Takdir-Ku Kamu

Takdir-Ku Kamu
Part 65


__ADS_3

Wanita hamil muda itu dengan tidak sabaran menunggu suaminya pulang. Baru satu langkah kaki Geo masuk ke kamar, Aish sudah menghambur ke pelukannya.


"Umma kenapa?" Tanya Geo khawatir, menduga sudah terjadi sesuatu pada istrinya.


Aish menggelengkan kepala semakin menguatkan pelukan. "Maaf," lirih perempuan hamil yang sekarang sensitif itu dengan berlinangan air mata.


Tentu saja Geo bingung, tanpa sebab istrinya itu meminta maaf. "Memangnya Umma melakukan kesalahan apa sampai meminta maaf?" Pria itu bertanya sambil membawa Aish duduk disisi tempat tidur tanpa melepaskan pelukannya.


"Aku sudah egois dan gak ngertiin perasaan kamu Mas," sebut Aish yang tengah terisak.


Geo tersenyum geli mendengar jawaban itu, dapat ilham dari mana istrinya ini. Mungkin akan menyenangkan kalau menggodanya.


"Papa gak mau maafin, hm." Ujarnya yang kesulitan menahan tawa.


Aish memajukan bibir lucu, mengusap air matanya dengan kasar. Merasa perjuangannya tidak dihargai perempuan hamil itu merajuk. Melepaskan diri dari pelukan Geo dengan wajah masam.


"Hei-hei marah," tawa Geo pecah. Menahan tangan Aish yang ingin pergi menjauh. "Merajuk hm," pria itu menggoda. Menarik sang istri untuk duduk di pangkuannya. Lalu membelai pipinya dengan lembut.


"Cerita sama Papa ada apa, hm." Ujarnya seraya melingkarkan tangan di pinggang Aish.


"Mau minta maaf aja," sahut Aish malu-malu. Menyandarkan kepala ke dada lebar Geo.


"Kenapa tiba-tiba minta maaf, tadi pagi marah-marah." Seulas senyuman jahil kembali terukir dari bibir Geo.


"Mas," rengek Aish malu kalau diungkit hal itu lagi. Ia juga tidak tahu kenapa sekarang jadi suka aneh.

__ADS_1


"Mau ikut Papa mandi," Geo mengerling jahil seraya mengangkat alis menggoda.


"Enggak," tolak Aish cepat lalu bangkit dari pangkuan Geo. Membuat si empunya tertawa gelak.


Hari demi hari Geo semakin suka saja menggoda istrinya yang tengah hamil itu. Aish yang semakin sensitif dan Geo yang semakin jahil. Membuat kamar mereka jadi ramai dengan gelak tawa Geo.


Memasuki trimester kedua calon ayah itu sudah tidak lagi mengalami morning sickness yang membuatnya lemas setiap pagi.


"Mau ikut Papa kerja?" Ajak Geo pada istrinya yang sudah sedikit membuncit.


Enggan untuk berjauhan dengan anak-anaknya. Sebentar saja lepas dari tatapan matanya, Geo sudah merasakan rindu berat. Entah pada istri atau calon anak-anaknya.


"Mau di rumah aja," Aish tidak terlalu suka ikut ke kantor sang suami. Selain bosan hanya menunggu dengan duduk diam, ia juga tidak bisa istirahat dengan nyaman.


"Ya sudah, Papa tinggal dulu. Umma hati-hati, kalau kangen segera telepon Papa. Nanti Papa sempetin makan siang di rumah." Ujar Geo berpamitan setelah mengecup kedua sisi perut Aish lalu beralih ke kening wanitanya.


Benar yang Rena katakan, Geo berusaha keras untuk membahagiakannya dan menepis perasaannya sendiri. Sangat keterlaluan jika Aish masih merasa cemburu pada suaminya itu.


🍃


Seperti janjinya Geo menyempatkan pulang untuk makan bersama istrinya. Dalam perjalanan pulang ia melihat penjual es jeruk peras. Melihat minuman segar itu Geo langsung membelinya tiga cup. Satu cup akan ia minum di mobil dan dua yang lain akan diminum bersama Aish.


Selama istrinya hamil, Geo lah yang lebih sering mengidam. Tapi makanan itu ia paksakan Aish yang menghabiskannya.


Tidak menunggu lama satu cup es jeruk peras itu habis dalam satu sedot, membuat Geo tersenyum sumringah. Setelah sampai nanti ia akan memasang wajah lesu agar Aish kasihan padanya.

__ADS_1


"Gerah," Geo melonggarkan dasi dan membuka kancing atas kemejanya sebelum keluar dari mobil. Suasana di luar sangat panas membuatnya kegerahan.


"Assalamualaikum Umma," panggil Geo membuka pintu kamar. Istrinya tengah tertidur dengan damai di tempat tidur.


"Yah," Geo menatap dua cup es jeruk di tangannya dengan perasaan kecewa. Ia beranjak ke dapur untuk memasukkan minuman itu ke dalam lemari pendingin. Rencananya untuk memasang wajah lesu tertunda.


Aroma makanan yang terhidang di atas meja mengalihkan atensi Geo. Setelah memasukan es jeruk ke dalam kulkas ia segera menghampiri meja makan.


"Mau makan sekarang Tuan?" Tanya Rena yang masih belum selesai menghidangkan makanan di meja.


Deg!


"Ara," batin Geo saat melihat penampilan asisten rumah tangganya itu sangat mirip sang mantan.


"Astagfirullah sadar Geo,"  pria itu kembali bergumam dengan dirinya sendiri. Mengusap wajahnya gusar, namun matanya tak berpaling dari Rena. Membuat suhu tubuhnya semakin naik. Ada apa dengan dirinya hari ini.


"Tuan," Rena menepuk bahu majikannya yang mematung. Takut tuannya itu kesambet setan yang ada di dapur.


Geo yang mendapat sentuhan itu seperti tersengat aliran listrik. Tubuhnya semakin memanas dan hampir kehilangan kendali.


"Tuan," Rena memundurkan langkahnya saat Geo semakin mendekat. Wanita itu bergetar ketakutan melihat tatapan berbeda dari majikannya. Ia semakin mundur sampai terpojok ke meja makan.


"Ara," panggil Geo mengulurkan tangan menyentuh pipi wanita itu. "Ini benar kamu Sayang?" Tanyanya dengan kesadaran yang sudah mulai menurun. Otaknya tidak bisa dikendalikan dan tubuhnya terasa terbakar.


"Mas!!" Pekik Aish memegangi dadanya yang sesak melihat Geo ingin menyentuh pipi Rena. Ia juga sempat mendengar suaminya itu menyebutkan nama Ara, runtuh sudah pertahanannya saat ini.

__ADS_1


"Aish," seperti tersadar Geo mengejar Aish yang berlari sambil menangis meninggalkan dapur.


__ADS_2