Sugar Baby

Sugar Baby
Masuk Lembah Hitam


__ADS_3

"Yuk naik, kelamaan nanti Om-nya nungguin," kata Laura tersenyum, berusaha menenangkan temannya yang sedang ngambek.


Sinta merengut, tapi menurut untuk naik ke motor temannya. Mereka menuju kost-an Laura terlebih dahulu, untuk mengganti baju kampungan milik Sinta.


Sekitar tiga menit perjalanan dengan kecepatan sedang, akhirnya mereka tiba di kost-an Laura yang sepi.


"Kok sepi, Ra? Pada ke mana orangnya?" tanya Sinta bingung sambil mengikuti Laura.


"Pada tidur kali, Ibu kost juga kayaknya udah tidur, nggak papa juga kali, kita 'kan nggak ganggu orang tidur," jawab Laura sambil membuka kunci kamarnya.


"Tapi aku nggak apa-apa nih bertamu ke kost-mu malam-malam gini?" Sinta memastikan, siapa tahu peraturan di kost Laura berbeda dengan peraturan di lingkungan kost-nya.


"Ya ngggam papa, Sin, yang nggak boleh bertamu malam-malam itu cowok, kalau tamu cewek boleh aja," kata Laura sambil memilihkan baju untuk Sinta.


"Nih, kamu pakai baju ini, ya. Cepetan ganti bajumu, supaya Om-nya nggak lama nungguin." Laura menyerahkan sebuah dress warna coklat berbahan kain katun, dengan belahan dada yang rendah serta sebuah bolongan pada masing-masing bahunya.


"Yakin nih, Ra? Bajunya kok kurang bahan gini sih? Nanti aku kedinginan gimana?" Sinta menatap bingung pada dress yang di tangannya, ia membolak-balik baju tersebut, memastikan apakah baju itu memang robek atau memang model bajunya yang seperti itu.


"Ya elah, itu bajunya bagus, Sin. Cocok banget di badan kamu yang agak kurus, kalau di aku sih, agak kekecilan, soalnya badanku berisi, he he."


Sinta akhirnya menuruti perkataan temannya, ia mengganti bajunya lusuhnya dengan dress coklat itu. Kemudian Sinta melepas celana panjangnya, Sinta merasa ada yang tak enak di ************ dan pahanya, ia baru menyadari kalau ia tak memakai short atau celana pendek.


"Ra, kamu punya celana pendek nggak? Aku risih nih cuma pakai celana dalam aja enggak pakai celana pendek," kata Sinta khawatir


"Nggak usah pake short, Sin. Gitu aja biar makin seksi, kamu cantik, kok. Percaya deh sama aku. Sekarang duduk di kursi rias aku ya, aku dandanin kamu." Laura menarik tangan Sinta, memaksanya duduk di depan kaca.


"Tuh liat, kamu itu cantik, Sin. Apalagi kalau dipoles sedikit make-up, pasti aura kecantikanmu makin mempesona," ucap Laura mengungkapkan kata-kata sanjungan. Tangannya dengan sigap memolesi wajah Sinta dengan bedak padat, blash on, eyeliner, mascara, eyeshadow, dan tak lupa sebuah polesan di bibir dengan lipstik matte.


"Cantik! Pasti kamu bakalan dibayar lebih mahal, Sin! Kamu bisa beli apa aja yang kamu mau! Kamu beruntung banget, Sin!" Laura menatap kaca di mana Sinta duduk di depannya.


Sinta tak kalah takjub dengan wajahnya, kok bisa jadi cantik gini? Pertanyaan itu yang memenuhi isi kepalanya. Dia menyangka ini adalah keajaiban tangan Laura dalam memolesnya.


"Eh, Ra. Katamu 'kan kontrakmu sama Om Heri satu tahun aja, berarti udah habis dong kontrakmu? Tapi tadi siang kamu bilang masih jadi pacarnya Om Heri? Gimana tuh ceritanya? Aku nggak ngerti, jelasin dong!" Sinta memilin-milin ujung dressnya yang super pendek, di atas lutut, lewat sedikit dari celana dalamnya.


"Iya emang awalnya kontrakku setahun aja, tapi Om Heri ternyata nyaman sama aku, jadinya saat waktu kontraknya habis, Om Heri Perpanjang kontraknya dua tahun," jelas Laura.


"Hem, gitu ya. Kalau kontraknya diperpanjang berarti bayarannya juga Ra?"


"Iya dong, Sin. Masa' mau sih kontrak diperpanjang tapi bayarannya enggak? Rugi dong!"


"Terus, kalau satu tahun kontraknya lima ratus juta, berarti kalau diperpanjang dua tahun, bayarannya berapa tuh?"


"Ya kamu hitung sendiri deh, aku aja nggak bisa hitung karena saking banyaknya, Sin. Yaudah yuk, kita berangkat!" Laura menarik tangan Sinta keluar rumah.


"Eh, kamu pakai wedges aku aja ya, sendal jepit kamu jelek tuh, 'kan nggak cocok dandanan udah rapi tapi sendalnya jelek," kata Laura sembari mengambilkan wedgesnya yang berjejer di rak, banyak sekali.


Laura menyerahkan wedges warna senada dengan baju Sinta, kebetulan ukuran sepatu mereka tidak jauh berbeda.


Tak lupa Laura meminjamkan sebuah tas kecil untuk Sinta, sebagai tentengan di tangan, biar enggak dikira kampungan-kampungan banget.


Sekali lagi Sinta mematut dirinya di kaca depan kost Laura, ia tak bisa berbohong, sebenarnya ia cantik dengan dandanan seperti itu.


Tapi hati kecilnya menolak, memberontak.


Sinta sebenarnya bukan perempuan alim yang pakai hijab. Tapi meskipun jarang pakai hijab, Sinta tetap tahu mana pakaian yang pantas dan mana yang tidak pantas dipakainya. Ibunya di kampung sering menasihati supaya menutup aurat, kalaupun tidak berhijab, minimal kenakan pakaian yang layak dipakai, minimal lengan baju di bawah bahu, dan batasan minimal rok atau celana di bawah lutut.


Tapi sekarang? Sinta melanggar amanah ibunya. Sungguh, hatinya merasa sangat berdosa, tapi ia yakinkan sekali lagi, bahwa ini hanya demi meringankan beban ibunya, untuk membayar harga buku dan keperluannya yang memang sedang habis.


Bahkan tadi pagi, beras persediaannya hanya tinggal segenggam. Ingin ia mencari kerja sampingan sambil bersekolah, tapi sampai saat ini pekerjaan itu belum jua ditemukan. Ingin berjualan makanan kecil, ia tak ada modal.


***

__ADS_1


"Hai, Om. Sudah lama nunggu, ya?" tanya Laura pada lelaki maskulin yang duduk santai menikmati secangkir kopi.


"Sekitar sepuluh menit, ayo duduk dulu." Lelaki itu memberi isyarat pada Laura dan Sinta untuk duduk di kursi yang kosong.


Lelaki itu memanggil seorang pelayan caffe.


"Kalian mau makan apa? Kita makan sama-sama. Jangan sungkan, ayo dilihat dulu menunya!" Lelaki itu menyodorkan daftar menu yang dibawakan pelayan.


Laura melihat-lihat daftar menu, Sinta kikuk sendiri, terlebih saat lelaki satunya lagi yang sedari tadi tidak berbicara itu terus mengamati tubuhnya dari atas sampai bawah, seperti menelanjangi dengan tatapan tajamnya.


"Kamu mau makan apa, Sin? Kalau aku mau steak sama jus jeruk aja," tanya Laura pada Sinta.


"A-aku ngikut pesanan kayak kamu juga, Ra." Sinta gugup sambil menunduk, tidak berani menatap lelaki-lelaki yang duduk berhadapan dengan mereka.


"Oke deh, kalau Om Heri pesan apa?" Laura bertanya pada lelaki di depannya.


"Samain juga deh kayak kamu," katanya lembut. Aroma parfumnya menguar sampai ke hidung Sinta. Membuatnya sedikit mual, maklum saja, Sinta tidak terbiasa dengan bau parfum, karena di kampungnya jarang sekali orang memakai parfum yang berbau tajam seperti punya Om Heri, kalaupun ada, biasanya bernama minyak wangi. Itu pun wanginya lembut, tidak berbau tajam dan bikin pusing serta mual.


"Aku tidak makan, kalian saja." Akhirnya lelaki di samping Om Heri buka suara. Ia merogoh handphone di saku kemeja, lalu beralih tatapannya dari handphone ke Sinta.


Pelayan caffe beranjak pergi, Laura memperkenalkan Sinta pada calon pacar yang akan mengontraknya.


"Kenalin, Om. Ini teman yang aku ceritakan tadi siang, namanya Sinta. Ayo, Sin, kenalan dulu," kata Laura setengah memaksa, sambil menggamit tangan Sinta.


Lelaki itu mengulurkan tangannya,


"Wijaya, panggil saja Om Jaya," katanya.


"S-Sinta ...," kata Sinta gugup, buru-buru ia menarik uluran tangannya. Telapak tangannya berkeringat dingin, basah. Begitu juga dengan keringat di pelipisnya, mengucur deras, beberapa kali menyeka dengan kasar. Padahal, AC di ruangan ini cukup dingin, tapi ia tampak kepanasan.


Tangan kiri Sinta menarik-narik ujung dress-nya berharap bisa memanjang dan menutupi lututnya. Apabila ada yang mengintip dari bawah meja, pastilah celana dalamnya akan kelihatan.


"Nggak usah gugup gitu, Sin. Biasa aja, nanti juga kamu akan terbiasa, nggak usah takut." Laura menyunggingkan senyum.


Sinta menanggapi dengan senyum tipis.


Tak lama kemudian, datang pesanan mereka, Sinta meneguk liur, ia sangat lapar, terlebih bau makanan itu mengunggah selera, seumur-umur, baru kali ini di hadapannya terhidang makanan lezat. Sinta tak sabar untuk mencicipi.


Tunggu dulu, Sinta bingung, bagaimana caranya makan dengan pisau kecil dan garpu?


Selama hidupnya, ia selalu makan dengan tangan, atau apabila makanan yang dimakannya berkuah, ia pakai sendok. Lalu sekarang? Kenapa tidak ada sendoknya? Apakah pelayan caffe itu lupa menyediakan sendok?


Sinta melirik piring Om Heri dan Laura, sama saja. Di piring mereka juga tidak ada sendok. Berarti pelayan tadi tidak lupa. Mana mungkin lupa berbarengan, kalau cuma satu piring yang tidak pakai sendok, baru pelayan tadi lupa.


Sinta mencoba memotong daging, Laura di sampingnya makan dengan lahap, Om Heri juga sama. Sementara Om Jaya sibuk dengan gawainya, sesekali melirik ke arah Sinta dengan ekor matanya.


Pletakk!


Daging yang berusaha dipotong oleh Sinta meloncat ke seberangnya, yaitu ke tangan Om Jaya.


Semua mata di meja itu tertuju pada Sinta. Seketika wajah Sinta merah padam, ia sangat-sangat malu. Ingin rasanya ia menenggelamkan diri ke dasar bumi.


"M-maaf, Om. Sinta nggak sengaja, Sinta nggak bisa--" Belum sempat Sinta menyelesaikan ucapannya dengan gugup, Om Jaya menyela.


"Tidak apa-apa, Sinta. Tidak usah minta maaf. Kamu lucu sekali ya, ha ha ha." Om Jaya tertawa lepas, ternyata ia tidak marah. Laura dan Om Heri juga turut tertawa, pipi Sinta makin bersemu merah.


...


Selesai acara makan yang menimbulkan kesan memalukan bagi Sinta, Om Jaya mengajak Sinta ke sebuah hotel, katanya ada yang dibicarakan, sedangkan Laura dan Om Heri juga masuk ke kamar hotel yang bersebelahan dengan Sinta dan Om Jaya.


Sinta sempat protes, kenapa ia di kamar hotel berduaan dengan laki-laki yang tak dikenal seluk beluknya itu.

__ADS_1


"Kamu mau uang 'kan, Sin? Buat bayar uang buku, bayar SPP, beli baju bagus, tas, sepatu, buat jajan juga?" bisik Laura saat Sinta mencoba menolak dibawa ke kamar hotel.


Akhirnya Sinta pasrah, lagi-lagi kebutuhan mendesak yang membuatnya terpaksa dibawa ke kamar oleh orang tak dikenalnya.


Sinta duduk di pinggir ranjang dengan seprei warna putih, matanya menyapu pemandangan kamar.


Sungguh ia takjub dengan barang-barang mewah di sekitarnya. Bagaimana tidak, selama hidupnya baru kali ini memasuki tempat bernama hotel. Ia merasa seperti orang kaya, ia memang sering melihat sinetron di TV tetangganya di kampung, kamarnya mirip sekali dengan ruangan yang ia tempati sekarang.


Om Jaya mengunci pintu setelah tadi menelepon seseorang di luar, ia tersenyum lalu duduk sangat dekat dengan Sinta.


"Kamu cantik sekali, Sinta. Aku suka wajah manismu," ucap lelaki itu membuka percakapan.


Sinta gugup, ia tak berani memandang Om Jaya.


Om Jaya meraih tangan Sinta yang gemetaran, lalu tangan lainnya meraih dagu Sinta, mensejajarkan dengan wajahnya yang mempunyai rahang kokoh.


Cup!


Sebuah kecupan di bibir membuat Sinta sangat terkejut.


Hatinya bergejolak, antara ingin marah dan ingin lagi merasakan sensasi nikmat itu.


"Kamu tenang saja dengan bayarannya, kamu bisa sebutkan berapa jumlah yang kamu mau," lirih lelaki itu di telinga Sinta.


Sinta menelan air liur dengan susah payah, keringat dingin kembali menjalari tubuhnya.


"A-aku mau--" Sinta gugup sambil menepis tangan nakal yang bergerilya di paha mulusnya.


"Berapa, sayang? Lima ratus juta? Seratus juta? Sebutkan sesuka-mu!" Om Jaya berkata dengan suara lebih berat daripada tadi, suara yang dibalut nafsu setan!


"A-anu, emm, aku mau li-lima ratus juta ...," lirih Sinta ikut terpancing lelaki penuh nafsu itu.


"Baiklah, akan kuberi uangnya setelah kau bersenang-senang denganku, anak manis. Jangan lupa, lima ratus juga untuk satu tahun!" Om Jaya melepas kancing kemejanya.


Sinta deg-degan, jantungnya hampir copot melihat pemandangan di depannya. Baru kali ini ia melihat pria bertelanjang dada, terlebih lagi, bulu-bulu halus di dada pria di depannya itu terlihat mengerikan di mata Sinta.


Om Jaya tersenyum penuh arti sambil melucuti pakaiannya sampai habis, ia kini beralih pada Sinta. Memaksa Sinta melepas bajunya, Sinta berontak, ia tak menyangka akan seperti ini, perkiraannya, ia hanya berpacaran dengan Om-Om, lalu diberi uang, bukan dengan dipaksa-paksa seperti ini.


"Tolong! Tolong!" teriak Sinta berusaha menjauh. Tapi ia kalah cepat, Om Jaya menarik tangannya, lalu menggendongnya ke kasur super empuk, membebaskan tubuhnya tanpa sehelai benang pun.


"Aku mohon, lepaskan aku hiks hiks ...." Sinta tersedu-sedu di dekapan Om Jaya.


"Lepaskan? Ha ha ha, kau anak yang manis juga gadis yang bodoh! Bagaimana aku bisa melepaskanmu jika kau sudah terikat kontrak denganku? Jangan pura-pura bodoh, anak manis. Memangnya temanmu itu belum memberi tahu apa pekerjaanmu sehingga dibayar begitu mahal?"


Sinta menggelengkan kepala, tentu saja ia tidak tahu dan tidak menyangka, dalam hal ini, Laura telah menipunya. Tega sekali dia! Sinta berkali-kali mengeluarkan sumpah serapah untuk Laura, tapi sia-sia, tak ada yang mendengarnya. Laura sendiri tengah bersenang-senang dengan sugar daddy-nya di kamar sebelah. Mereka dipisahkan oleh dinding semen.


Saking marahnya dan sibuk mengutuki Laura, Sinta sampai lupa kalau ada lelaki asing yang menjelajahi setiap jengkal tubuhnya, menjijikkan!


Sinta berkali-kali menendangkan kakinya ke badan Om Jaya, dan tangannya berusaha mencakar-cakar, tapi lelaki itu lebih kuat daripada dia, ia mengunci gerakan Sinta, Sinta tak dapat berkutik, hanya pasrah saat Om Jaya mulai menikmati jerit tangisnya.


Perih, sakit, dan pilu, yang dirasakan Sinta Saat itu, bagaimana tidak? Ia sangat menyesal mengiyakan ajakan Laura.


'Maafkan aku Ibu, aku tak bisa menjaga amanah-mu, aku sangat berdosa kepadamu, Bu. Maafkan aku ....' kata Sinta dalam hati, air matanya mengalir semakin deras, berusaha menahan perih yang teramat sangat.


Sementara lelaki tak berperikemanusiaan di hadapan Sinta, menikmati setiap jeritan gadis malang itu. Ia puas! Ini kedua kalinya ia menikmati manisnya madu seorang perawan, yang pertama kali tentu saja adalah istrinya.


Tapi sayang, bagi Sinta itu bukan saat yang bahagia, ia amat marah, benci, kesal, juga putus asa. Ia berharap hidupnya akan berakhir saat itu juga.


Om Jaya tersenyum penuh kemenangan melihat tubuh gadis malang di bawahnya lesu, tanpa ada perlawanan lagi.


Ia bangga telah merenggut manisnya madu sebelum waktu panen yang sesungguhnya.

__ADS_1


__ADS_2