Takdir-Ku Kamu

Takdir-Ku Kamu
Part 62


__ADS_3

Ah Aish rindu tempat ini, setelah pindah rumah mereka jarang mengunjungi Abi. Geo yang sibuk tidak bisa menemaninya, sementara suaminya itu tidak mengijinkannya berangkat sendiri.


Abi Zayid tidak menanyakan kabar, tapi perhatiannya terfokus pada telapak tangan sang putri. Tangan itu terdapat luka yang baru mulai mengering.


"Aku baik-baik aja Abi, cuma luka kecil." Aish berkata lebih dulu, saat melihat wajah cemas sang abi.


Pria berumur itu menghela napas panjang, "gak baik menyakiti diri sendiri Nak. Sekarang kan sudah punya suami, harus pandai mengontrol emosi ya."


Abi Zayid berkata seperti itu disaat Geo sedang menyiapkan makanan yang tadi dibelinya. Ya, pria itu melakukannya sendiri, tidak ingin dibantu pelayan.


"Iya Abi," sahut Aish sendu. Perasaannya yang sekarang lebih sensitif tidak suka dinasehati. Ia datang untuk melepas rindu, bukan untuk diceramahi.


"Aish, kenapa?" Geo meletakkan nampan yang dibawanya ke atas meja. Duduk di samping istrinya yang nampak manyun.


Sementara Abi Zayid melihat putrinya semakin manja saja. Makanpun sampai dilayani Geo, "maafkan putri Abi kalau menyusahkan kamu Nak."


"Abi, ini bukan Aish yang minta. Tapi aku yang gak bisa jauh-jauh dari mereka. Putri Abi gak menyusahkan," Geo tersenyum mengelus pipi Aish.

__ADS_1


"Senyum Umma, jangan bikin Abi sedih. Nanti manyunnya di rumah aja ya," bisik pria itu dengan kekehan.


"Mereka?" Abi Zayid mengernyit dengan satu alis terangkat.


Geo menyentuh perut rata sang istri, entah kenapa Aish jadi tiba-tiba badmood.


"Disini ada cucu-cucu Abi," beritahunya dengan senyuman bahagia. Akhirnya dia bisa memenuhi keinginan Abi yang ingin menimang cucu. Tinggal menunggu beberapa bulan lagi, anak-anaknya akan terlahir ke dunia.


"Cucu, benarkah?" Abi Zayid ikut menyentuh perut Aish.


"Iya Abi," Geo memberikan foto hasil USG dan menunjukkan seperti yang dokter lakukan. Apa yang dijelaskan dokter masih ia ingat dengan sempurna.


"Iya Abi," Aish tidak tahu kenapa perasaannya jadi sangat sensitif.


🍃


"Kangennya sudah hilangkan," Geo menepuk-nepuk puncak kepala istrinya yang lebih banyak diam setelah pulang dari rumah mertuanya.

__ADS_1


Aish hanya menjawab dengan anggukan kepala, moodnya masih saja buruk. Apa yang orang lakukan jadi terlihat selalu salah dimatanya.


"Umma mau apalagi, kenapa masih badmood hm."


"Aish mau apa?" Tanya Geo lagi, istrinya masih saja diam tidak menjawab.


"Sayang," panggil Geo pada istrinya yang melamun. Aish menoleh dengan penuh tanya, kena angin apa suaminya memanggil seperti itu.


"Umma mau apa?" Geo menggenggam tangan Aish lalu mengecupnya.


Hati Aish tidak merasa senang, malah lukanya semakin menganga lebar. Hanya karena anak-anaknya Geo memperlakukan seperti ini, bukan karena mencintainya. Dan itu membuat luka di hatinya. Aish merasa cemburu dengan anak-anaknya sendiri, entah ada apa dengan dirinya ini.


"Mau istirahat Mas," jawab Aish. Mungkin dia sedang lelah dan besok pagi suasana hatinya akan kembali membaik.


"Ya sudah bersih-bersih dulu baru istirahat, Papa buatkan susu."


Geo memberikan ruang untuk istrinya, tadi siang sebelum berangkat Aish masih terlihat ceria. Kalau tersinggung karena ucapan Abi yang menganggapnya manja pun pasti sudah selesai. Karena Abi sudah minta maaf, semua keinginannya juga sudah Geo penuhi.

__ADS_1


Apalagi yang kurang? Semua sudah Geo berikan, kebutuhan, perhatian. Hanya cinta yang belum bisa ia berikan. Tapi ia sudah memperlakukan istrinya itu dengan sangat baik, seperti bagaimana mestinya.


__ADS_2