Takdir-Ku Kamu

Takdir-Ku Kamu
Part 20


__ADS_3

Aish membelalak kaget saat dua orang pria memaksanya keluar dari mobil. Lalu menyeretnya masuk dengan paksa ke dalam rumah yang tidak terawat.


Cat rumah itu kusam, dalamnya dipenuhi debu dan sarang laba-laba. Tidak tahu dirinya sedang berada dimana. Harusnya ia sadar saat perjalanannya tidak sampai-sampai. Padahal dari sekolah ke rumah tidak sampai memakan waktu sepuluh menit.


"Lepaskan, aku bisa laporkan perbuatanmu pada Abi!" Ancam Aish ditengah rasa takutnya.


“Selamat datang,” Leo menyahuti ancaman Aish dengan senyuman licik.


Selama bertemu pria itu Aish tidak pernah melihat Geo tersenyum. Pria itu lebih banyak memasang wajah dingin dan datar, namun hari ini berbeda. Membuat Aish merinding dan semakin diliputi perasaan takut.


“Saatnya pertunjukan dimulai," kembaran Geo itu bertepuk tangan satu kali.


Dari arah ruangan lain keluar seorang pria yang menggunakan jubah hitam sambil memegang pisau di tangannya. 


Ketakutan Aish bertambah, tubuhnya bergetar hebat. Dalam hatinya melafalkan dzikir namun tidak membuatnya bisa tenang dan dapat mengendalikan diri.


Satu-persatu rekaman di memori kepalanya berputar. Ia saksi mata dimana Ummi dibantai oleh sosok yang tidak dikenalnya. Sosok yang menggunakan pakaian hitam dengan belati di tangan itu tanpa kasihan menikam perut Ummi.

__ADS_1


Teriakan kesakitan dari wanita yang paling dicintainya itu kembali terngiang di telinganya. Membuat Aish berteriak nyaring diikuti tangis ketakutan.


"Ummiii..!!" Teriak Aish dengan air mata berderai sambil menutup kedua telinganya. Tubuhnya lunglai di lantai. Jangankan untuk melakukan perlawanan, mengendalikan dirinya sendiri saja ia tidak bisa.


Leo tertawa puas melihat pertunjukan di depannya. Tidak lupa ia mengabadikan momen yang sangat menyenangkan itu.


Setelah puas tertawa Leo beranjak mendekati Aish, meminta orang-orangnya meninggalkan ruangan.


"Kenapa, takut?" Tanya Leo dengan setengah tertawa. Berjongkok mensejajari Aish yang luruh di lantai sambil memeluk lutut, gemetar.


Aish terus memanggil ummi dan abi. Ia seperti anak kecil yang sedang ketakutan.


Meski dengan wajah dipenuhi air mata, tidak membuat kecantikan wanita itu luntur. Leo akui itu, bibir ranum Aish yang bergetar mampu membuat sesuatu dalam dirinya bangkit dan meronta ingin dibebaskan.


"Aku akan membuat rasa takutmu hilang," bisik Leo dengan senyuman misteri lalu membawa Aish dalam pelukan.


Aish meronta dan mengamuk ingin dilepaskan. Semakin tubuh itu bergerak memberontak, semakin membuat Leo tertantang untuk menaklukkannya.

__ADS_1


"Lepasin... Ummi, Abiii tolong Aish!!" Teriak Aish memekakkan telinga.


"Ummi-mu sudah mati dan Abi-mu tidak ada disini!!" Sarkas Leo membungkam mulut Aish agar berhenti berteriak.


Namun beberapa saat kemudian malah Leo yang dibuat berteriak. Wanita itu menggigit bibirnya sampai berdarah.


Mendengar kata Ummi sudah mati membuat Aish seperti kerasukan. Ia menggigit bibir Leo kemudian mendorong tubuh itu dengan kasar hingga pelukannya terlepas.


"Kau tidak bisa lepas dari sini!" Ucap Leo sambil meludahkan darah segar yang keluar dari bibirnya. Ia tidak membiarkan perempuan itu lepas sebelum memuaskannya.


Netra Aish melihat botol kaca bekas minuman, lalu ia ambil dengan gemetar dan  melemparkan ke kepala Leo dengan brutal. Tubuhnya lemas, tapi tidak boleh kalah. Ia harus membalaskan orang yang sudah membunuh Ummi, pikirnya.


Praankkk!!


Suara pecahan botol membuat Aish menutup telinga kembali. Terbayang olehnya tubuh Ummi yang terjatuh ke lantai. Perempuan itu berlari ke sudut ruangan lalu duduk memeluk lulut sambil tergugu suara tangis.


"Bangs*at!!" Umpat Leo saat kepalanya mengeluarkan darah karena pecahan kaca.

__ADS_1


Ia semakin bengis menginginkan Aish takluk padanya. Namun sebelum melakukan itu, Leo mengirimkan rekaman yang akan membuat Geo kehabisan napas terlebih dulu sambil menahan kepalanya yang berdenyut nyeri.


__ADS_2