
" Oh perempuan itu." ucap Yora dengan nada yang datar.
"Iya Tante. Bagaimana apa itu properti penting?." Ucap Eden.
"Apa bisa kita beli kembali." Ucap Eden serius.
"Tidak bisa. Itu proyek penting." Ucap Yora tegas.
"Lagi pula perobohan bangunan nya sudah dilaksanakan mulai kemarin." Ucap Yora menjelaskan.
Hyun jae menatap Eden penuh harap sejujurnya dia tak mendengar apa yang dikatakan Tante nya Eden.
Eden berusaha menjaga ekspresi wajahnya.
"Oh iya jangan mentang mentang punya banyak uang kau bisa menolong sembarang ora yaa Eden!." Ucap Yora dengan nada tinggi.
Eden tersipu mengerti bahwa Yora mulai memperhatikan Eden.
"Baiklah kalau begitu terima kasih Tante. aku akan pulang cepat." Ucap Eden bersemangat lalu mengahiri panggilan.
Eden menoleh ke Hyun jae.
"Maaf." Ucap Eden lirih dengan nada peduli.
Hyun jae berbinar. Air matanya mengalir cukup deras, padahal Hyun jae berusaha menahan tangisnya.
Eden menepuk bahu Hyun jae lembut.
Eden juga nampak berfikir.
"Kau pasti bohong. Kau kan kaya bagaimana mungkin tidak bisa!."Seru Hyun jae.
Posisi mereka hampir setengah berpelukkan namun Eden beranjak berdiri.
__ADS_1
"Benar karna aku kaya aku punya cara lain." Ucap Eden.
Mata Hyun jae berbinar penuh harap.
Eden tersenyum percaya diri. Dia terlihat seperti malaikat bagi Hyun jae ya masih terduduk dilantai.
"Apa, rencana mu??." Tanya Hyun jae sedikit Ter Isak.
Eden menunjukkan ponsel nya yang berisi barcode card digital.
"Cepat sini ponsel mu ini card milikku. Kau hanya perlu mengabari orang tua mu. sebenarnya itu kamar ku disalah satu apartemen kecil milik keluarga ku." Ucap Eden penuh semangat.
"Berapa biaya sewa nya perbulan." tanya Hyun jae.
Eden terdiam. Dia berfikir Hyun jae akan kaget kalau dia tau kamar apartemen nya bahkan lengkap dengan kolam renang pribadi dan balkon yang cukup luas dan mewah.
"Kau bisa membayar sewa nya sama seperti sewa apartemen lamamu padaku. lagi pula tidak akan ada yang berani menagih jika kau membawa barcode digital yang ku beri." ucap Eden.
Sekali lagi Hyun jae bersujud dan berterimakasih.
setelah selesai.
Eden mengusap rambut Hyun jae dengan lembut.
"Baiklah Karna kau sudah dapat apa yang kau mau sekarang turuti kata kataku." Ucap Eden dengan nada serius.
Hyun jae menatap Eden.
"Apa yang kau mau. Katakan aku siap melakukannya." Ucap Hyun jae setengah tegangan.
Hyun jae membayangkan dirinya mungkin akan diperbudak.
"Jangan pernah bersujud lagi padaku." Ucap Eden dengan raut sedikit kesal
__ADS_1
Hyun jae terdiam.
"Hanya itu saja??." Ucap Hyun jae tak percaya.
"Em.. satu lagi, Kapan kapan ajak aku pergi jajan dipinggir jalan yang ramai yahh." Ucap Eden lagi sambil tersenyum.
"Baiklah aku pergi dulu nanti ku kirim alamat apartemen nya." Ucap Eden sembari meninggalkan ruangan.
Eden melangkah dengan nafas yang lega.
"Ternyata menolong orang sangat menyenangkan." Ucapnya sembari terus berjalan dengan santai.
ternyata Eden berpapasan dengan paman Haza.
"Tuan muda apa kita akan pulang sekarang." Ucap paman Haza dengan formal.
"Iyah tapi sebelum itu tolong berikan arahan ke staff apartemen Lotte untuk menyiapkan kamar VIP ku." Ucap Eden dengan nada riang.
"Tuan ada rencana menginap?." Ucap paman Haza.
"Tidak!. Aku memberikan barcode ekslusif pada teman ku yang kesusahan." Ucap Eden sembari berjalan menuju mobil.
"Apa tuan yakin memberikan hak itu untuk orang lain?." Ucap paman Haza heran sembari mengikuti Eden.
"Yahh. menurut paman bagaimana jika sebuah keluarga terpisah padahal mereka masih sama sama hidup di dunia yang sama?." Ucap Eden.
"Menurut saya sangat realistis jika terpisah nya sebuah keluarga Karna masalah ekonomi. Dunia kemiskinan itu sangat lah kejam tuan muda. Ada kalanya kita terpaksa berada di situasi yang sangat kita benci karna keadaan." Ucap paman Haza menjelaskan dengan sabar.
" Apa tidak punya uang semengerikan itu paman." tanya Eden lagi.
Tak terasa mereka telah sampai di mobil.
Eden masuk mobil dan paman Haza mengotak Atik tablet memenuhi perintah Eden tadi.
__ADS_1
Lalu fokus pada pertanyaan terakhir Eden.
"Yahh kalau tidak punya uang akan sangat sulit bertahan. Mereka tidak bisa membeli semakuk makanan atau bahkan tidak punya tempat tinggal. Mereka memang tersiksa tapi pasti ada hal kecil yang membuat mereka beruntung seperti kesehatan atau bahkan umur yang panjang." Ucap paman Haza sembari menyetir mobil kembali pulang......