Takdir-Ku Kamu

Takdir-Ku Kamu
Part 45


__ADS_3

Sejak pagi Aish lebih banyak diam. Sampai Geo pulang kerja pun wanita itu menyambutnya dengan wajah dingin. Tidak ada senyuman lembut seperti biasanya.


Seharian ini yang Aish lakukan hanya berdiam diri di kamar. Saat diajak Abi bicara pun hanya menjawab sekedarnya.


"Masih marah soal Ara?" Geo tetap tenang menghadapi Aish yang sedang dalam silent mode.


Aish tidak menjawab, pura-pura sibuk merapikan tempat tidur yang sudah rapi.


"Gak usah dirapiin, nanti malam juga berantakan lagi." Goda Geo menahan tangan Aish yang menarik-narik ujung sprei.


Wanita itu tidak memperdulikan, tetap menarik ujung sprei dengan tangannya yang lain sampai permukaan tempat tidur mulus tidak menyisakan lipatan. Ia hanya ingin menghindari Geo. Ingin membuat jarak agar hatinya tidak terlalu sakit.


Kenapa ia tidak sadar diri, dari awal sebelum menikah Geo sudah mengatakan kalau tidak bisa memberikan cinta untuknya. Bodohnya dia yang nekat dan jatuh cinta lebih dulu.


Huhh! Hanya dalam satu minggu pria yang berstatus sebagai suami itu sudah bisa membuat hatinya porak poranda bagai reruntuhan bangunan.


"Diam memendam marah bikin rugi sendiri loh. Perasaan jadi gak enak dan hati jadi gak tenang." Pria itu duduk dan menarik sang istri sampai terduduk di pangkuannya.

__ADS_1


"Lebih baik diungkapkan sama orangnya langsung, biar lega." Geo mengusap belakang kepala Aish sampai ke punggung, melakukan gerakan turun naik itu berulang kali.


Tadi ia mampir ke apartemen untuk mandi dan menenangkan diri sejenak sebelum pulang. Geo harus mengisi energi sebelum bertemu istrinya. Kalau tidak seperti itu ia bisa meluapkan emosi pada Aish.


"Mau jalan-jalan gak, bosan di rumahkan." Geo masih membujuk disaat istrinya masih betah untuk menyimpan suara.


"Ternyata mama suka diam kalau lagi ngambek ya, nanti jangan tiru mama ya Sayang." Geo berbicara sendiri pada perut Aish sambil mengelusnya, seolah di dalam sana sudah ada anak mereka.


Aish tetap diam meskipun tubuhnya sudah meremang karena elusan-elusan yang Geo berikan. Jangan lupakan dia sedang duduk dimana, ada benda yang seakan mendesak ingin keluar dari tempatnya.


"Duh gemesnya istri aku ini kalau merajuk." Mencubit pipi Aish kemudian memeluknya gemas sambil mendusel-dusel sang istri.


Aish yang sudah kewalahan menghadapi Geo akhirnya menggeliat kegelian, "Masss!" Pekiknya mendorong kepala sang suami agar berhenti mendusel-duselnya sambil tertawa kecil.


"Nah gitu dong, cantiknya jadi nambah." Puji Geo merapikan rambut Aish yang berantakan karena ulahnya.


"Jangan pikirkan apapun yang bikin kamu kepikiran. Aku disini milikmu, hm." Ucap Geo lalu membenamkan kepala di ceruk leher Aish.

__ADS_1


Bagi Aish, apa yang Geo ucapkan itu hanya sebuah bujukan untuk menenangkan. Jadi tidak berpengaruh apa-apa untuk hatinya, tetap saja terasa sakit. Apalagi saat sadar Geo bersikap baik padanya sedang di hatinya ada perempuan lain. Geo memperlakukan Aish dengan baik hanya sebatas tanggung jawab dan kewajiban saja.


"Aish," panggil Geo pada istrinya yang kembali diam tidak bergerak. Menyerah sudah ia untuk membujuk.


"Kalau kamu terus diam masalah kita gak akan selesai. Setan ketawa senang melihat kita diam-diaman begini." Ucap Geo asal, jangan tanyakan dia dapat teori dari mana.


"Kakiku pegal," bisik Geo membuat Aish langsung melompat turun dari pangkuan Geo.


"Enak ya merajuk, tapi masih di pangku." Sindir Geo sambil tersenyum, wajah istrinya itu memang tidak cemberut tapi rautnya datar dengan tatapan sendu.


"Kamu tahu gak kenapa kanebo kering itu berkerut, jadinya gak enak dipandang." Geo menatap lembut netra Aish, namun sang istri memalingkan wajah tidak merespon.


"Karena gak mau senyum kayak gini nih," gemas Geo mencubit pipi Aish lalu menghempaskan diri ke tempat tidur dengan mata terpejam dan helaan napas berat.


Bersikap baik-baik saja, tidak membuat hatinya benar-benar baik. Hatinya juga sakit menjalani pernikahan ini. Namun Geo tetap bersikap lembut pada Aish dan menerima semuanya. Ini sudah menjadi konsekuensi atas keputusannya. Sekarang bukan bahagianya yang menjadi tujuan, tapi kebahagiaan Aish dan Abi Zayid.


Jujur Geo masih merasa bersalah atas semua itu, sekarang pesantren sepi. Dan diam-diam ia sering mengamati Abi Zayid yang melamun memikirkan itu.

__ADS_1


Melihat Geo yang sudah berhenti membujuknya dan seperti sedang banyak pikiran menciptakan rasa bersalah di hati Aish. Tidak seharusnya ia mengabaikan suaminya sendiri.


__ADS_2