Takdir-Ku Kamu

Takdir-Ku Kamu
Part 10


__ADS_3

"Abiii, Mbak Aish...!!"


Teriakan santri membuat Abi Zayid bergegas keluar untuk melihat apa yang terjadi. Pria berumur itu berjalan tergopoh-gopoh menuju teras.


"Abi ada orang sakit," ujar salah satu santri yang sedikit kesulitan membopong tubuh besar seorang pria bersama temannya.


"Bawa masuk," Abi Zayid membantu santri membawa masuk orang itu ke rumah. Kemudian membaringkan di sofa.


"Astaghfirullahaladzim Nak Geo!" Pekik Abi saat mengenali wajah pria yang tengah sakit itu, suhu tubuhnya tinggi. Abi Zayid melepaskan alas kaki dan earphone yang masih menempel di telinga Geo.


"Nak, Nak Geo." Panggilnya seraya menepuk-nepuk pipi pria itu namun tidak ada sahutan.


"Aish bawakan kompresan Nak," pinta Abi Zayid pada putrinya. "Anak-anak kalian boleh kembali, biar Abi yang menunggunya bangun." Ujarnya pada dua orang santri tadi kemudian mengucapkan terimakasih.


"Iya Abi," dua orang santri itu menurut, meninggalkan rumah pemilik yayasan pondok pesantren. Abi Zayid memang dikenal dengan sebutan Abi dan beliau tidak mempermasalahkan dengan panggilan itu.


Geo mengerjapkan mata saat merasakan ada benda yang menempel di keningnya. Perlahan ia menerima pendar cahaya yang masuk ke retina mata. Karena terlalu silau ia menutup mata kembali. Geo membuka mata secara sempurna setelah berkali-kali menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina mata.


"Saya ada dimana?" Tanyanya seraya memijat pelipis yang masih terasa nyeri kemudian bangun.


"Ada di rumah saya," Abi Zayid tersenyum kemudian berucap. "Akhirnya kamu menepati janji untuk mampir."


Geo mengernyit bingung, ia tidak pernah berjanji untuk mampir. Apa ia sedang melupakan sesuatu karena pikirannya yang terlalu penuh.


Aish datang membawakan bubur dan obat penurun panas sesuai permintaan Abi, setelahnya kembali masuk.

__ADS_1


"Kamu pasti belum sarapan dan kurang istirahat," tebak Abi Zayid melihat lingkar mata Geo yang menghitam seperti mata panda.


Geo hanya tersenyum menganggukkan kepalanya dengan lemah. "Maaf merepotkan Bapak," ucapnya sungkan.


"Tidak merepotkan sama sekali. Anggap saja ini balasan atas perbuatan baik Nak Geo yang sudah beberapa kali membantu putri saya. Mungkin karena kemarin hujan-hujanan mengantarkan Aish pulang kamu jadi sakit."


Deg!


"Mengantarkan Aish pulang?" Ulang Geo, seharian kemarin dia ada di apartemen melakukan virtual meeting membahas F-Jewelry yang akan melebarkan sayap ke mancanegara.


Pria itu menegakkan duduk, bingung mau menjelaskan bagaimana caranya untuk melarang mereka berhubungan dengan orang yang mirip dengannya.


"Iya, Nak Geo lupa?" Abi Zayid berpikir pemuda di hadapannya ini sedang banyak pikiran jadi melupakan hal itu.


"Tidak apa kalau lupa, kamu sarapan dulu baru diminum obat penurun panasnya." Lanjut Abi saat Geo terdiam seperti orang kebingungan.


🍃


Setelah beberapa jam tertidur karena pengaruh obat, Geo terbangun kemudian berkeliling di sekitar rumah sampai tidak sadar masuk ke wilayah pesantren.


Tadi pemilik rumah itu menyuruhnya beristirahat di salah satu kamar tamu. Saat terbangun pelayan disana mengatakan kalau Abi Zayid dan Aish sedang mengajar di pesantren.


"Nak Geo sudah baikan?" Sapa Abi Zayid mengenali pemuda yang tadi ada di rumahnya.


Geo mengangguk dengan senyuman tipis, tubuhnya sudah lebih enakan setelah dibawa istirahat.

__ADS_1


"Alhamdulillah, ayo kita sholat dzuhur berjamaah dulu," ajak Abi Zayid.


Ajakan itu membuat Geo menatap penampilannya yang hanya menggunakan kaos oblong dan celana training.


Abi Zayid yang mengerti dengan keraguan pria itu kemudian berucap, "disini ada baju koko dan sarung. Nak Geo berwudhu saja dulu, nanti saya minta santri untuk menyiapkan pakaian ganti."


Geo tidak langsung menyetujui, ragu bukan karena pakaiannya. Tapi ragu apakah Tuhan masih mau menerima sujudnya. Entah kapan ia terakhir kali bersujud menghadap Tuhannya.


Melihat Geo yang terlihat bingung, Abi Zayid mendekat. "Apa yang sedang Nak Geo pikirkan, mungkin bisa berbagi sedikit dengan Abi." Pria berumur itu menepuk pundak Geo, merubah panggilannya. Masih ada waktu lima belas menit sebelum waktu sholat tiba.


Geo menggeleng ragu, melengkungkan sudut bibirnya tipis. Mana mungkin ia jujur kalau tidak pernah sholat. Bahkan cara berwudhu saja dia lupa, apalagi cara menghadap Tuhan semesta yang agung ini. Bisa-bisa ia akan mendapatkan ceramah kalau sholat itu wajib bagi seluruh umat muslim.


"Maaf, Nak Geo muslimkan?" Tanya Abi Zayid tidak enak hati. Karena ia tidak menanyakan hal ini lebih dulu. Dari wajah, pemuda itu memang seperti blasteran.


"Saya muslim, tapi saya lupa bagaimana caranya bersujud menghadap Tuhan." Jujur Geo yang ditanggapi Abi Zayid dengan senyuman.


Ternyata Pak Tua itu tidak menghakimi seperti yang ia kira. Pria tua itu malah tersenyum dan mengajaknya ke tempat berwudhu.


"Kalau cara berwudhu masih ingat?" Tanya Abi Zayid lembut sesampainya mereka ke tempat berwudhu, yang dijawab Geo dengan gelengan kepala.


"Sekarang ikuti Abi ya," katanya seraya menyingsing lengan koko kemudian membimbing Geo membaca niat berwudhu. Lalu mencontohkan gerakan berwudhu satu persatu yang diikuti Geo dengan seksama. Setelahnya Abi Zayid mengajarkan doa sesudah berwudhu.


Selesai berwudhu Abi Zayid membawa Geo ke salah satu kamar yang biasa digunakan oleh para tamunya. Meminta santri untuk menyiapkan baju koko dan sarung.


Mereka beranjak ke mesjid setelah Geo selesai berganti pakaian. Sesampainya di teras masjid Geo ragu melangkahkan kakinya untuk masuk ke rumah suci Allah itu.

__ADS_1


"Ada apa?" Tanya Abi Zayid dengan kening berkerut.


"Saya tidak pantas menginjakkan kaki di tempat suci ini. Dosa saya terlalu banyak dan saya malu untuk menampakkan diri pada Tuhan." Jawab Geo dengan suara bergetar, selama ini dia begitu jauh dan berjarak dengan Tuhan. Kakinya melangkah mundur turun dari teras masjid.


__ADS_2