
Tiba-tiba Eden ingat sesuatu.
Eden pun melangkah keluar kamar dan mencari Paman Haza dan yaa iya melihat paman Haza yang ada diruang tamu.
"Paman!". Seru Eden memanggil paman sambil melangkah turun dari tangga mewah itu.
Paman Haza yang tadinya sedikit termenung pun menoleh.
"Iya tuan muda,,?". Jawab Paman Haza dengan sopan.
" emmm,,antarkan aku makam ayah dan ibu". Ucap Eden sedikit ragu.
"Baiklah tuan muda saya akan segera siapkan mobil,,anda mau pakai mobil yang mana??". Ucap paman Haza memberi penawaran.
"Mobil yang ngak terlalu mewah,,dan satu lagi sekalian bawa bunga". Ucap Eden.
"Baik tuan muda". Paman Haza mengahiri Pembicaraan dengan menunduk sebagai rasa hormat lalu pergi.
Eden keluar dengan coat panjang warna coklat dengan sweter dengan kerah menutupi leher. Dia Berjalan menuju mobil, paman Haza telah membukakkan pintu dan Eden pun masuk mobil.
Dia duduk dibagian belakang dan paman Haza menyetir didepan. Sesuai permintaan Eden telah tersedia serangkaian bunga disambing tempat duduk Eden. Bunga itu tertata rapih.
__ADS_1
#Pemakaman
Orang tua Eden dimakamkan dengan cara dikremasi dan abunya disimpan dipemakaman umum dan ditempat kan disebuah rak khusus. Setiap rak juga berisi foto orang yang meninggal.
Eden berdiri dan menatap fto ayah dan ibunya sambil memegang seikat bunga.
"Ayah, Ibu... Eden datang,,". Ucap Eden sambil menunduk.
"Maaf,,Eden membangkang, Eden melanggar semua yang ayah dan ibu larang,,,Eden siap menerima akibat yang selalu ayah dan ibu bilang. Hari besok Eden akan jadi mahasiswa,". Ucap Eden sembari tersenyum kecil.
"Tapi jangan khawatir,,Eden akan tetap menjaga warisan ayah. Eden juga janji setelah menyelesaikan kuliah Eden akan meneruskan Ayah Eden janji,,yaa Eden janji".
Eden mulai menangis namun dia berusaha tak bersedih didepan dan mengusap air matanya lalu menaruh bunga yang iya bawa.
"ayah bilang kan perusahaan ayah itu ibarat nyawa untuk ayah,,,kalau begitu untuk menebus kesalahan ku aku juga akan mempertaruhkan nyawaku untuk nyawa ayah yang masih bisa aku pertahankan". ucap Eden penuh keyakinan.
Eden pun menunduk dan merenung.
Eden pun kembali dan melangkah menuju parkiran. Dari jauh terlihat paman Haza yang menggunakan jaz rapih hitam putih dengan dasi yang rapih dia berdiri tegak disamping mobil menunggu Eden datang.
Dari jauh Eden menatap paman Haza dia berfikir bahwa dia adalah salah satu orang yang begitu setia pada keluarga ayahku dia begitu karena dimasa lalu iya adalah teman ayahku. Padahal beberapa kali paman Haza ditawari jabatan yang lumayan namun paman Haza menolak dengan alasan yang macam macam.
__ADS_1
Eden kini sedikit paham dengan paman Haza dia tak mau jabatan karena tidak ingin bersaing karena jabatan dan membuat jarak dengan keluarga ku.
Tanpa sadar Eden tersenyum.
Paman Haza pun tersenyum dan membukakkan pintu namun Eden segera menghentikannya.
"Ngak usah paman aku ngak duduk dibelakang tapi didepan,,". ucap Eden sembari membuka kan pintu depan untuk paman Haza.
Wajah paman Haza menujukkan raut yang tak menentu Eden bahkan tak tau itu ekspresi apa.
Eden pun mengisyaratkan agar paman segera masuk dan Eden berlari kecil menuju sebelah kiri mobil dan masuk mobil.
Susana pun menjadi cangung paman Haza tak bisa mengucap apapaun dan Eden pun serupa Eden pikir tadi sedikit belebihan.
"emm..kalau paman tidak nyaman katakan saja". Ucap Eden yang sedikit ragu.
"Tentu saya tidak tuan muda,,". Ucap paman Haza sambil menyetir.
"Maaf jika respon saya tidak sesuai yang anda harap tuan muda". Terang paman Haza.
"Baiklah lain kali ngak akan aku ulangi,". Ucap Eden sambil menolehkan pandangan melihat tepian jalan yang lumayan ramai...
__ADS_1