Sugar Baby

Sugar Baby
Episode 70


__ADS_3

Hyun-Jae tak tahan dan langsung mendekat ke Eden.


"Cepat pergi dari sini." Ucap Hyun-Jae memerintahkan.


Wajah Eden berraut datar.


"Apa kau mengusir ku?." Tanya Eden dengan nada yang sedih menjengkelkan.


"Aku akan menemui mu nanti sepulang." Ucap Hyun-Jae yang hanya bisa menuruti Eden.


Eden mengangguk dan tersenyum.


Dia langsung melangkah meninggal kan keramaian didepan kelas Hyun-Jae.


Dengan langkah yang begitu angkuh.


Ternyata hujan turun diluar sekolah.


Eden menatap air hujan yang jatuh.


Dia mengingat ketika iya terus meneteskan air mata diantara hujan dihari Yora diculik.


Dia ingat betul betapa menyedihkannya dia.


Tak sadar dia tersenyum kecil sambil meneteskan air mata.


Han jaemin kebetulan lewat.


Jaemin juga tak sengaja melihat Eden meneteskan air mata.


Mulanya jaemin sedikit kesal dan berusaha menghindar namun dia penasaran dengan Eden yang begitu aneh.


Tapi jaemin mengurungkan niat nya dan memilih jalan lain.


"Eden,,. Sebenarnya seperti apa diriku sendiri seharusnya..." Ucap Eden lirih tangan nya menyentuh air hujan.


Suasananya cukup sunyi hanya ada bunyi air hujan.


Iya melangkah menuju tempat parkir.


Iyah berjalan sembari termenung tak menghiraukan sekitar.


Wajah tampan nya sedikit dikerutkan.


Dia menatap kearah sekolah nya.


"Sungguh aku benar benar ingin singgah." Ucap Eden dengan nada lembut putus asa.


"Kenapa aku harus hidup sebagai tuan muda?." Ucap nya setengah marah.


"Kenapa aku harus terlahir dalam sangkar emas." Ucap nya lagi sembari melangkah.

__ADS_1


"Aku rela menukar harta dan wajah menawan ku hanya untuk menjadi diriku sendiri dengan bebas." Ucap Eden lagi dengan raut mata sayup.


"Aku tidak boleh jadi lemah. Aku juga bukan orang yang suka kekuasaan. Aku tidak boleh baik hati, Namun aku tidak suka jadi jahat. Aku tidak suka melukai orang lain, namun jika aku begitu maka aku yang akan terluka." Ucap Eden sembari menatap langit yang hujan.


"bergerak bebas namun merasa teikat rantai yang begitu kuat." Ucap Eden lagi.


Dia sadar sudah berada didekat mobilnya.


Pikiran nya cukup kacau hari ini.


Dia sedang berdebat dengan dirinya sendiri.


Eden masuk mobil lalu duduk.


Eden teringat raut wajah bahagia tante nya saat iya menyudahi ciuman tadi pagi.


Dia jelas merasa diperlakukan berbeda.


Tante nya mulai berbicara santai tanpa kata kata manja.


"Benar jika aku mau bebas aku perlu menyingkirkan semua orang yang memaksa ku menjadi tuan muda Eden." Ucap Eden dengan raut piciknya.


Eden mulai berfikir seperti Seorang psikopat.


Memikirkan dengan senyuman mengerikannya.


Dia menutupi matanya.


Paman Haza datang dan langsung masuk mobil.


"Maaf terlalu lama tuan muda." Ucap paman Haza yang segera memakai sabuk pengaman dan siap melanjutkan perjalanan.


Paman Haza melihat pantulan wajah Eden dicermin. Raut mata yang seakan siap menerkam dan senyuman epic yang cukup mengerikan ditambah Eden menutupi sebagian wajah dengan tangannya.


"Tuan muda baik baik saja." Ucap paman Haza tanpa menoleh kebelakang.


Eden menyingkirkan tangannya.


"Paman?." Tanya Eden dengan nada datar.


"Iya tuan muda." Jawab paman haza dengan seksama.


"Apa paman tau Eden seperti apa?." Ucap Eden dengan nada seakan dia tak sabar menjawab sendiri pertanyaan nya.


"Ohh tuan begitu tampan dan baik hati." Puji paman Haza sambil menarik nafas lega.


"Salah." Seru Eden dengan nada spontan.


"Menurut tuan sendiri bagaimana?." Tanya balik paman Haza dengan nada sedikit penasaran.


"Warna mewakili diriku." Ucap Eden santai.

__ADS_1


Paman Haza menyalakan mobilnya.


"Benarkan?. Kalau begitu warna apa yang mewakili diri anda tuan muda." Tanya paman Haza lagi.


"hanya WARNA yang mewakili diriku." Ucap Eden.


"Maksud anda diri anda penuh sesuatu yang berbeda beda?." Ucap paman Haza menebak.


"Bukan seperti itu." Ucap Eden.


"Lalu?." Tanya paman Haza penasaran.


Eden tersenyum ceria.


"Tentu saja karena aku di didik sejak kecil untuk menyesuaikan diri. Sama seperti warna jika ditempat kan pada bunga tentu hanya cocok dengan warna cerah yang menawan." Ucap Eden bersemangat.


Paman Haza sedikit berfikir.


"Lalu dalam warna apa tuan saat ini." Ucap paman.


"Merah." Ucap Eden singkat.


Paman Haza tersenyum.


"Warna merah biasanya melambangkan sesuatu yang mengebu dan membara. Apa tuan sedang jatuh cinta?." Tanya paman Haza sambi tersenyum dan menyetir.


"Bukan aku hanya sedang sangat bersemangat." Ucap Eden lagi.


"Sukur lah mulanya saya sangat khawatir pada anda yang murung tuan muda. Tapi sekarang saya percaya anda baik baik saja walaupun sedikit melupakan banyak hal." Ucap paman Haza sembari sesekali melirik ke Eden.


"Apa uangku cukup untuk membeli 5 nyawa??." Ucap Eden yang nada bicara nya mulai berubah serius.


Paman Haza sedikit terkejut namun baginya dikalangan atas sudah biasa dengan Pembicaraan pembelian nyawa atau tepatnya rencana membunuh seseorang.


"Apa anda menargetkan seseorang tuan." Jawab paman haza serius.


"Jawab dulu pertanyaan ku." Ketus Eden.


"Jika anda bemberikan kompensasi pada keluarga korban untuk lima keluarga tentu saja harta anda terlalu banyak, itu hanyalah jumlah yang kecil sekalipun anda memberikan mereka wewenang bisnis tuan. Tetapi jika anda memilih membungkam publik dan memalsukan kasus pembunuhan,anda perlu menyewa beberapa orang yang bahkan jika dihitung biayanya akan lebih sedikit dari jumlah kompensasi setiap keluarga." Terang paman Haza.


Eden nampak berfikir.


" Bagus. Aku akan merencanakannya terlebih dahulu. Sisanya kuserahkan padamu." Ucapnya Eden sembari tersenyum picik.


Paman Haza masih penasaran dengan siapa yang ditargetkan Eden.


"Jika anda tidak keberatan memberi tau saya. saya berjanji akan merahasiakannya dan membantu anda sampai selesai. Namun sebelum itu setidaknya beritau alasan nya tuan muda." Ucap paman Haza serius.


"Anda bukan orang yang ringan tangan apalagi membunuh seseorang." Ucap paman Haza lagi sembari menatap mata Eden dari cermin dimobil.


"Mereka menyusahkan ku. Menyiksa diriku. dan keberadaan mereka mengancam keselamatan ku. Apa aku salah jika membunuh mereka??." Ucap Eden dengan raut polosnya.....

__ADS_1


__ADS_2