
Ahirnya Eden berangkat kuliah dengan dipoles sedikit make up untuk menutupi lebam merah akibat tamparan tantenya.
Eden berangkat dengan supir pribadi karena paman Haza pergi sejak pagi.
Eden memegangi topi hitam dan masker hitam.
Mobil telah sampai tak jauh dari depan kampus. Eden langsung turun dan mengenakan topi dan masker nya. Dia Berjalan sambil menaruh kedua tangannya disaku celana dengan angkuh.
Dia sudah minum obat dari rumah.
Hyun-Jae nampak bersandar di tembok pagar kampus. Dia sudah menunggu Eden sejak tadi.
"selamat pagi Hyun-Jae." Sapa Eden.
Hyun-Jae yang menundukkan kepala langsung kaget dan tersadar. Sebenarnya dia sedang mengumpulkan nyali untuk meminta Eden menemaninya pekan ini.
Namun karna kaget kepercayaan yang dikumpulkan runtuh.
Eden melepas topi dan masker nya agar Hyun-Jae mengenalinya.
"Oh,,Em. Eden." Ucap Hyun-Jae gugup.
"Kenapa kau gugup begitu. kamu sakit,?" Tanya Eden dengan ramah.
"Oh apa Hyun-Jae menunggu ku?." Ucap Eden penuh percaya diri.
"Apah! Menunggu mu. Haha lucu sekali mana mungkin aq menunggu mu..." Ucap Hyun-Jae berusaha meyakinkannya Eden kalau dia tak menunggu nya padahal dia memang menunggu Eden.
Beruntung Minji datang dibelakang Eden.
"Ahh.. minji kenapa kau lama sekali datang." Ucap Hyun-Jae sambil menunjuk minji.
Tentu minji sedikit heran.
"Apa?? menunggu. Menunggu ku??!." Ucap minji.
Eden menoleh ke belakang dan melihat minji.
Minji lebih kaget karena melihat Eden. Dia seperti manekin buatan yang sempurna dengan wajah datar Eden minji mendekat karena terkagum.
__ADS_1
"Apa dia pangeran yang dibicarakan." Ucap minji tanpa sadar.
Hyun-Jae langsung meraih tangan minji yang berusaha menyentuh wajah Eden.
"Woi sadar pacarmu Hajun!." Seru Hyun-Jae sambil menepuk pipi minji.
"Cihh dasar penyakit. Tunggu apa lagi cepat pakai masker dan topimu!." Seru Hyun-Jae pada Eden.
Eden segera mengunakan masker dan topi sesuai perintah Hyun-Jae.
Hyun-Jae juga menyeret minji masuk kampus.
"Temui aku dikantin 2 saat jam makan siang. Ingat pakai masker mu!!." Seru Hyun-Jae sambil berjalan menyeret minji.
Eden mengiyakan permintaan Hyun-Jae.
Eden masuk kelas dan yaa suasana kelas sudah cukup ramai dia melangkah tanpa memedulikan siapapun.
Dia duduk tanpa melepas masker nya.
Seorang perempuan datang dia adalah ketua kelas.
"Permisi. Apa kau bisa mencopot masker mu dikelas." Ucap nya dengan sopan.
"Kalau begitu kau bisa melepas saat dosen datang." Ucap nya sekali lagi lagu pergi.
"Lihat pasti wajah oplas nya gagal makanya dia pakai masker." Ucap salah Seorang laki laki di sisi kanan Eden.
Semua jadi berbisik Eden tak peduli dengan oceh mereka.
Namun Eden benar benar tak terima. Dia pun melepasnya masker nya dan seperti biasa dia masih tampak bersinar bagai Seorang pangeran.
"Dengar aku tak pernah oprasi plastik sekalipun walaupun uangku banyak dan cukup untuk membeli mulutmu." Ucap Eden memperingati.
"Wah..apa oppa sangat kaya. Sudah kuduga bajumu saja terlihat lebih mahal." Ucap salah Seorang perempuan.
"Yahh orangkaya kebanyakan tampan." Ucap salah Seorang lagi.
Laki laki itu datang menghampiri Eden.
__ADS_1
Eden hanya menatap nya dengan raut datar tak peduli.
"membeli mulut ku??. berapa uang yang kau punya.!." Ucap nya dengan nada yang sombong.
Semua berbisik karena tau orang yang ada dihadapan Eden juga merupakan orang yang cukup kaya dan berpengaruh dikampus.
Eden memang diajarkan untuk bersikap angkuh.
Eden berdiri.
"Mau kuberi tau??" Ucap Eden membisikkannya ditelinga anak laki laki yang memakai satu anting itu. Dia nampak seperti anak nakal yang kurang ajar.
"Aku ngak tau seberapa kaya orang tua mu. tapi jika dia hanya punya satu atau dua perusahaan. Kemungkinan besar dia ada dibawah ku. Beruntung aku sangat bermurah hati sekarang." Ucap Eden dengan raut wajah mengancam.
laki laki itu menatap Eden dengan tatapan sinis.
Emosi nya meluap.
Tangannya meraih kerah jaket Eden. Tak Seorang pun berani mengatakan apapun mereka hanya mampu menyaksikan hal ini terjadi.
Tapi bel masuk telah berbunyi pertanda beberapa menit lagi akan ada dosen yang masuk.
Laku laki itu menyudahi nya dan kembali duduk.
Namun dia mengancam Eden.
Eden tak peduli sama sekali.
dosen masuk diikuti seseorang dengan sweter coklat susu dia adalah orang yang Eden kenal. Ya benar itu adalah paman Haza.
Eden tercengang bukan main apalagi dengan penampilan paman Haza yang begitu berbeda.
Karena selalunya paman Haza memakai jas lengkap dengan sangat rapih tapi sekarang jauh berbeda.
semua membisikan banyak pujian. paman Haza sesekali tersenyum pd Eden.
"Hallo semua. perkenalkan namaku Kim Jeya. Umurku emm...21 Tahun." Ucap paman Haza malu malu.
"Kalian bisa memangilku Jey.Mohon kerjasanya." Ucap paman Haza dengan penuh semangat.
__ADS_1
Eden hanya menepuk kening lalu menjatuhkan wajahnya kemeja.
"Hancur kebebasan." Ucap Eden lirih dengan nada kecewa.