Sugar Baby

Sugar Baby
Kecurigaan


__ADS_3

"What?! Ih, aku enggak mau hamil, Ra. Nanti Ibuku marah. Aku masih pengen sekolah, pengen kuliah, pengen jadi pengusaha. Gimana caranya supaya nggak hamil, Ra?" tanya Sinta Panik. Ia takut hamil.


"Tenang, Sin. Aku teman setia, enggak akan tinggalan teman dalam keterpurukan, buktinya aku bantu kamu supaya bisa dapat uang banyak. Aku juga nggak akan ngebiarin kemalangan menimpa kamu. Aku bukan teman yang cuma baik di depan saja, aku bukan tipe begitu, Sin," ucap Laura dengan Mantap dan seolah-olah dengan penjiwaan. Kata-katanya dibuat sepuitis mungkin.


"Iya tapi gimana caranya supaya enggak hamil?" tanya Sinta gereget.


"Minum obat KB, Sin. Murah kok, enggak sampai satu juta harganya."


"Raa! Kamu bercanda mululu, deh. Ya udah nanti antarkan aku belu obatnya ke apotik, ya!"


"Siappp!" tandas Laura sambil memasukkan kentang goreng ke mulutnya.


**


Malam ini Sinta sudah dihubungi oleh Om Jaya untuk diam di kontrakan saja, tidak ada permintaan. Sinta senang sekali, karena ia bebas tugas dari melayani Om Jaya, badannya juga terasa pegal-pegal.


Sinta tiba-tiba ingin makan nasi goreng di perempatan jalan dekat kost-an. Ia berjalan dengan santai menuju gerobak jualan. Malam ini suasana cukup ramai, banyak pasangan muda-mudi nongkrong di kursi dekat gerobak sambil menikmati nasi goreng.


Sinta memesan satu piring nasi goreng, dan satu porsi lagi untuk dibungkus. Nasi yang dibungkus itu untuknya makan tengah malam, sekarang ia lebih memilih membeli nasi bungkus daripada memasak nasi sendiri. Toh, uangnya banyak, dibelikan nasi bungkus tiap hari pasti tidak akan habis, 'kan?


Ada satu orang mengantre di depan Sinta, seorang wanita paruh baya. Kemudian sebuah motor matic keluaran terbaru singgah di samping gerobak, seorang perempuan mungkin lebih muda satu atau dua tahun dari Sinta, membuka helmnya, lalu ia memesan nasi goreng tanpa mengantre.


'Mungkin orang kaya,' batin Sinta. Sebab, bisa seenaknya memesan tanpa mengantre dulu.


Tidak heran kalau nasi goreng jualan Pak Yono ini diminati semua kalangan, dari yang miskin sampai yang kaya, mereka sangat menyukai nasi goreng buatan pedagang kaki lima ini. Tak jarang pula, pejabat-pejabat negeri mampir untuk mencoba rasanya yang bikin ketagihan. Sekali coba, langsung pengen nambah. Lagi, dan lagi.


Kini tiba giliran Sinta, nasi pesanannya sudah jadi, Sinta membawa ke pojok meja yang tidak terlalu ramai, tapi dekat dengan gerobak Pak Yono.


Perempuan yang mengendarai motor matic tadi turun dari kendaraannya, mendekat ke gerobak.


"Eh, Neng Vina, cuma pesan satu bungkus, ya? Tumben," celutuk Pak Yono. Tangannya lincah meletakkan nasi dan kawan kawan-kawannya ke dalam bungkusan.

__ADS_1


"Iya Pak. Lagi pengen makan sedikit, hitung-hitung diet," sahut perempuan itu sambil tertawa. Dari omongannya dengan Pak Yono, sepertinya dia pelanggan setia, dan sudah akrab dengan Pak Yono.


"Eh, kemarin-kemarinnya perasaan aku lihat mobil bapakmu, berhenti di depan gang itu," tunjuk Pak Yono pada gang masuk tempat tinggal Sinta.


"Bapakku? Papi maksudnya?"


"Iya, Neng. Terus ada perempuan yang turun dari mobilnya, bawa tas belanjaan gitu, banyak Neng," jelas Pak Yono.


Perempuan yang bernama Vina tadi mengerutkan keningnya.


"Perempuan? Bawa tas belanjaan? Salah lihat kali, Pak!" sergah Vina.


"Ah, nggak mungkin saya salah lihat. Iya 'kan Buk? Kemarin ada perempuan turun dari mobil bawa belanjaan banyak 'kan?" tanya Pak Yono kepada istrinya di samping yang sibuk menggoreng nasi.


"Loh, kok tanya aku sih, Pak? Aku nggak tahu apa-apa, aku nggak lihat," sahut sang istri.


"Itu loh, Buk, yang kemarin aku lagi menyiram halaman, sampean 'kan lagi jemur baju."


"Iya itu sudah bapaknya Neng Vina, sampean kok nggak ingat, dulu beliau sering beli nasi goreng di sini."


"Jadi benar Papi aku ngantar perempuan dengan belanjaan banyak?" Suara Vina tampak ingin tahu.


"Iya Neng, kalau tidak salah ... em, perasaan aku lihat perempuan itu deh, tadi," ucap Minar sambil berpikir sejenak.


Sinta yang merasa dirinya kemarin pulang dari mall dan turun dari mobil mewah persis seperti pembicaraan Pak Yono, merasa tidak karuan. Hatinya was-was, jangan-jangan perempuan yang dimaksud adalah dirinya. Seketika ia merasa kenyang, nasi goreng mengepul bercampur suwiran ayam beserta pernak-perniknya kini tak lagi menarik selera, padahal, tadi ia sangat lapar sekali.


Bagaimana jika benar perempuan bernama Vina itu anaknya Om Jaya? Bagaimana jika Vina tahu kalau ia adalah pacar simpanan sang ayah? Lalu Vina memberitahu ibunya dan mereka melabrak Sinta?


'Oh, tidaaak! Aku bukan pelakor, bukan! Aku hanya pacar gelap dan terpaksa, jangan sebut aku pelakor!' Batin Sinta berperang sendiri.


Nasi goreng yang masih teronggok dalam mulutnya beberapa menit, ditelan dengan susah payah.

__ADS_1


Nasi yang masih banyak di piring ditinggalkannya begitu saja. Hanya nasi yang berbungkus ditentengnya di tangan. Untung saja Sinta mengenakan jaket yang ada penutup kepalanya, jadi ia berusaha menyembunyikan wajah dibalik baju.


"P-pak, i-ini saya bayar nasi dua bungkus, kembaliannya buat Bapak saja," ucap Sinta lirih sambil menyodorkan uang berwarna merah muda.


"Udah makannya, Neng? Kok bentar amat, tumben. Eh, ini uangnya buanyaak banget, Neng!" Pak Yono membolak-balik uang di tangan dengan mata berbinar.


"I-iya, Pak. Tadi lagi asyik makan tiba-tiba sakit perut, kebelet. Udah nggak apa-apa itu semuanya buat Bapak. Lagi ada rezeki lebih, Pak." Sinta membungkukkan badannya lalu pamit.


"Terima kasih banyak ya, Neng. Alhamdulillah rezeki nggak akan ke mana. Cepat sembuh ya, biar bisa makan di sini lagi, Neng!" kelakar Pak Yono dengan gembira.


"Dikasih uang, Pak?" tanya Minar sambil melonggokkan kepala ke arah sang suami.


"Iya, Buk. Baik banget neng Sinta."


"Syukur deh, Pak. Kita doakan semoga rezekinya tambah banyak."


"Iya, Buk. Mungkin dia ada kiriman lebih dari kampung, jadi bagi-bagi rezeki."


"Eh, tapi kok Neng Sinta kayak gugup gitu, mukanya juga umpet-umpetin gitu di balik jaket. Kenapa ya, Pak?"


"Mungkin gugup karena kebelet, Buk. Heh, gosong tuh nasi gorengnya!" pekik Pak Yono.


...


"Pak, boleh aku minta tolong, nggak? Tapi nggak boleh ada orang lain yang tahu, ya!" bisik Vina setelah membayar nasinya.


"Tolong apaan, Neng? Kalau masalah rahasia aman, nggak akan bocor."


"Jadi gini, Pak, aku penasaran banget siapa sih perempuan yang naik mobilnya papi itu, jadi nanti kalau pas ada papi ke sini lagi, dan Pak Yono juga melihat, tolong ambil gambar ya, di foto kan pokoknya!"


"Oh itu, beres, tapi saya nggak janji ya, Neng. Kalau kebetulan lihat baru saya foto kan, kalau pas nggak lihat ya nggak bisa."

__ADS_1


"Sip! Ini ongkos rokok buat Bapak." Vina menyodorkan dua lembar uang ratusan.


__ADS_2