
Sinar matahari berlomba-lomba menerobos lewat gorden yang tersingkap, berusaha memelototi dan menghakimi manusia berbeda jenis kelamin yang belum sah dalam balutan selimut warna oranye.
Sinta mengerjap-ngerjapkan matanya, separuh nyawanya belum terkumpul, ia berusaha mengumpulkan ingatan tentang dirinya yang tiba-tiba berada di ruangan bercat abu-abu ini.
Sinta mengucek matanya ke sekian kali, berusaha ini hanya mimpi, kenapa kamar kost-annya tiba-tiba berubah bentuk?
Sinta berusaha bangkit hendak menuju jendela kaca yang merupakan media masuknya kehangatan sang surya.
"Awww!" teriaknya ketika menyadari ada beban berat yang menahan pinggangnya. Sinta tidak menyadari kalau tadi ada tangan kekar melingkar di tubuhnya, ia kesulitan bangkir.
'Hoamm!' Pemilik tangan kekar itu tersadar dari mimpi indah, terganggu dengan wanita yang berusaha menyingkirkan lengannya.
"Em, Sinta. Sudah bangun, sayang?" Ia mengucek-ngucek mata.
"Jangan mendekat, Om. Stop!" Sinta melompat dari ranjang, ia beringsut ke pintu kamar, memutar-mutar pegangan pintu tapi terkunci.
"Sinta mau kabur? Enggak mau uangnya, dong?" Om Jaya malah menggoda Sinta dengan mengedip-ngedipkan matanya.
Seketika Sinta ambruk, ia menangis tersedu-sedu, rupanya ingatannya sudah pulih semua. Lebih terkejut lagi, saat mendapati tubuhnya yang tak mengenakan sehelai benang pun. Mata Sinta dengan cepat memindai di mana letak pakaiannya. Baju serta pakaian dalamnya berceceran di beberapa tempat, mungkin karena saking dipaksanya ia semalam, hingga tidak memedulikan lagi keberadaan kain penutup tubuhnya.
Sinta memungut bajunya lalu memakainya, didapatinya beberapa sobekan di bagian dada, pinggang, serta robekan halus lain di beberapa bagian. Akan tetapi ia tetap mengenakannya, lumayanlah untuk menutupi tubuhnya, daripada tidak pakai sama sekali, 'kan?
Om Jaya tersenyum geli melihat tingkah laku sugar babby-nya itu. Ia menyingkirkan selimut lalu beringsut bangun hendak mengambil handuk di lemari hotel yang sudah disediakan.
'Aaaaaa!' Sinta berteriak tiba-tiba, membuat Om Jaya yang ingin mencari handuk itu ikut-ikutan kaget, refleks menoleh ke arah Sinta.
"Sinta kenapa? Ada hantu, ya? Mana hantunya?" tanya Om Jaya sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia menghampiri Sinta.
"Stop! Jangan dekat-dekat, tutup 'itunya' Om!" Sinta menunjuk ke badan Om Jaya sambil tangan lainnya menutupi wajah.
"Ha ha ha, kau lucu sekali, Sinta. Oke-oke, aku akan menutupinya, tapi setelah mandi," ucapnya sambil meraih handuk putih dan melilitkan di badan. Om Jaya meraih satu handuk lagi, lalu berjalan ke arah Sinta.
"Nih," ia menyodorkan handuk, "Sinta mau mandi duluan? Atau mandi sama-sama?" godanya.
"Tidak! Pergi!" Sinta meraih handuk yang disodorkan, lalu beranjak menjauh.
Om Jaya hanya tersenyum tipis, lalu beranjak ke kamar mandi.
Sementara Sinta diliputi perasaan bersalah, sedih, marah, kecewa, kesal, sebal, semua bercampur jadi satu. Ia galau. Tangannya meremas handuk di pangkuan, dadanya kembang kempis, tak terasa air matanya luruh juga. Berkali-kali ia mengutuki diri sendiri, menganggap sungguh menjijikkan dirinya saat ini.
"Aku benci, aku benci!" raungnya sambil mengentak-entakkan kaki. Kini ia berguling-guling di lantai kamar, bagai anak yang tantrum, kemudian duduk dan mengacak-acak rambutnya, menendang-nendangkan kaki ke lemari, tak lupa kasur yang menjadi saksi bisu menjijikkan itu diobrak-abriknya.
'Aaaaa!' geramnya kemudian.
Om Jaya yang baru saja keluar kamar mandi terkejut dengan keadaan ruangan yang acak-acakan. Ia segera menghampiri tersangka yang mengacak-acak kamar hotel itu.
"Sinta, bisakah kamu diam sebentar saat aku mandi?"
Sinta yang mendengar itu menjadi marah, ia menganggap bahwa semua salah dirinya, padahal ia adalah korban.
"Puas kamu?! Setelah apa yang kamu peroleh dariku, setelah mahkota yang paling indah milikku kau rebut?!" racaunya kemudian menangis. Ia tersedu-sedu. Om Jaya yang paham akan kondisi Sinta, segera memberikan pelukan, berusaha menenangkan.
"Mandilah, habis itu kita sarapan. Jangan siksa dirimu, nikmati saja alurnya ...." Suara lirih pria yang semalam menodainya, kini serasa terasa menyadarkan kesadarannya akan perilaku kesetanannya.
Sinta masih bergeming, Om jaya meraih tangannya lalu menuntun ke kamar mandi. Menutup pintunya dari luar.
__ADS_1
Krieet!
Sinta kembali membuka pintu dengan wajah bingung.
"Loh, belum mandi juga?" tanya Om Jaya sambil menggosok rambut dengan handuk.
"A-aku, Em, tidak punya baju ganti ...," lirihnya.
"Oh soal itu, jangan dipikirkan, kau mandilah dulu, aku akan mengurus baju gantimu. Mandilah ...." Om Jaya meraih handphonenya di atas nakas, lalu menggeser-geser layarnya.
Sinta kembali menutup pintu kamar mandi, ia melepas pakaian dan meletakkan di gantungan pintu.
Untung saja, kamar mandi itu menyediakan fasilitas dua macam, yaitu mandi dengan shower atau dengan bak mandi. Sinta memilih yang bak mandi, ia terbiasa mandi menggunakan gayung. Sedangkan shower, baru kali melihat beda asing itu di dunia nyata.
Selesai membersihkan badan, Sinta lekas membalut tubuhnya dengan handuk. Kemudian ia keluar kamar mandi. Pemandangan pertama yang menyedot perhatiannya adalah sebuah tas plastik yang tampilannya mewah berada di atas kasur. Om Jaya membalikkan badannya dari kaca jendela.
"Itu buatmu, pakailah. Sebentar lagi kita sarapan ke restoran Gladia II," katanya dengan mantap sambil menunjuk tas di atas kasur.
Ragu-ragu Sinta melirik ke arah barang yang disebutkan. Tangannya perlahan meraih tas plastik mewah itu, seumur-umur baru kali ini dia memegang benda seperti itu, biasanya hanya Kresek jinjing biasa yang digunakan untuk menampung sayuran ketika ia berbelanja di tukang sayur.
Ternyata di dalam tas itu ada lagi bungkusan, Sinta meraih kain berwarna abu-abu yang kelihatan ujungnya. Sinta membentangkan kain itu, ternyata sebuah dress yang mirip dengan bajunya tadi malam yang dipinjam dari Laura. Sinta memuji kecantikan baju itu, ia sangat kagum dibuatnya.
Ada satu bungkusan yang menindih dress abu-abu itu, dengan cekatan Sinta membukanya.
"Waw! Cantik banget!" seru Sinta sambil menutup mulutnya. Ia mendapati aneka make up, seperti bedak tabur, bedak padat, lipstik, eyeliner, eyeshadow, blush on, dan brush make up. Seumur-umur baru kali ini ia memiliki alat danda mewah seperti itu, sedangkan di kost-annya dia hanya memakai bedak tabur my ba*y. Om Jaya menoleh ketika mendengar Sinta berseru, ia hanya tersenyum tipis dan penuh misteri.
Barang lain yang terdapat dalam tas plastik itu adalah seperangkat pakaian dalam wanita, tentu saja untuknya.
"I-ini semua ... untuk Sinta?" tanyanya ragu dengan mata berbinar.
"Ma-makasih, Om. Tapi uang kontraknya dibayar kapan, Om?"
"Hem, sebentar lagi, aku tidak punya uang cas di tangan. Oh iya, apa kau masih belum paham tugasmu, anak manis?" Om Jaya berjalan mendekat, dengan jarak sepersekian senti, ia dapat mencium wangi sabun mandi di tubuh Sinta, menggairahkan.
"E-eh, maksudnya tugasku seperti tadi malam?"
"Em, ya. Kapan pun aku membutuhkan, kau harus bersedia, karena kau sudah dikontrak. Uang kontrak bersih lima puluh juta. Sedangkan nanti saat shopping, kau boleh berbelanja dengan uangku, semua aku yang menanggung!" serunya tegas. Pria itu mulai kembali memegang dagu Sinta.
"Permisi, a-aku mau pakai baju," elak Sinta sambil menenteng dress abu-abu dan pakaian dalam. Ia berjalan menuju kamar mandi.
Meskipun tubuhnya sudah dilihat oleh lawan jenis, bahkan dicicipi, ia masih sangat malu jika tubuhnya terlihat oleh lawan jenis.
Selesai memakai baju, Sinta ragu-ragu melangkah ke arah cermin besar.
"Sempurna, cantik sekali!" Pujian lantang keluar dari mulut pria yang menodainya.
Sinta tak bisa menyembunyikan senyumannya. Ia suka disanjung. Kemudian ia meraih sisir dan mengeringkan rambut. Sebab, tak lama lagi mereka akan meluncur ke restoran, penampilannya dituntut sempurna.
***
Sinta tampak lahap menikmati sarapannya, begitu juga dengan Om Jaya. Setelah selesai makan, Om Jaya mengajak Sinta ke ATM dahulu, lalu membawa Sinta ke mall, untuk membeli keperluan apa saja yang ia inginkan.
'Waw, bagus banget sepatunya, bajunya juga bagus-bagus, tas, jam tangan, kalung, anting-anting, semua bagus-bagus!' puji Sinta dalam hati.
Om Jaya yang mengetahui binar kekaguman di mata Sinta, kembali tersenyum tipis. Baginya Sinta adalah gadis desa yang baru saja terjun pada kehidupan kota. Masuk ke mall dan restoran saja sudah merupakan hal paling asing bagi gadis desa itu. Om Jaya tersenyum tipis sekali lagi, ia suka dengan sikap Sinta.
__ADS_1
Ketika itu juga, Sinta melupakan kejadian yang menimpanya tadi malam. Sekarang, pikirannya dipusatkan pada barang-barang cantik yang tak pernah dilihatkan seumur hidup. Jangankan barang-barang yang ada di dalam mall, melewati pintu mall yang berputar saja sudah hal paling mewah, apalagi bisa berbelanja di mall, sungguh hal luar biasa!
Sinta akan mengenang peristiwanya berbelanja di tempat mewah ini, bagaimana tidak? Sedari kecil sampai terakhir mudik beberapa bulan lalu, ia dan keluarganya hanya bisa membeli baju rombengan, atau dalam artian baju bekas. Baju bekas yang dijual di pasar desanya adalah baju yang masih layak pakai, walaupun kadang terdapat beberapa bolongan pada kainnya. Per lembar baju dibandrol harga antara 3-10 ribu, tergantung besar kecil, kualitas, keindahan, dan warnanya yang pudar.
Begitu juga dengan bawahan seperti celana atau rok. Baju sekolah yang dipakainya sehari-hari, juga dibeli di pedagang baju rombengan. Sekecil dan sejelek apapun bentuk baju di desanya, tetap ada harganya, mungkin saking susahnya mata pencaharian, sehingga barang apapun dijual.
Sinta mau yang ini, boleh ya, Om?" Sinta menunjuk sebuah piyama berwarna hijau tosca.
"Ambil sesukamu," ucap lelaki yang sedari tadi senyum-senyum sendiri. Lalu ia mendekat dan berbisik, "Hm, tapi menurutku kau harus punya lingerie untuk mempercantik tampilanmu di ranjang," lirihnya agar tak didengar pramuniaga yang kebetulan lewat.
"Lingerie itu apa? Baju model seperti artis? Masa' cuma dengan baju saja bisa memuakan di ranjang. Ck ck, aneh," ucap Sinta sambil memiringkan kepalanya. Bingung.
"Jadi kamu belum tahu apa itu lingerie?" Om Jaya mengulangi pertanyaannya.
"Beneran Om, Sinta enggak tahu. Sinta tahunya keblinger saja, kalau linger-linger yang kayak Om bilang tadi, Sinta enggak tahu." Sinta berkata jujur apa adanya. Kenyataannya, ia memang tidak tahu apa iti lingerie. Maklum saja, ia gadis kampung lagi kampungan. Tidak seperti Laura, sebulan saja tinggal di kota, ia sudah punya banyak teman anak-gaul, tidak seperti dirinya yang agak pendiam.
"Oke, kalau memang Sinta enggak tahu. Sekarang Om panggilkan pramuniaga untuk membawamu ke stan lingerie," katanya sambil melambaikan tangan pada salah satu pramuniaga.
"Lah, terus Om mau ke mana?" tanya Sinta tidak mengerti.
"Aku tunggu di ruangan itu ya, nanti aku bilang pada pramuniaga, suruh mengantarmu padaku setelah berbelanja," tandas Om Jaya. Tangannya menunjuk sebuah pintu di pojok mall.
"Oh iya, pakai kartu ini ketika bayar belanjaanmu, ya!" Om Jaya menyerahkan sebuah kartu ATM ke tangan Sinta.
Sinta makin bingung dengan hal ini, begitu rumitkah jadi orang kaya? Kenapa mau bayar belanjaan saja mesti pakai kartu-kartu segala? Tinggal bayar pakai uang saja, kok repot? Begitu yang ada di benak Sinta.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya pramuniaga yang merupakan seorang perempuan.
"Tolong antarkan perempuan ini ke stan lingerie, setelah itu, antar dia mencari segala kebutuhan yang ia inginkan," jelasnya. "Dan ini," Om Jaya mengeluarkan uang sebesar lima puluh ribu, "Ini uang tip buat kamu. Jangan lupa, temani ke mana saya perempuan ini berbelanja!" katanya. Perempuan yang dimaksud Om Jaya tentulah Sinta.
"Terima kasih, Pak. Mari saya antar, Mbak." Pramuniaga memberi jalan kepada Sinta untuk berjalan di depan. Sinta malah menggamit lengan pramuniaga itu.
"Dingin, Mbak. AC-nya kelewatan. Duh, saya enggak kuat, kesukaan saya mah, angin sepoi-sepoi di tengah sawah," jelas Sinta polos.
Pramuniaga itu hanya tersenyum, ia baru menyadari kalau perempuan yang dituntunnya sekarang adalah wanita kampung, atau mungkin berasal dari desa, dan baru saja menetap di kota. Tentu saja tebakan pramuniaga itu tidak salah, meskipun tidak bisa dikatakan benar, karena Sinta sudah menetap di kota hampir dua tahun lamanya.
"Enggak apa-apa, Mbak. Nanti lama-lama juga terbiasa kok sama AC. Mungkin tubuh Mbak belum menyesuaikan," jelas pramuniaga itu.
"Gitu ya, Mbak. Biasalah, aku orang kampung, Mbak. Belum akrab sama kehidupan orang di kota," balas Sinta sambil menyejajari langkah pramuniaga.
"Sama, Mbak. Aku juga dulu dari kampung, merantau ke kota nyari pekerjaan. Alhamdulillah dapat kerjaan yang enggak panas-panasan, dan yang terpenting itu halal."
Seketika Sinta terpaku di tempatnya berdiri, ia merasa tertohok atas ucapan pramuniaga barusan. Bukankah yang membawanya ke sini adalah orang yang telah menodainya? Mengawali uang-uang haram yang akan menjadi biaya hidupnya?
"Hei, Mbak. Kok ngelamun? Nggak jadi lihat-lihat model lingerie, ya?" tanya pramuniaga mengagetkan Sinta.
"E-e, anu, i-ini kakiku kesemutan tiba-tiba, Mbak. Tadi nggak bisa digerakkin," ucap Sinta memberi alasan.
"Astaga, benarkah Mbak? Mau aku pijitin dulu kakinya? Sebelah mana yang sakit?"
"Eh, enggak, udah enggak lagi kok, Mbak. Ayo antarkan aku melihat-lihat lingerie."
Sinta dan pramuniaga sampai di stan lingerie, Sinta menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Loh, kenapa tutup muka, Mbak? Kayak lihat hantu saja!" tanya pramuniaga sambil menghampiri Sinta.
__ADS_1
"Kok gitu sih Mbak, jadi ini yang namanya lingerie?" Akhirnya Sinta menurunkan tangan dari wajah, dan mengamati jejeran baju kurang bahan yang terpampang begitu banyak di depannya. Kebetulan, saat itu hanya ada dua orang pengunjung di pojok. Jadi, celotehan kampungan milik Sinta tidak terlalu didengar.