
Mobil Avanza berwarna silver milik Om Jaya berhenti di pinggir jalan raya, ia merogoh saku dan menerima telepon. Wajahnya seketika merah bak udang rebus, Sinta kebingungan melihat lelaki yang resmi menjadi pacarnya itu kebingunan.
"Halo, kenapa Mi?" sapa Om Jaya. Sinta menyimak pembicaraan.
"Em, i-iya, Mi.
"Ini lagi di jalan dari kantor papi, Mami tungguin aja di rumah, ya. Papi segera pulang," ucapnya seraya mengakhiri pembicaraan. Rupanya loudspeaker tidak dihidupkan Om Jaya, sehingga Sinta tidak dapat mendengar suara di seberang sana.
"Sinta, kamu aku antar pulang sekarang, ya. Istriku ingin pergi ke mall. Jalan-jalannya lanjut kapan-kapan saja, ya," katanya mantap.
Sinta hanya bisa mengangguk, padahal tadi ia dijanjikan untuk dibelikan handphone, tadi belum sempat. Sebenarnya hatinya senang juga dengan hal ini, tapi apalah daya, ia tidak bisa mengharap terlalu berlebihan. Ia hanya seorang sugar baby, pacar om-om yang dikontrak. Sementara istri sugar baby-nya adalah ratu yang sah, wanita permaisuri sesugguhnya. Dirinya hanya sebatas wanita penghibur, tidak lebih.
***
Sinta menghempaskan tubuh lelahnya di kasur yang tidak empuk lagi, pasalnya, itu kasurnya dari kecil yang dibawa dari kampung halaman, ia bawa sejak pertama kali ia menginjakkan kaki di kota metropolitan yang keras ini.
Ingatan Sinta menerawang jauh ke peristiwa tadi malam, di mana saat-saat memilukan ketika mahkota paling berharganya direnggut, diambil paksa.
Jika saja ia tak mengiyakan tawaran Laura, pasti mahkotanya masih utuh, masih terjaga, masih sempurna.
Jika saja bukan karena himpitan ekonomi, hidupnya tak akan setragis ini.
Jika saja ada pekerjaan sampingan halal yang bisa dikerjakannya, tubuhnya tidak akan tersentuh manusia yang bukan mahram.
Jika, jika, jika ....
Ting tong ting tong!
Ting tong ting tong!
Bergegas wanita berambut hitam sepinggang itu mencari sumber suara, itu berasal dari atas meja belajarnya.
"Halo ...," sapa Sinta dengan suara lemah. Ia kelelahan.
[Halo, Sin. Maaf ya, aku dan Om Heri tadi pagi pulang duluan, kami jalan-jalan ke waterboom tadi pagi] Suara Laura di seberang sana.
"Iya, nggak apa-apa, Ra," sahut Sinta masih dengan suara lemah.
__ADS_1
[Oh iya, kamu sudah pulang, Sin? Kalau aku masih di mobil, Nih. Nunggu Om Heri ambil uang di ATM.]
"Sudah pulang, kok. Kumatiin ya teleponnya, aku capek ...," ucap Sinta sambil menekan tombol warna merah. Mematikan sambungan telepon tanpa persetujuan Laura.
Toh, ia ada sedikit perasaan benci dengan temannya itu. Tega-teganya dia tidak memberitahu kalau berpacaran dengan om-om adalah dengan berhungan suami istri.
***
Di sebuah rumah mewah tingkat tiga, tampak seorang perempuan berbaju dress warna merah tosca, dengan sepatu hak yang tinggi, serta rambut sebahu yang digerai begitu saja. Lipstik berwarna peach tak lupa menghiasi bibir sensualnya. Namun, kegelisahan bercampur rasa marah tak dapat disembunyikan dari wajah cantiknya. Ia menunggu sang suami tiba.
Orang yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul juga, Om Jaya segera turun setelah memarkirkn mobilnya.
"Ayo, Mi. Katanya Mami mau ke mall?"
"Iya! Lama amat sih, Papi. Tadi malam gimana lemburnya?"
"Lancar, Mi. Papi tadi ada kendala sedikit di perjalanan, jadi nggak bisa langsung pulang ke rumah, mampir di bengkel dulu," jelas Om Jaya sedikit gugup.
"Gitu, ya sudah, kita belanja ke mall. Harusnya sih hari minggu itu Papi waktunya full buat anak istri," cerocosn istri Om Jaya.
"Iya-iya, Hanum-ku sayang. Ayo kita let's go!" seru Om Jaya berusaha menutupi kebohongannya.
Hanum langsung menuju stan pakaian wanita, di sana ia disambut pramuniaga yang tadi menemani Sinta.
"Selamat datang, cari apa ya, Mbak? Bisa saya bantu?" tanyanya seramah mungkin.
"Hmm, saya mencari lingerie terhot dan keluaran terbaru, sudah ada nggak?" tanya Hanum sambil melirik pemandangan di sekitar.
"Owh, ada, Mbak. Mari saya antarkan." Selesai berucap, pramuniaga itu mengantar Hanum. Sementara Om Jaya duduk menunggu di kursi.
Hanum yang ditemani pramuniaga memilah-milah lingerie apa yang cocok untuknya nanti malam. Setelah mendapatkan tiga lingerie super hot, ia membawa ke hadapan Om Jaya untuk meminta pendapat.
"Pi, ini bagus nggak?" tanya Hanum diikuti senyum sumringah.
"Loh, ini bapak yang ke sini beberapa menit yang lalu, 'kan?" Belum sempat Om Jaya menyahut pertanyaan istrinya tentang lingerie, sang pramuniaga terlebih dahulu membuka mulut, rupanya ia baru menyadari bahwa Om Jaya adalah lelaki yang beberapa menit lalu bersama wanita bernama Sinta.
"Eh, masa' sih? Perasaan saya baru pagi ini ke mall, tadi nggak ada," sanggah Om Jaya. Lalu ia menatap lingerie di tangan istrinya. "Cantik, Mi. Beli aja semuanya, kartu kredit punya Mami dibawa 'kan?" tanya Om Jaya mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Sementara Hanum mulai bingung, apakah tadi suaminya benar-benar ke mall? Untuk apa? Katanya tadi mobil masuk bengkel? Apakah suaminya ... ah sudahlah, batin Hanum.
"Oke, aku beli ini saja Mbak. Yuk, Pi." Hanum menggamit lengan suaminya agar beranjak dan menuju meja kasir. Om Jaya mengira bahwa istrinya menganggap hal tadi adalah angin lalu, tapi di sinilah awal bencana berawal.
...
"Tadi Papi ke mall? Ngapain?" Hanum menghujani suaminya berbagai macam pertanyaan ketika mereka sudah sama-sama di dalam mobil.
"Enggak ada. Papi 'kan tadi sudah bilang, aku di bengkel tadi pagi, Mi." Om Jaya berusaha meyakinkan.
"Hmm, oke lah, barangkali tadi Mbaknya salah lihat atau memang ada orang yang benar-benar mirip dengan Papi," kata Hanum sambil merapikan anak rambut yang jatuh ke mata.
"Barangkali, Mi. Jujur loh aku nggak ada ke mall tadi pagi,"
"Iya-iya, aku cepat nyalakan mobilnya, Pi. Aku pengen cepat-cepat sampai rumah dan nyobain lingerie tadi!" ungkap Hanum ceria.
"Mami pasti tambah cantik!" puji Om Jaya.
***
"Gila kamu, Ra! Kalau aku tahu kerjaannya begitu, aku nggak mau ikutin saran kamu!" cecar Laura setelah mereka kembali ke sekolah pada hari senin.
"Sstt, kamu ngomongnya jangan nyaring-nyaring. Untung aja nggak ada yang lewat, semua pada makan di kantin," balas Laura cemberut.
"Sebel deh, ini gara-gara kamu Ra. Perawanku hilang oleh orang yang nggak aku kenal, Om-Om lagi," sesal Sinta.
"Yee, nggak usah munafik Sin. Kamu nikmatin uangnya 'kan? Artinya kamu juga nikmatin kerjaan kamu. Bisa shopping sepuas hati kamu juga!" tandas Laura.
"Hm, jadi semenjak jadi pacar Om Heri, kamu udah nggak perawan, Ra?" selidik Sinta.
"Gitu deh, masa' iya 'gituan' tiap dibutuhkan tapi masih perawan? Kamu aneh Sin. Mustahil deh pertanyaan kamu!"
"Tapi kok nggak hamil, Ra? 'Kan kalian udah sering?"
"Ha ha ha, kamu lucu banget sih, Sin. Kamu emang temanku yang paling lugu!" Laura terbahak mendengar pertanyaan Sinta. Sementara yang punya pertanyaan hanya melongo, bingung.
"Apanya yang lucu, Ra? 'Kan aku cuma nanya, kenapa kok bisa nggak hamil? Bukannya kalau berhubungan badan itu pasti hamil, ya?"
__ADS_1
"Nah, kalau kamu mikirnya gitu, berarti sebentar lagi kamu hamil dong, Sin? tanya Laura masih dengan sisa tertawanya.