
Pelajaran telah berahir dan ini adalah jam makan siang.
Eden beranjak dari tempat duduk nya. Paman Haza mengikuti nya dari belakang.
Dilorong yang agak sepi Eden berbalik.
"Paman ku mohon nikmati saja sekolah mu." Ucap Eden yang sadar bahwa paman Haza mengikuti nya sedari tadi.
"Tidak bisa tuan muda. Saya ada disini karena anda. dan satu lagi tolong pangil saya Jay, krasa itu sangat keren." Oceh paman Haza.
Eden hanya menggelengkan kepala sambil menghembuskan nafas seakan pasrah.
Eden melanjutkan melangkah dan paman Haza mengikuti nya.
"Jadilah temanku." Ucap paman Haza dengan nada seakan meminta pertemanan. Logat ucapannya seperti anak seumuran Eden.
Eden berhenti.
" Iya, Jadilah teman Jay. kalau kau terus menganggap ku Haza yang terus melindungi mu pasti akan terlihat mengkang kan." Ucap paman Haza sembari melangkah didepan Eden.
"Jika kita berteman pasti sangat menyenangkan bukan." Ucap paman Haza yang benar benar seperti Seorang mahasiswa.
Paman Haza mengulurkan tangannya.
"Jadilah temanku Eden." Ucap paman Haza dengan raut penuh harap.
Mata Eden masih tidak percaya.
"Ternyata paman pandai sekali berakting." Ucap Eden yang tercengang dengan tingkah paman Haza.
"Baiklah kita teman, Jey." Ucap Eden sambil menjabat tangan paman Haza.
Mereka pun saling tersenyum lalu melanjutkan langkah menuju kantin.
"Kau tau dulu waktu aku jadi mahasiswa aku bahkan tak punya satupun teman." Ucap paman Haza sambil meletakan kedua tangan di belakang kepala.
__ADS_1
"Kenapa, bukanya paman pandai." Ucap Eden.
"Jay bukan paman." Ucap paman Haza dengan suara sedikit lantang.
"Ah, Iya maksudku Jay." Ucap Eden dengan nada yang belum terbiasa.
"Aku pintar dan itu alasan mereka menjauhiku. mereka hanya mendekat i ku untuk menjawab soal soal yang susah." Ucap paman Haza.
"Tapi sekarang aku seperti reingkarnasi bisa masuk kuliah lagi dan punya teman." Ucap paman Haza.
"Bagaimana kalau aku coba jadi anak yang nakal sekarang." Ucap paman Haza.
"Apa Jay ngak malu dengan umur sendiri." Ucap Eden.
Ucapan Eden mengingat kan umur paman Haza yang tak muda lagi.
Bangku di kantin 2 hampir penuh banyak anak perempuan disana.
Hyun-Jae, minji dan Mina duduk saling berhadapan.
"Kenapa kalian berdua mengikuti ku sii." Ucap Hyun-Jae yang risih dengan minji dan Mina.
"Benar aku sangat penasaran mendengar nya dari Minji saja seperti nya tidak masuk akal." Ucap mina.
"Huh, Aku sudah menceritakan dengan setujur nya dia memang tidak seperti manusia dia seperti malaikat." Ucap Minji yang berusaha meyakinkan Mina.
"Selera mata mu rendah sekali ya. padahal dia bisa saja tuh." Ucap Hyun-Jae.
Terdengar bisikan pujian dari perempuan yang ada disekitar kantin.
"Brisik sekali." Gerutu mina.
"Yah pasti dia sudah disini." Ucap Hyun-Jae lirih.
Eden menoleh kanan dan kiri karena ramai sejujur nya Eden enggan namun karena ada Hyun-Jae iya jadi sedikit tenang.
__ADS_1
Hyun-Jae bangun dari tempat duduk.
"Woi kau, disini!." Seru Hyun-Jae kearah Eden.
Eden dan Haza pun melangkah dengan segera.
Semua mata tertuju pada Eden dan Haza yang begitu memukau.
Minji pun menoleh, begitu juga dengan mina.
Tentu mereka juga terkagum.
"Benar benar racun." Gerutu Hyun-Jae dengan suara kecil.
Eden datang tanpa topi dan masker nya. Hyun-Jae menatap dengan tatapan sinis.
Paman Haza masih ada disamping Eden.
"Apa ini teman mu Eden?." Tanya paman Haza menunjuk minji dan Mina.
"Ohh bukan. hanya Hyun-Jae teman ku." Ucap Eden.
"Rasanya kita salah tempat." Ucap minji.
"Hyun-Jae teman kami jika kau teman Hyun-Jae tentu harus berteman juga dengan kami." Ucap mina dengan nada sedikit ngegas.
"Benarkan begitu Jay." Tanya Eden.
"ya kurang lebih begitu." Ucap paman Haza.
"Perkenalkan aku Jay teman Eden." Ucap paman Haza memperkenalkan diri dengan sopan.
"Hay, aku minji. dan ini Mina, satu lagi Hyun-Jae." Ucap minji memperkenalkan diri.
"Ayo pergi." Ucap Hyun-Jae dengan nada datar.
__ADS_1
Semua pun heran.
Hyun-Jae minta pergi karena risih ditatap banyak orang dan menjadi pusat perhatian....