
Eden dan Yora saling berebut tanpa disadari adegan itu cukup romantis.
Tanpa sengaja Eden menggenggam pergelangan tangan Yora dengan cukup keras karena Yora hampir mendapatkan ponselnya.
Yora mengeluhkan kesakitan.
"Ah,, maaf Eden tidak sengaja. Apa sakit??." Tanya Eden yang khawatir.
Otak Yora yang pandai pun langsung cepat tanggap dia mengangguk dan berusaha meng ekspresi kan raut wajah kesakitan.
"Aku akan ambil salep agar rasa sakit nya berkurang. Maaf karena terlalu bersemangat."
Eden pun keluar beranjak untuk keluar kamar mencari salep didekat dapur karena disana ada tempat seperti mini apotik.
Dengan sendiri nya Eden membuka pintu tanpa menghiraukan apapun.
Raut licik Yora muncul ketika Eden telah melewati pintu. Wajah senang nya begitu nampak jelas.
Naas Yora masih kurang beruntung Eden sempat mengunci kamar lagi dengan ponsel yang iya bawa.
"Sialan,,pintu nya terkunci dan terbuat dari bahan kramik dan baja mendobrak pun tak munggkin." Ucap Yora sembari meraba pintu.
" Benar benar terjebak. Kali ini akan aku turuti tapi lain kali kau harus membayar kemarahan lu malam ini." Oceh Yora yang mulai menyerah.
Yora berjalan kembali keranjang Eden karena dia cukup lelah dia pun meningkirkan selimut lalu berbaring.
"Hari ini tenanga ku habis." Ucap nya sambil menarik selimut untuk menghangatkan tubuhnya.
Dia juga merasakan kenyamanan karena kualitas ranjang yang tak diragukan lagi.
Yora memejamkan mata dia tidur miring ke arah jendela kamar Eden.
Eden baru saja datang dan melihat Tante nya sudah tertidur.
Eden tersenyum kecil lalu meletakkan salep yang iya bawa dimeja kecil tempat lampu tidur.
Eden menutup tirai dan mematikan lampu yang terlalu terang dan menyisakan dua lampu tidur yang menyala.
Eden tak langsung tidur melainkan dia duduk dilantai dan memandangi wajah Yora yang tertidur cukup pulas.
"Manis sekali." Ucap Eden sembari tersenyum.
Dia pun beranjak dan berbaring disebelah Yora. Dia memeluk tantenya dari belakang.
"tunggu aku jadi dewasa Yora." Ucap Eden dengan nada kecil yang cukup serius lalu memejamkan mata.
__ADS_1
#Hyun-Jae
Hyun-Jae baru saja pulang dari kerja part time nya dia sebenarnya masih cukup kesal dengan Eden dan tantenya.
"Tenyata dia orang kaya. Sekarang aku paham dia begitu sempurna karena berlimang harta. Rumah nya saja begitu besar dan mewah. Lucu sekali dia bisa kuliah diuniversitas yang biasa." Ucap Hyun-Jae sambil berjalan menusuri pinggiran jalan yang cukup sepi.
Hyun-Jae sebelum nya sangat bersyukur memiliki keluarga yang lengkap namun ekonomi keluarganya tak stabil dan bahkan kadang kesulitan.
Hyun-Jae memahami ayahnya yang hanya Seorang pegawai biasa.
Ibu Hyun-Jae tak bekerja karena harus mengurus Jun.
Tak disangka Hyun-Jae bertemu Han jaemin.
Namun saat melihat Hyun-Jae han jaemin malah berpaling.
"Jaemin!." Undang Hyun-Jae.
Namun Han jaemin tetap berjalan menjauh.
Penasaran sikap aneh han jaemin Hyun-Jae pun tanpa ragu mengejarnya.
Sial nya Hyun-Jae tak bisa mengejar han jaemin karena dia masuk gang yang cukup gelap karena tengah malam Hyun-Jae mengurungkan niatnya dan segera kembali menusuri jalan pulang.
Terdengar minji berkata sambil sedikit merintih.
"Hei kenapa kau merintih malam melam begini padaku. Apa ada masalah?" Tanya Hyun-Jae.
"Hajun,, Hajun," Ucap minji sambil sedikit menangis.
"Hajun kenapa.!?. Dia selingkuh?! Atau dia memutuskan mu.?!." Hyun-Jae mencoba menebak nebak.
"Dia akan debut sebagai Idol bulan depan hiks hiks..." Ucap minji.
Mendengar itu Hyun-Jae langsung lega.
"Dasar bodoh seharusnya kau senang pacar mu akan jadi Idol itu kan mimpi hajun sejak kecil. Sebagai pasangan kamu harus ikut senang." Ucap Hyun-Jae dengan santai.
"D Bagaimana munggkin aku senang kalau dia jadi idol berarti sayangnya padaku harus terbagi pada fans huhh.." Ucap minji lagi.
"Kita bicarakan besok aku lelah." Ucap Hyun-Jae sambil membuka pintu dan melepaskan sepatu nya.
"Sampai jumpa besok." Ucap Hyun-Jae sembari mengahiri panggilan.
Padahal minji masih belum selesai bicara.
__ADS_1
Hyun-Jae baru sampai dan melihat ibu nya duduk berhadapan dengan ayahnya.
Terlihat mata ibu Hyun-Jae sayup seperti habis menangis.
"Mama kenapa, Ada masalah?. Kenapa raut ayah juga begitu kosong." Tanya Hyun-Jae yang penasaran lalu duduk disamping ibu nya.
"Sayang mama tidak apa apa ko. Besok lusa ibu akan kembali kekampung bersama Jun."Ucap mama dengan nada yang tabah.
"Loh kenapa harus pulang kekampung. Kita bisa sama sama disini ko." Ucap Hyun-Jae.
"Lagipula Jun juga suka tinggal disini. Mama tau kan Jun senang bermain ditaman kota." Ucap Hyun-Jae.
"Kita harus pindah." Jawab ayah Hyun-Jae.
"Pindah,?! bukannya ayah bilang disini tempat paling murah. sebenarnya apa yang terjadi ma,?!" Tanya Hyun-Jae yang sedikit bingung dan penasaran.
Ayah Hyun-Jae menjelaskan bahwa pemilik apartemen akan menjual gedung yang mereka tinggal i dan berjanji akan membayar sedikit uang rugi bagi yang kelebihan membayar dan yang kurang tidak akan ditagih.
Dalam waktu satu minggu semua peghuni apartemen itu harus pergi.
Ibu Hyun-Jae tak yakin bisa menemukan apartemen yang lebih murah. Belum lagi dengan biaya hidup Jun jan uang kuliah Hyun-Jae.
Maka dari itu ibu Hyun-Jae dan ayahnya berencana agar Hyun-Jae dan ayah tetap dikota sedangkan ibu dan Jun akan tinggal dikampung halaman asal ibunya.
"Tidak. Ibu harus disini kita bisa cari tempat tinggal kecil lainnya asal bersama sama."
Ucap Hyun-Jae sembari memeluk ibunya.
"Hyun-Jae akan terus bekerja sambil kuliah. lagi pula Hyun-Jae bisa kerja berat dan melakukan banyak pekerjaan dalam sehari." Ucap Hyun-Jae yang mulai menitihkan air mata.
Namun ayahnya kukuh agar ibunya tetap pergi kekampung.
Tanpa sengaja ayah Hyun-Jae melontarkan kata yang sedikit menyakitkan hati Hyun-Jae mengatakan bahwa ibu Hyun-Jae dan Hyun-Jae sama sama menjadi beban.
Mendengar itu Hyun-Jae pun marah.
"Apah beban. Apa ayah sadar seberapa aku benci pada ayah!. Jika ayah sedikit pintar pasti kehidupan ku tak pernah seburuk ini!." Ucap Hyun-Jae.
"Bersukur lah karena Hyun-Jae pintar dan selalu dapat beasiswa!. Apa itu cukup merepotkan dan menjadi beban! Katakan siapa yang beban hah!" Seru Hyun-Jae karena tak terima dengan kata ayahnya.
" PLAKKK!" Ayah Hyun-Jae menampar Hyun-Jae.
"Dasar kurang ajar. Ayahmu memang bodoh dan mati matian mendapatkan uang!. Menjilat dan tunduk seperti anjing bodoh demi uang untuk kalian!!."
Ibu Hyun-Jae berusaha menenangkan Amarah ayah Hyun-Jae....
__ADS_1