
Setelah selesai diner Yora kembali kekamar dengan anggun.
Eden tersenyum sambil memperhatikan setiap langkah tantenya.
Belum sampai 3 langkah Yora memutar tubuhnya menghadap Eden.
"Sudah cukup diner nya. Sekarang cepat bawa aku pulang!." Ucap Yora yang geram dengan Eden.
"Wah wah Tante pintar akting kenapa tidak jadi artis saja hahaha." Ucap Eden sambil tertawa.
Yora mengerutkan bibir.
"Aku mau pulang sekarang juga." Ucap Yora serius.
Eden mulai menanggapinya dengan serius pula.
"Emm bagaimana yah kita ada dikapal selam dan tidak ada tempat untuk mendaratkan jet atau helikopter pribadi." Ucap Eden menjelaskan.
"Bukankah seharusnya Tante menikmati kemuliaan ku sekarang."Ucap Eden sembari menatap nakal mata Yora.
"Uhh membayangkan ada didasar laut saja membuatku sesak rasanya hampir mati." Ucap Yora sembari mengelus napas panjang.
"Aku tak mau tau kita harus pulang sekarang juga!." Tegas Yora.
"Cukup sulit Tante." Ucap Eden masih belum menyanggupi.
"Apa?!. Hei uangmu sangat banyak kenapa tidak bisa." Ucap Yora yakin kalau Eden pasti punya cara.
Yora tau jika tetap tinggal Eden akan makin menjadi dari awal Eden benar benar bersikap begitu dewasa.
" Benar uangku banyak. Tapi aku tidak mengeluarkan uang untuk hal yang percuma." Ucap Eden.
"Coba tawarkan imbalan yang akan aku dapat.'' Ucap Eden sembari meminum sisa anggur digelasnya.
Wajah Yora mulai kesal. Namun sekarang yang paling penting adalah pulang.
"Wah dasar kurang ajar." Ketus Yora.
"Dengar aku tidak akan pernah tidur disampingmu selamanya jika kau tak segera membawaku pulang." Jerit Yora yang kehabisan kata kata.
Mata Eden melebar.
__ADS_1
"Tante,,,." Undang Eden lirih.
"Apa kau tiba-tiba tuli jangankan tidur di ranjang mu menjadi istri mu juga aku tidak lagi Sudi." Ucap Yora lagi.
"Tidak, Aku kan sudah janji Tante." Ucap Eden yang langsung berdiri hampir memeluk Tante nya.
Yora menghindarinya.
Eden mulai berfikir keras dan termenung sejenak.
Berbalik dan menelfon seseorang.
"Aku harus pulang sekarang antar sebuah kapal lain untuk membawa jet pribadi." Ucap Eden sedikit buru buru.
"Maaf tuan muda kondisi dipermukaan air sedikit kurang baik untuk membawa kapal besar berisi jet pribadi." Jawab seorang dari telfon nya itu adalah penangung jawab di pelabuhan kapal selam ini.
" Apa menurutmu aku peduli dengan hal seperti itu." Ucap Eden dengan suara mengerikannya.
"Ba,,ba,,baik tuan muda. kami akan siap kan kapal lain kami akan sampai sekitar 2jam di lokasi tuan." Jawab nya.
Eden mematikannya.
"Bagus. Aku akan siap siap ganti baju." Ucap Yora dengan nada datar yang puas.
"Kau tidak mau mencium ku dulu?." Tanya Eden pada tantenya.
Yora acuh dan tetap melangkah ke kamarnya untuk ganti baju.
Eden menghela nafas.
Benar dua jam kemudian kapal selam mulai naik ke permukaan. Ada satu kapal lain yang begitu besar dan atasnya pun begitu luas seperti pelabuhan apung.
Mereka pun melakukan perjalanan.
Esok hari.
Seperti sebuah mimpi Yora telah tidur dikamar mewah Eden.
Yora bangun berada dipelukan Eden.
Yora menatap Eden dengan lembut. Mulai dari alis rapih eden dan juga bulu mata lentiknya perpaduan yang tidak manusiawi itu lebih seperti sebuah lukisan.
__ADS_1
Rambut yang sedikit acak acakan seperti disengaja untuk menambah kesempurnaan Eden.
Beralih ke bibir Eden.
Tatapan Yora terhenti.
"Bisa gila aku." Ucap Yora dalam hatinya.
Dengan hati hati Yora melepaskan pelukan Eden.
Eden masih terlelap.
Yora duduk dengan hati hati dan sesekali menguap dan merenggangkan badan.
Tanpa disadari gerakan Yora membuat Eden bangun.
"Kenapa sudah bangun." Ucap Eden pelan.
"Aku tidak enak jika keluar kamarmu dan banyak pelayan melihat nya." Ucap Yora.
"Kau mau tinggal berdua saja yah." Ucap Eden tersenyum lalu ikut duduk.
"Hey bukan, bukan itu maksudku!." Ucap Yora lagi.
"Kalau tante mau aku bisa menyiapkan acara pernikahan besar suapaya kau jadi nyonya dirumah ini." Ucap Eden sekali lagi mengoda Yora.
Yora menatap Eden dengan kesal dan merasa dipermainkan.
"Sudahlah kau tak akan paham situasinya." Ucap Yora langsung beranjang.
Namun lagi lagi Eden segera menikam ponsel pintar khusus pembuka pintu.
"Brengsek kau mau mempermainkan ku lagi." Ketus Yora.
"Cium aku." Ucap Eden dengan raut psikopat nya.
Benar Yora tak bisa membujuk Eden.
Jadi Yora menyerah. Dia dengan berani meraih leher dan menciumnya.
Eden cukup puas dengan itu.
__ADS_1