
Eden mulai sadar badannya benuh bintik merah. Itu Adalah iritasi akibat bahan kain yang murah.
Namun dia berusaha tak menghiraukan bintik merah ditubuhnya.
Dia melihat kabeh kabel diruangan itu sudah penuh dengan sambungan.
"Hei kau lihat apa?." Tanya Jaemin.
"Emm... Bukankah menyambung kabel kabel itu berbahaya." Tanya Eden dengan ragu.
Han jaemin menepuk pundak Eden.
"Haha. Tentu saja kabel ngak akan membuat ku putus asa dong,, Makanya aku sambung tanpa ragu." Ucap jaemin sembari sedikit tertawa.
Eden juga melihat sekitar yang cukup kamuh tak terawat.
"Apa kau bisa tidur nyenyak disini." Ucap Eden yang sedikit heran.
"Yaa tentu. Didunia yang kejam ini asal masih ada atap aku akan tidur pulas." Ucap jaemin.
Samar Samar raut wajah nya menyimpan beban yang begitu berat.
"Aku akan bersiap dengan leptop ku besok pagi. Kau istirahat lah dulu." Ucap jaemin menasehati.
Tiba tiba Perut Eden berbunyi pertanda dia lapar.
Tentu kejadian hari ini menguras tenanga dan pikiran Eden.
Melihat hal itu Jaemin menghela nafas dan beranjak memasak mie didapur yang letaknya dipojokan.
Eden duduk sambil menunggu karena yaa dia memang benar benar lapar. Eden juga sesekali menggaruk tubuhnya.
Eden sadar ponsel dan uang nya tertinggal di tas.
__ADS_1
jaemin datang dengan sepanci mie kuah berisi banyak sayur.
Bau yang begitu sedap memenuhi ruangan yang sedikit redup itu.
Ditambah hujan yang masih terdengar membuat masakkan jaemin makin menggoda selera.
"Kau makan dengan nasi. Itu nasi terahir yang aku punya." Ucap jaemin sambil menyodokan semanguk kecil nasi instan yang sudah matang.
Eden merasa malah jika harus makan nasi sendirian. Karena dikorea Nasi adalah makanan yang tak semua orang bisa memakan nasi disetiap makan.
Eden pun membagi nasinya dengan tersenyum kecil.
"Aku tidak makan banyak nasi." Ucap Eden.
Ahirnya sesi makan bersama sambil bertukar cerita pun berlangsung.
"Dilihat dari tampang mu kamu seperti orang kaya." Ucap jaemin.
Eden menatap jaemin.
Jaemin hanya mengangguk angguk mungkin memang tebakannya salah.
Jaemin juga sesekali melihat Eden mengangguk tubuhnya. Dia mulai sadar terdapat bintik merah dipipi Eden.
"kamu kenapa?!" Tanya jaemin sambil mendekat ke Eden.
Eden sedikit gagap karena rasa gatal nya memang tak bisa ditahan.
"Buka bajumu cepat!." Ucap jaemin yang tau itu gejala alergi.
"Apah..Tidak mau!" Tegas Eden yang langsung berhenti makan.
Ahirnya jaemin lah yang membuka baju Eden secara paksa.
__ADS_1
Dan yaa Beberapa kuliah perut Eden mengelupas dan banyak bintik merah.
"Aku tidak apa apa ko." Terang Eden dengan nada tenang.
"Apa kau sinting kulit mu mengelupas kau bilang baik baik saja!. Kau pikir jika terjadi apa apa aku akan tangunggjawab hah.!" Ucap jaemin yang langsung pergi mencari obat.
"Sial tidak ada obat alergi sama sekali." Ucap jaemin.
Iya terlihat berfikir.
Yah walaupun sedikit bar bar jaemin bukan orang yang bisa melihat orang lain terluka. dia tipe orang yang ngak bisa gengsi kalo liat orang kesusahan.
"Sungguh aku tidak papa." Ucap Eden menenangkan jaemin.
"Diam saja disitu aku akan beli obat." Ucap jaemin sambil berjalan keluar gudang.
"Ingat jangan pernah keluar lewat pintu kiri disana!!." Ucap jaemin memperingati.
Eden menatap pintu kiri. Tak ada yang spesial disana kecuali kabeh kabel yang ada ditembok dan entah apa fungsi nya.
Eden duduk dan masih sedikit gelisah dengan keadaan tante nya.
Hari mulai gelap Jaemin baru saja datang.
Dia langsung menyodorkan obat dan sebotol air mineral.
"Minum lah dengan tenang lalu tidur. Ku juga lelah." Ucap jaemin yang langsung membaringkan badan di kasur lantai yang cukup besar itu.
Setelah minum Eden berbaring dan memikirkan tantenya.
"Jaemin,,." Undang Eden dengan nada lembut.
"Emmm..." Ucap jaemin sembari menutup matanya.
__ADS_1
"Terimakasih banyak." Ucap Eden lagi.
Namun jaemin tak menjawab.....