
Eden berbaring dikasur pasien.
"Dokter apa keadaan psikis Eden benar benar sakit." Tanya Jay dengan logat santai.
Dokter lea menatap Eden yang terbaring lalu mengusap kening Eden dan menyentuh poni rambut Eden.
"Psikis nya cukup rumit. Setiap pasien punya pengobatan berbeda. Kita perlu memastikan dengan tepat dari kesalahan psikis berasal." Terang dokter lea.
"Baru bisa menyimpulkan cara pengobatan. Untuk sekarang asal dia baik baik saja kita bisa bersyukur." Lanjut dokter lea.
"Jika anda perlu sesuatu katakan saja Selagi berhubungan dengan pengobatan Eden." Ucap Paman Haza dengan sopan.
Dokter lea tersenyum kecil.
Baginya mendapatkan pasien menjadikan dirinya tertantang dan merasa hidup nya mulai berwarna.
"Lalu bagaimana dengan obat yang anda berikan." Tanya paman Haza yang bingung dengan cara kerja obat yang diminum Eden.
"Obat sama seperti obat penenang pada umam nya jika dikonsumsi terus menerus akan menyebabkan ketergantungan. Jadi ingat untuk jangan mengkonsumsi lebih dari 4 tablet per hari. Itu cukup berbahaya." Ucap dokter lea.
Doker Lea tak memberi kan suntikan apapun karena Eden sudah meminum obat.
Selang beberapa menit Eden membuka mata dan langsung terduduk.
"Hyun-Jae." Ucap Eden yang langsung terbangun.
"Tuan muda. Anda baik baik saja." Ucap paman Haza yang khawatir.
"Eden jika lelah kau boleh istirahat sebentar." Ucap dikit lea.
"Kita pergi Jay!." Ucap Eden dengan raut yang tak bisa ditebak.
Paman Haza segera mengikuti Eden yang langsung berjalan keluar. Dia langsung membawa tas nya.
Dia masuk lift setelah keluar dari lift Eden terhenti.
"Biarkan aku pergi sendiri." Ucap Eden dengan suara datar.
Jelas paman Haza cemas dengan keadaan Eden.
"Tuan muda saya tidak bisa meninggalkan anda sendiri diluar." Ucap paman Haza.
Paman Haza bersikeras untuk tetap menjaga Eden.
sedangkan Eden kekeh untuk pergi sendiri.
__ADS_1
"Berikan aku uang tunai." Ucap Eden dengan nada datar.
Raut nya benar benar seperti menyembunyikan sesuatu.
Paman Haza mengambilkan segepok uang dibagasi mobil.
Eden memasukkan uang itu ketas nya lalu pergi.
Paman Haza khawatir dia tak bisa menolak permintaan Eden
Dia pun segera kembali kerumah dan mengakses tabletnya untuk memastikan keselamatan Eden.
Eden memesan taksi dan menuju suatu tempat yang kurang jelas.
Sebenarnya Eden khawatir pada Hyun-Jae. Dia berusaha mencari nya. Kali ini bukan karena Eden suka pada Hyun-Jae namun karena keyakinan bahwa Hyun-Jae adalah obat penawar untuk nya.
Eden pun turun ditempat iya melihat Hyun-Jae.
sayang sekali Hyun-Jae sudah tidak ada disana. Eden berjalan kesana kemari tanpa sadar dia Berjalan diantara keramaian.
Eden hanya fokus menemukan Hyun-Jae.
Hingga dia melihat sebuah kedai dia menemukan Hyun-Jae yang sedang makan cukup lahap.
Eden menghela nafas lega.
Hyun-Jae masih belum sadar bahwa ada orang disamping nya dia hanya berfikir karena sedikit ramai itu hal biasa.
Seorang ibu datang dan menawarkan menu makanan.
"Namun tanpa sengaja Eden mengucap menu minuman restoran mahal.
Hyun-Jae pun tertawa.
dan saat itu juga menoleh ke Eden. Dia melihat wajah Eden yang samar Samar tersenyum.
"Wa!!." Teriak Hyun-Jae.
"Ba, Bae,Bagaimana kamu. Kamu bisa disini." Tanya Hyun-Jae yang heran.
"Apa ini warung milikmu. Kenapa aku tidak boleh disini." Ucap Eden dengan nada datar.
"Teh dengan gingseng." Ucap Eden memesan.
Ibu itu pun mengiyakan.
__ADS_1
"Hei. Rumah mu seperti kerjaan jadi apa kamu bisa minum dari tempat seperti ini." Bisik Hyun-Jae kepada Eden.
Karena warung itu adalah warung kecil biasa yang harga nya murah. Hyun-Jae sengaja makan disini untuk berhemat.
Eden hanya terdiam.
"Kenapa kemarin kamu langsung pulang." Ucap Eden sedikit malu.
Hyun-Jae menyudahi makanya.
"Tidak masalah. Aku datang mengajak mu pagi tapi kamu tidak bisa jadi aku harus pergi karena urusan ku sudah selesai." Jawab Hyun-Jae berusaha meyakinkan.
Eden menatap koper yang Hyun-Jae bawa.
"Mau kemana." Tanya Eden basa basi.
Wajah Hyun-Jae menjadi sedikit murung.
"Entahlah. Aku masih harus mencari tempat untuk tidur malam ini." Ucap Hyun-Jae dengan berat hati.
Eden tersadar bahwa Hyun-Jae juga tidak masuk kuliah.
"Apa kau diusir dari kos mu.?!" Tanya Eden dengan nada yang cemas.
"Tidak. Aku hanya perlu belajar mandiri. Jangan khawatir aq akan baik baik saja dan tidur nyenyak." Ucap Hyun-Jae yang langsung berdiri.
Eden bingung harus mengatakan apa dia berusaha memberi kan kode kalau dia bisa membantunya.
Hyun-Jae pun bergegas kekasir ndang membawa tas dan koper nya.
"Biar aku yang bayar." Ucap Eden yang sudah ada dibelakang Hyun-Jae.
Hyun-Jae menolak. Dia tak mau direndahkan walaupun sedang dalam kondisi kurang uang.
Eden yang sudah pesan minum mungkin ahirnya tidaujadi meminumnya dan langsung membayar dengan uang tunai.
dia segera mengejar Hyun-Jae.
"Mau kucarikan tempat tinggal yang murah."Ucapnya Eden dengan ramah menawarkan.
"Tidak terimakasih." Ucap Hyun-Jae sambil segera berjalan dan naik bus.
Eden menelfon paman Haza.
"Paman suruh seseorang memberikan hadiah apartemen untuk data orang yang aku kirimkan."
__ADS_1
Ucap Eden....