
Eden melanjutkan lelang dengan seksama. Wajahnya nampak serius namun tetap terkesan santai.
"Membosankan." Ucap Eden sembari menarik nafas dan menyangga kepalanya.
Paman Haza menoleh.
"Apa tuan mau pergi dari sini." Ucap Paman Haza.
Eden nampak berfikir dan ter ingat yora.
"Paman dimana ponsel mu." Ucap Eden.
Paman Haza segera merogoh saku dijas hitam nya dan memberikan ponsel nya.
"Apa anda perlu menguhubungi seseorang." Ucap Paman Haza.
Eden terus berbincang tanpa mendengarkan pembicara.
"Paman kira kira perempuan paling suka dengan benda apa??." Ucap Eden dengan raut penasaran bagai kelinci yang tak tau apa apa.
Paman Haza tersenyum menatap wajah tampan Eden.
"Tidak ada perempuan yang bisa menolak wajah rupawan anda tuan muda." Ucap Paman Haza sembari memegang bahu Eden.
Eden meraih dagunya.
"Benarkah. Pantas saja tante selalu menghindari tatapan ku." Ucap Eden tersenyum kecil begitu manis.
"Baiklah aku ingin kencan Dieropa. Paman pesankan aku tiket ke eropa." Ucap Eden dengan wajah sedikit memohon.
"Baik tuan muda saya akan memesan tiket khusus untuk anda. Tapi tuan bagaimana dengan senjata yang tuan beli?." Ucap paman Haza.
"Sewa laboratorium terbaik dan buat serum dengan komposisi racun paling mematikan." Ucap Eden yang seketika menunjukan raut licik.
Paman Haza mencatat permintaan Eden ditabletnya.
"Ingat paman aku tidak suka kalau musuhku langsung mati. Buat mereka merasakan sakit yang sayang menyiksa." Ucap Eden lagi.
Paman Haza benar benar tak habis pikir dengan Eden yang mampu mengontrol emosi dengan Baik.
"Tunggu urus liburan ku dulu dengan tante paman." Ucap Eden setengah merajuk.
Itu benar benar lucu membuat paman Haza tertawa kecil. Eden benar benar mengemaskan sesaat dia bisa menjadi singa liar Tapi sesaat iya bisa semanja kucing rumahan.
Paman Haza tanpa sengaja mengusap rambut Eden.
Tapi Eden tak menolak.
Tentu saja orang dibelakang Eden melihat Itu dengan tatapan sinis.
"Wahh gila siapa dia berani memegangi kepala anak sultan. Cari mati yaa." Bisik semua orang yang hadir dilelang.
Eden melirik kearah mereka dengan tatapan membunuh yang tinggi.
"Diam atau ku beli mata kalian." Ucap Eden.
Semua orang menelan ludah karena takut.
"Cihh mari pergi paman punggungku risih dengan sampah menjijikan seperti mereka." Ucap Eden yang berdiri lalu meninggalkan ruang lelang diikuti paman Haza.
Eden berjalan sembari memelihat fto yora diakun Instagram diponsel paman haza.
__ADS_1
Eden tersenyum raut nya benar benar berseri.
#Kantor yora.
Yora duduk dengan raut wajah was was. Anda tau kenapa yora demikian?.
Diatas meja kerjanya ada bok cincin mewah lengkap dengan satu cicin berlian bercorak biru muda dengan disain elegan mirip seperti makhota kecil.
Dan didepannya ada JJ dengan tatapan seyuman.
Suasana hening.
Yora menggaruk kepala dengan sedikit menepuk nepuk kening.
"Mimpi buruk macam apa ini." Ucap yora tak percaya.
"Kau tidak mimpi nona saya ingin meminang mu." Ucap JJ dengan nada yang ramah namun tertera jelas JJ melakukan ini bukan tanpa alasan.
"Dasar bedebah licik bermulut manis." Ucap yora picik.
Alis JJ naik sebelah menandakan iya berpura pura tak mengerti.
"Hei Aku ini gadis tua yang tak mudah dibodohi. Jadi jangan berfikir aku akan mengikuti rencana mu." Ucap yora sambari memutar kusi nya.
Raut JJ mulai kesal.
"Benar Kau memang gadis tua. Tapi apa salahnya menikah dengan ku. Ku beritau jika Kau menikahiku kamu akan Jadi nyonya besar. Dasar perempuan bodoh hanya menjawab iya saja susah." Cetus JJ.
Yora tak membalik kursinya.
"Ini baru Tuan Jo Jio." Ucap yora licik.
Badan tegap nya sungguh akan membuat semua gadis tergoda.
Yora menatap JJ yang berdiri didepannya.
Nampaknya Yora juga sedikit terganggu dan berdebar merona. Wangi semerbak aroma yang lembut dari tubuh JJ membuat yora hampir tak berdaya.
"Apa Kau yakin menolak ku menjadi suamimu." Ucap JJ sembari menampakkan kharisma nya yang begitu memukau.
"Kau tidak menyesal?." Tanya JJ sekali lagi dengan ramah seolah dia benar benar mengeluarkan suara selembut malaikat.
Yora ketar ketir mengahadapi rayuan JJ dalam benaknya tersirat pikiran mengenai usianya yang makin lama makin menua.
Ditambah sekilas yora membayangkan mendapat seorang bayi lucu dengan rambut mirip seseorang. Seseorang itu tak lain adalah "EDEN!!".
Benar yora ingat ketika Eden mengajukan permintaan untuk menikahinya kelak.
Ketika tersadar wajah JJ berada begitu dekat dengan yora.
Yora hampir mendorong JJ namun tepat saat posisi mendorong pintu terbuka dan yaa itu Eden yang datang dengan raut berseri.
Namun melihat yora dan JJ begitu dekat Eden muram.
Mata yora melebar melihat Eden yang terlihat sedikit muram.
Berbeda dengan JJ yang merona senang.
Yora mendorong JJ sekuat tenanga.
JJ terdorong.
__ADS_1
"Ahh maaf sekali Eden Kau Jadi melihat nya." Ucap JJ sambil melangkah mendekati Eden yang masih ada dipintu.
"Dasar brengsek Kau pikir Eden akan percaya denganmu!." Ucap yora yang kesal karena merasa dimanfaatkan.
Raut wajah Eden benar benar marah.
"Anak kecil memang mudah dibodohi." Ucap JJ yang melewati Eden.
Eden menahan tangan JJ dan berbalik. Tatapannya penuh kemarahan.
"Aku harap dimasa depan Kau tidak malu dengan apa yang barusan kamu katakan." Ucap Eden dengan nada menggancam.
JJ pergi.
Eden menatap yora dengan tatapan dingin.
Eden juga melihat cincin diatas meja.
Raut wajah Eden berubah nampak sedikit panik.
"Apa JJ melamar tanteku??." Tanya Eden dengan raut menggemaskan.
"Yaa bisa dibilang begitu." Ucap yora sambil mengalihkan pandangan karena tak mampu menahan tawa melihat Eden yang awalnya akan begitu cemburu namun nyatanya dia lebih khawatir dengan sebuah cincin mewah dimeja itu.
Eden berfikir mungkin tante nya menerima lamaran JJ karena Cincin nya ada dimeja yora.
"Tante tidak lupa kan aku lebih kaya dari JJ. Aku juga lebih tampan darinya." Ucap Eden dengan nada yang sombong yang terkesan merendah.
Yora beranjak dan mendekati Eden.
Yora berusaha meledek Eden yang begitu imut.
"Emm bagaimana yaa JJ benar benar maco dengan pakaian saja dia begitu tegap dan bahunya begitu lebar." Ucap yora meledek Eden.
Yora duduk disofa yang ada diruang kerjanya.
Eden termenung.
Dia berdiri dan membalik badan menatap yora yang duduk sambil menuang teh.
Eden dia perlahan melepas kancing kemeja putih nya.
Yora masih belum menyadarinya.
"Apa perlu aku ingatkan kalau tubuhku juga bagus." Ucap Eden dengan nada datar.
Mendengar ucapan itu yora langsung menoleh ke Eden sambil melotot.
Eden telah melepas kancing kemejanya. diatara jas hitam dan dasi lurik yang elegan terlihat dada Eden dan samar samar perut nya yang begitu sexy itu membuat yora kaget sekaligus marah.
Bisa bisanya dia benar benar membuka bajunya demi membuktikan nya langsung.
Eden hampir menyilakkan jas nya agar makin terlihat jelas.
Yora langsung berlari dan mencegah Eden membukanya.
"Iya iyah!. Tante hanya becanda.!." Ucap yora sembari menahan jas Eden. Yora menunduk.
"Kalau memang mau lihat buka saja tante." Ucap Eden dengan nada polos yang menjengkelkan.
Itu membuat yora begitu tersipu malu.
__ADS_1