
Gemericik air hujan membasahi bumi, bunga-bunga nampak bermekaran menyambut hujan dengan ceria. Aish membuka tirai jendela di kamarnya yang langsung memperlihatkan pemandangan taman kecil di samping rumah.
Geo menyuruhnya melanjutkan tidur lagi. Tadi saat ingin sholat subuh Aish mendapati dirinya tengah haid padahal belumlah waktunya. Jadilah ia hanya rebahan di tempat tidur, matanya enggan terpejam kembali walau tubuhnya lelah karena semalaman tidak karuan tidur.
Tidak ada yang berubah di hari pertamanya menjadi seorang istri. Geo tidak banyak menuntut dan Aish masih lebih senang berada di kamar.
“Sudah mandi?” tanya Geo yang baru pulang dari masjid bersama Abi. Usai sholat subuh tadi ia menemani Abi berkeliling pesantren.
“Belum Mas, mau langsung sarapan biar aku siapkan? Mas sarapan duluan aja sama Abi ya.”
“Mandi dulu gih kita sarapan bareng,” Geo mendekati Aish yang masih betah memandang ke arah luar jendela. "Habis ini kita lihat rumah kamu," lanjutnya mengikuti arah pandang Aish menatap bunga-bunga mawar yang sedang bermekaran.
"Rumah aku?" Aish menunjuk dadanya dengan telunjuk.
"Iya, rumah yang sudah aku jadikan mahar untukmu. Itukan sudah jadi milikmu," Geo tersenyum menepuk puncak kepala Aish.
Entah kenapa ia sangat suka melakukan itu. Padahal wanita di sampingnya ini lebih dewasa, tidaklah manja seperti Ara yang suka diperlakukan lembut. Apa dia terbawa suasana karena sering memperlakukan Ara seperti itu.
"Kenapa berlebihan banget sih Mas, aku kan cuma minta seperangkat alat sholat." Hal yang sangat ingin Aish tanyakan dari kemarin saat tahu Geo memberinya mahar sebuah rumah.
__ADS_1
"Kamu adalah rumah untuk aku dan anak-anakku pulang. Sudah seharusnya aku memberikan tempat yang nyaman untuk ibu dari anak-anakku ini."
"Mas," Aish terharu menoleh ke arah Geo dengan mata berkaca-kaca.
"Iya Aishabella," balas Geo dengan tersenyum manis. "Gak papa nangis, tetap cantik kok walau belum mandi. Cuma baunya keciuman aja sih," candanya sambil tertawa kecil.
"Ish Mass, boleh kesel gak sih." Aish ingin bersikap manja namun menahan diri. Dia tidak boleh bersikap berlebihan yang bisa membuat Geo ilfeel.
"Boleh, kamu boleh mengekspresikan apa yang kamu rasakan. Mau kesal, marah, sedih ataupun bahagia." Geo menarik Aish dalam pelukan, "kamu tidak dilarang bermanja-manja dengan suamimu ini, hm."
"Kamu kepaksa gak sih Mas bersikap seperti ini sama aku. Aku gak mau jadi beban buat kamu dan bikin kamu tersiksa," Aish diam saja saat Geo menempelkan kepalanya ke dada bidang milik sang suami.
Walau ada rasa cemas dalam dirinya tapi Aish masih bisa mengendalikannya. Ia masih bisa mengatasi kalau Geo hanya memeluk, tapi saat pria itu ingin mencium pasti tubuhnya langsung refleks ketakutan.
Bohong, ketika tadi dia mengatakan kalau Aish bau. Nyatanya Geo betah dan merasa tenang saat menghirup wangi sisa sampo yang menempel di rambut Aish.
"Aku cuma takut kamu pergi pas aku lagi sayang-sayangnya Mas. Aku takut kamu meninggalkanku saat aku sudah terlanjur jatuh sedalam-dalamnya dalam cintamu."
"Cintai aku karena Allah, bukan karena semua perlakuan dan apa yang aku berikan ini. Agar kamu tidak kecewa ketika Allah menuliskan takdir yang tidak sejalan dengan inginmu. Aku tidak bisa berjanji akan apapun," ucap Geo.
__ADS_1
Apakah dia merasa bersalah pada Aish? Tentu saja dia merasa sangat bersalah karena seperti seorang penipu ulung. Memberikan perhatian palsu untuk istrinya sendiri.
Pelukan yang dulu ia siapkan untuk menyambut Ara sekarang malah digunakannya untuk memeluk wanita lain. Geo ingin berhenti membandingkan Aish dengan Ara. Tapi selalu saja bayangan mantan kekasihnya itu menghantui. Dia sudah berjuang cukup keras agar mendapatkan restu dari dad-nya Ara. Tapi akhirnya wanita itu menjadi milik pria lain.
"Apa aku bisa bersikap biasa saja atas rasa nyaman yang kamu berikan ini Mas."
"Aish," Geo mengurai pelukan menangkup pipi wanitanya.
"Jangan pikirkan yang belum terjadi ya. Kita jalani apa yang ada di depan mata dulu. Kalau ada masalah kita selesaikan sama-sama, kita perbaiki sama-sama. Kita bicarakan dengan kepala dingin, jaga komunikasi dengan baik."
Aish mengangguk kecil, tidak ia kira Geo memiliki pemikiran sedewasa itu. Sedang dalam kepalanya hanya dipenuhi oleh ketakutan-ketakutan akan hal yang belum terjadi.
"Mandi gih, Abi nungguin kita keluar loh. Nanti dikira aku gak bisa lepasin kamu dari kasur hm," goda Geo menjawil hidung Aish.
"Mas, jangan bikin aku malu." Aish langsung menutupi wajahnya yang merona merah. Bukan karena membayangkan aktivitas malam pertama yang belum terjadi. Tapi dia malu kalau Geo menggodanya dengan bahasa seperti itu.
"Gak usah malu, semua orang juga tahu apa yang dilakukan pengantin baru hm." Geo semakin menggoda membuat Aish memilih kabur ke kamar mandi.
Seperginya Aish, Geo mengedarkan pandangannya ke arah taman kembali. Salah satu potongan ceramah yang tidak sengaja ia dengar di instagram tadi menyadarkan posisinya sekarang.
__ADS_1
"Pasanganmu adalah rezekimu, pilihanmu, Takdirmu. Maka jangan memandang kepada selain milikmu. Dan jangan membanding-bandingkannya dengan yang bukan milikmu."
Sudah seharusnya Geo memperlakukan Aish dengan baik dan melepaskan masa lalunya. Masa Lalu yang semakin berusaha ia lupakan semakin menjerat hidupnya.