, dua gadis cantik itu sama-sama berprestasi. Prestasi itulah yang menjadi tiket mereka dari jenjang SMP ke jenjang SMA. Mereka merantau ke kota meninggalkan kampung halaman, keduanya tinggal di kost-kost'an yang tidak jauh jaraknya.
Laura terlebih dahulu mengubah hidupnya dari anak yang polos menjadi gadis binal, pemburu rupiah, dan gadis yang tak pernah puas dengan apa yang sudah didapatnya dari mangsa-mangsanya.
__ADS_1
Lantas, apa yang melatarbelakangi sifat Laura yang materialistis? Akankah hidupnya selamanya dikelilingi oleh uang? Atau justru perbuatan itu mengantarkan dirinya pada sebuah jurang? Jangan lupa, ikuti terus kisahnya agar kamu nggak ketinggalan!