
Setelah percakapan bersama abi malam itu, Aish kembali menjalani hari-hari seperti biasa. Ia habiskan sepanjang hari untuk mengajar di pesantren dan TPA.
Beberapa minggu terakhir Aish disibukkan mengurus persiapan pernikahan. Pagi ini usai shalat subuh ia sempatkan membantu di dapur umum membuatkan sarapan untuk para santri. Ia jarang ikut terjun perihal mengurus pesantren, hanya sesekali menemani Abi.
Bukannya malas, hanya saja Aish masih terkungkung dengan masa lalu yang menyakitkan. Waktu kecilnya ia habiskan membantu Ummi menyiapkan segala keperluan santri. Hingga suatu kejadian membuatnya menarik diri dari pesantren milik kakek yang dikelola sang abi.
"Aish bantu potong bawang ya Bi," izin Aish. Perihal memasak ia bukan ahlinya, namun sekedar potong memotong dan membuat bumbu masakan ia bisa melakukannya kalau hanya untuk konsumsi sendiri dan Abi. Untuk dikonsumsi banyak orang Aish tidak berani mengambil resiko, kalau-kalau seleranya tidak pas di lidah orang.
"Nanti Mbak Aish bau bawang, potong wortel aja nggih. Biar saya yang potong bawang," ujar bibi yang menggunakan gamis katun berwarna hitam polos sambil menenteng pisau dan bakul wortel di tangannya mendekati Aish.
Aish seketika menegang, lalu beberapa detik kemudian menjerit histeris. Flashback kejadian menakutkan yang terjadi di depan matanya berputar bak film yang sengaja ditonton.
"Ummiiii!! Jangaan, jangan bunuh Ummiiii!!" Teriakan Aish menggelegar, membuat suasana dapur umum menjadi tegang. Para ibu-ibu yang yang sedang memasak menghentikan kegiatannya mencoba menenangkan Aish. Namun perempuan itu berlari menjauh sambil berteriak dan menutup telinganya dengan lelehan air mata.
"Aiish!!" Abi Zayid yang dipanggil santriwati segera datang dan melihat putrinya yang berlindung pada tubuh Geo.
__ADS_1
"Maaf Abi, dia mengira saya Abi." Geo menjelaskan agar tidak terjadi salah paham. Tadi malam ia memang menginap di pesantren. Kebiasaannya yang jogging setiap pagi membuat kakinya melangkah mengelilingi pesantren.
Keributan di dapur umum membuat Geo mendekat ke lokasi. Namun perempuan yang sedang berlari ketakutan itu menubruk tubuhnya seperti mencari perlindungan sambil memanggil Abi dan Ummi berkali-kali.
Abi Zayid mengangguk kemudian menghela napas panjang. Dejavu, persis seperti kejadian tujuh belas tahun yang lalu. Dimana Aish yang ketakutan berlindung pada seorang pemuda karena mengira itu dirinya.
"Kamu kembali ke belakang," ucap Abi pada perempuan berbaju hitam yang masih membawa pisau dan wortel di tangannya. Ia sudah bisa menebak karena apa putrinya jadi histeris.
"Aish!" Adam berlari panik ke dapur umum saat diberitahu santri kalau calon istrinya sedang ketakutan.
"Nak, ini Abi." Pria lanjut usia itu menepuk punggung putrinya lalu membawa dalam dekapan hangat.
"Ummi, Abii.. Ummii!" Ucap Aish sesenggukan masih menutup mata dengan kedua tangan. Tubuhnya bergetar hebat, peluh membasahi kening. Bayangan kehilangan Ummi membuatnya semakin ketakutan dan berkali-kali menjerit histeris.
"Ummi sudah tenang bersama Allah Nak, kamu tenang ya." Bisik Abi Zayid, setelah berlalu sekian lama trauma sang putri belumlah juga hilang.
__ADS_1
Ia sampai melarang para pelayan yang membantu pekerjaan rumah agar tidak menggunakan pakaian berwarna hitam.
"Bawa Ummi pergi dari sini Abi," pinta Aish ketakutan. "Selamatkan Ummi, Abi." Mohonnya dengan suara serak.
"Ayo kita pulang," Abi Zayid menuntun putrinya untuk pulang ke rumah. Namun baru beberapa langkah wanita itu jatuh tidak sadarkan diri.
Geo langsung sigap menangkap dan meminta izin pada Abi untuk membantu menggendong Aish.
Ada sudut hatinya yang terasa nyeri saat melihat perempuan itu histeris ketakutan. Ia teringat pada Ara yang sangat rapuh kalau sedang ketakutan.
Semua itu refleks Geo lakukan, tidak menyadari ada Ustadz Adam disana. Ia tidak mungkin membiarkan Aish digendong Abi Zayid yang sudah berumur. Niatnya hanya membantu namun diartikan lain oleh orang yang melihatnya.
Adam tidak bisa mencegah, karena Geo bergerak cepat menggendong Aish setelah mendapat izin dari Abi Zayid. Ia menggiring di belakang mengikuti sampai rumah.
Abi Zayid meminta Geo untuk menurunkan Aish di sofabed lalu beranjak ingin mengambilkan selimut. Saat membalikkan badan, baru menyadari kalau ada Adam disana dengan raut khawatir.
__ADS_1