
Mendengar ucapan Eden yang cukup tulus itu hati Yora merapuh.
Mengingat dulu sempat diperlakukan semena mena oleh orang yang yang punya banyak uang.
Belum lagi beberapa pelecehan sexsual yang membuat nya merasa begitu kotor didepan Eden yang begitu polos. Air mata Yora menetes dari mata kanan nya karena Yora tak pernah bermimpi mendapatkan ucapan semanis itu.
Eden melihat Tante nya melamun dan meneteskan air mata. Eden jadi merasa khawatir dan berfikir dia mengatakan hal yang salah.
"Jika tante tidak mau tidak masalah. Eden minta maaf jika membuat tante sedih." Ucap Eden sambil beranjak berdiri lalu menghampiri Yora dan mengusapkan air mata Yora.
Yora masih terlarut dengan rasa hina dia benar benar merasa tak pantas untuk siapapun. Pikiran itu terus meracuni Yora membuat dirinya tak mampu mencintai siapapun dia terus terusan menahan rasa sakit hati karena harus menjauhi banyak laki laki sempurna yang baginya tidak pantas mendapatkan perempuan murahan yang berlumur dosa. Membayangkan semua laki laki yang melecekannya saja membuat Yora ingin segera mati dan meninggal dunia yang seperti neraka.
Eden jadi bingung harus melakukan apa dia pun ber inisiatif untuk memeluk tantenya.
"Tante Eden ngak tau masalah apa yang tante hadapi tapi Eden yakin tante tidak bersalah sama sekali. Jangan menyalahkan diri sendiri." Ucap Eden berharap tante nya bisa tenang.
Ucap an Eden terdengar oleh telinga Yora. Itu membuat Yora tersadar.
Yora berbalik memeluk Eden dengan erat lalu menangis menumpahkan segala rasa dalam dirinya.
"Menangislah sekuat tenanga, Eden akan diam dan mendengar kan tante." Ucap Eden.
Tentu saja Eden pun pernah merasa ingin menjerit karena bosan sendirian. Dia juga tau dihatinya dia ingin menangis dengan keras. Namun Yora menguatkan hatinya. Paman Haza juga membuat nya kuat.
"Kenapa aku sebegitu menjijikannya!!. Kenapa??." Ucap Yora sambil menangis. wajahnya tertutup oleh pelukkan Eden. Yora sesekali memukul tubuh Eden sedikit keras.
__ADS_1
Namun Eden tak menghiraukan rasa sakit nya dia tau itu tak sebanding dengan apa yang tengah dirasakan tantenya.
"Tante sama sekali tak menjijikan ko." Ucap Eden menenangkan tante nya.
Yora melepaskan pelukan Eden dan menatap ke arah Eden dengan tatapan yang begitu menyedihkan.
"Aku sangat bersukur karena kamu sepolos ini. jika tidak aku tidak tau apa yang akan terjadi." Ucap Yora sembari menangis didepan Eden.
"Tidak, Eden memang ditakdirkan untuk jadi begini." Ucap Eden sembari tersenyum kecil.
"Tante, mari saling menguatkan. Tante menolong Eden jadi Eden juga harus menolong tante." Ucap Eden sembari memegangi wajah Yora dengan lembut.
Hati Yora luluh dengan ucap Eden Dia menatap wajah Eden dengan penuh harapan.
Biasanya tak banyak laki laki yang memperlakukan perempuan bekas seperti Yora selembut ini. Yora selalu mendapatkan tatapan merendahkan dari laki laki yang tau masa lalu Yora.
Namun Sikap Eden berbanding terbalik dengan laki laki yang telah ditemui Yora.
"Apa kau sungguh tidak jijik padaku." Tanya Yora sekali lagi.
"Kotor atau suci itu tidak ditentukan sekali. Kadang air yang bening bisa membawa bencana. Tapi Tanah yang kotor dan busuk justru menjadi berkah karena banyak tanaman yang bermanfaat bisa tumbuh diatasnya. Semua itu tergantung sudut pandang orang orang." Ucap Eden lagi memberikan pribahasan.
Ucapan Eden mengukuhkan hatinya.
"Jika tiba waktunya aku bersedia menjadi istri mu kelak. Tapi aku juga enggan jika suatu saat kamu menarik ucapan mu. Aku berjanji padamu Eden." Ucap Yora yang mulai terbawa suasana.
__ADS_1
"Aku menunggu hari itu tiba tante." Ucap Eden yang tersenyum manis.
Tangan Yora meraih leher Eden dan membuat Eden sedikit menunduk.
Yora memberi hadiah sebuah ciuman yang lembut.
Eden yang sedikit kaget pipinya memerah dan jantung nya berdetak cukup keras. Eden menutup matanya sembari menikmati hadiah dari Yora.
Mata Yora masih sedikit basah karena air mata.
sesekali tatapan Eden dan Yora saling bertemu saat ciuman lembut itu berlangsung.
Yora menyudahinya dan menatap Eden sambil menelan ludah karena sedikit malu melihat wajah Eden yang benar benar memerah.
"Cepat lah mandi. dan bersiap pergi kekantor." Ucap Yora yang langsung menuju meja disana ada setelan baju kantor yang rapih.
Eden hanya mengangguk karena masih kehilangan kata kata.
Begitu pula dengan Yora dia pun berjalan keluar kamar Eden.
Didepan pintu iya tersenyum kecil sambil menyentuh bibirnya.
Eden yang mandi pun masih sedikit berdebar.
"Jantungku seperti mau meloncat keluar." Ucap Eden sambil mandi.....
__ADS_1