Takdir-Ku Kamu

Takdir-Ku Kamu
Part 44


__ADS_3

"Mas bangun, mandi. Nanti ditungguin Abi ke masjid." Aish menepuk-nepuk pipi Geo dengan lembut. Suaminya itu terlelap dengan nyaman, wajah tegasnya semakin tampan kalau sedang tidur seperti ini.


"Bentar lagi Sayang," gumam Geo membuat jantung Aish bergetar hebat dan hatinya berbunga-bunga. Mengingat penyatuan mereka semalam membuat tubuhnya seketika kembali meremang.


"Sini Ara peluk dulu," Geo mencari kenyamanan dengan memeluk pinggang Aish.


Deg!


Aish mendengar dengan jelas Geo menyebutkan nama perempuan lain.


"Kenapa diam, hm. Katanya Ara suka di peluk, sini aku peluk Sayang." Menarik tubuh Aish semakin mendekat, Geo mengeratkan dekapannya.


Aish meremas dadanya yang terasa sesak, tahu suaminya masih mencintai perempuan lain. Tapi kenapa rasanya sesakit ini saat mendengar bibir yang tadi malam begitu memanjakannya itu menggumamkan nama lain. Aish menarik napas panjang lalu menepuk pipi Geo dengan perasaan carut-marut. Tanpa dikomando air matanya menetes dan jatuh tepat di kelopak mata Geo.


"Aish," Geo membuka mata saat merasakan setetes air jatuh di kelopak matanya. Di hadapannya Aish langsung memalingkan wajah saat menyadari dirinya bangun.


"Ada apa?" Tanya Geo bingung, membawa tubuh sang istri menghadap ke arahnya.


"Apa masih sakit?" Tanya Geo lagi.


Aish menggeleng pelan, menghapus air matanya yang semakin lancang merembes keluar.


"Bicara ada apa? Apa yang sakit?" Geo bangun membawa Aish dalam pelukan.

__ADS_1


Aish masih diam dengan suara sesenggukan.


"Aku gak tahu kamu kenapa kalau gak bilang," dengan lembut Geo mengusap punggung Aish. "Bicara, kita sudah sepakat untuk saling terbuka kan?" Bujuknya, sangat aneh Aish tiba-tiba menangis.


"Ada yang bikin kamu takut, kamu lihat apa?" Geo terus bertanya, Aish hanya menjawab dengan gelengan kepala.


"Lalu kenapa? Kalau kamu nangis hanya ada tiga sebabkan, takut, sakit atau sedang bahagia. Tapi gak mungkin kamu nangis bahagianya gini, apa yang sakit?" Geo semakin melembutkan suara di tengah rasa penasarannya.


"Ini yang sakit Mas. Aku tahu kamu masih mencintai perempuan lain, tapi kenapa rasanya masih sakit saat kamu menyebutkan nama perempuan itu." Ungkap Aish sambil menekan dadanya.


Geo terdiam, seingatnya tidak pernah menyebutkan nama siapapun pada Aish. Bahkan matanya baru terbuka dan langsung disambut tangisan sang istri.


"Apa Ara sangat berharga disini Mas, ini yang aku takutkan. Sikap kamu yang terlalu baik padaku dan membuatku jatuh cinta, namun nyatanya disini masih milik orang lain bukan aku. Aku takut kehilangan kamu, aku serakah bangetkan pengen milikin kamu sendirian."


"Kamu mau bersabar membantuku menghilangkannya dari sini." Jawab Geo akhirnya yang membuat Aish menggelengkan kepala.


"Aku gak yakin bisa Mas."


"Maaf, kita jalani seperti ini dulu ya. Gak papa kalau kamu mau ungkapin kekesalan kamu sama aku."


"Pasti susah banget ya buat kamu relain diri menyentuh aku," ucap Aish lirih. Hatinya teramat sakit membayangkan sang suami yang terpaksa menyentuh dan memanjakannya.


"Jangan bahas ini, aku gak mau kamu semakin sakit. Yang harus kamu tahu, aku akan terus berjuang untuk membahagiakanmu. Jadi jangan persulit langkahku dengan kamu menyakiti diri dengan memikirkan itu."

__ADS_1


"Aku ngerasa jadi manusia yang paling egois tahu gak sih Mas. Aku menerima semua perlakuan baik kamu. Kamu selalu bikin aku mendapatkan segalanya tapi kamu malah menyiksa diri dengan melakukan semua itu padaku."


"Sstt, nyalahin diri sendiri itu gak baik. Kenapa kamu gak mensyukuri apa yang Allah berikan sekarang aja, hm. Aku gak mau ya benih yang baru aku tabur disini tadi ngambek gak jadi berkembang karena mama papanya membahas hal yang gak penting."


"Kalau kamu gak mau tenang, aku bisa nenangin kamu dengan cara lain kok. Tapi sepulang dari masjid," goda Geo menggigit daun telinga Aish pelan. Tidak mengijinkan istrinya itu memikirkan hal lain. Meskipun Geo sendiri tidak berani berjanji memberikan cinta yang sesungguhnya.


"Mas, aku lagi serius." Rengek Aish karena Geo malah mengalihkan pembicaraannya.


"Iya Sayang, aku juga serius bisa nenangin kamu dengan cara lain hm. Lupakan apa yang kamu dengar tadi," Geo sangat yakin kalau dia menyebutkan nama Ara dalam tidurnya. Hanya itu yang paling memungkinkan penyebabnya.


"Mas," Aish semakin tersipu mencubit di perut Geo saat dipanggil Sayang. Semburat merah menyembur dari pipinya.


"Jangan sentuh aku, dia sudah siap mau mengunjungi temannya di dalam sana." Goda Geo, lagi-lagi membuat pipi Aish semakin merona teringat betapa gagahnya Geo tadi malam saat mengunjunginya.


"Mandi gih, nanti Abi nunggu. Jangan buat Abi semakin bangga sama putrinya karena sudah membuat si menantu tersayangnya ini tidak bisa jauh dari tempat tidur." Sekarang giliran Aish yang menggoda Geo.


"Kamu ngomong gitu bikin aku lapar lagi tahu," gemas Geo mencubit pipi Aish. Sepertinya sang istri sudah bisa melupakan kesedihannya.


Geo menghela napas berat masuk ke kamar mandi. Dia memang merasa kecanduan dengan Aish untuk menyalurkan hasratnya. Entah dengan cinta atau tidak. Tapi yang jelas, kepalanya masih dipenuhi bayangan Ara.


Tidak berbeda dengan Geo, Aish juga menghela napas berat menepuk dadanya yang terasa sesak. Ada belati yang perlahan menikamnya dengan lembut.


Kuatkah ia menjalani pernikahan ini. Walau Geo memperlakukannya dengan baik, tapi tidak dapat dipungkiri Aish juga seorang wanita yang ingin dijadikan satu-satunya.

__ADS_1


__ADS_2