Takdir-Ku Kamu

Takdir-Ku Kamu
Part 31


__ADS_3

Aish lebih banyak diam mengikuti pria dewasa dan bocah kecil itu ke salah satu area bermain. Mereka sudah seperti ayah dan anak, begitu akrab.


Little boss play jadi pilihan Nasya. Disana terdapat tiga area bermain yang membuat bocah itu kegirangan, terutama kolam bola.


Di tempat itu juga ada cafe yang bisa digunakan para orang tua untuk menunggu sang buah hati saat bermain.


"Gak suka jalan?" Tanya Geo saat mereka menunggu Nasya yang tengah asik melempar-lemparkan bola.


Sesekali anak itu mengubur dirinya dalam lautan bola kemudian berdiri, lalu melempar-lemparkan bolanya kembali. Anak-anak yang bermain disana tertawa bahagia tanpa beban seperti orang dewasa.


Sejak tadi Geo lebih banyak berinteraksi dengan Nasya dibanding Aish yang terlihat gelisah dan tidak nyaman. Padahal wanita itu sudah menggunakan masker untuk menutupi wajahnya. Di tempat umum seperti ini tidak banyak orang mengenalnya, tapi Aish masih saja tidak percaya diri.


Aish hanya mengangguk kecil. Ia juga tidak mau memesan apa-apa, hanya menunggu Nasya. Suasana hatinya sedang tidak baik.


"Aish," panggil Geo.


"Iya Mas," jawab Aish tanpa mengangkat wajahnya yang memandangi layar ponsel. Padahal tidak ada apa-apa disana.


"Mau menikah denganku, aku akan melindungi kamu. Menghentikan cibiran orang-orang tentangmu," ucap Geo dengan serius yang sukses membuat Aish mengangkat wajah.

__ADS_1


Wanita itu mengerjap dua kali dengan apa yang telinganya dengar barusan.


"Aku bisa melindungimu, tapi jangan tuntut aku untuk mencintaimu." Lanjut Geo menciptakan sensasi sendiri di dalam hati Aish.


Itu artinya kalau dia menikah dengan Geo, mereka hanya akan menjalani pernikahan dengan status. Aish tersenyum miris pada dirinya sendiri.


Dulu dia pernah mencintai seseorang. Namanya selalu Aish bawa dalam doa, namun pria itu malah menyebut nama perempuan lain dalam doanya. Sekarang ia diminta menjadi istri, tapi tidak boleh berharap cinta darinya. Pernikahan macam apa yang akan ia jalani nanti.


"Maaf kalau perkataanku menyinggung perasaanmu." Geo bingung ingin membantu Aish dengan cara apa selain menikahinya.


Saat sholat di masjid bersama Abi Zayid tadi dia sempat mendengar cibiran orang-orang yang tidak sengaja berpapasan dengannya. Mereka tidak segan merendahkan ayah dan anak itu di depan orangnya langsung. Abi Zayid mengatakan tidak perlu menanggapi ucapan mereka ketika Geo ingin menegurnya.


"Aku harus bertanggung jawab. Karena memang semua terjadi karena aku," jawab Geo tegas.


"Pernikahan seperti apa yang akan kita bangun nanti. Kalau Mas saja tidak bisa mencintaiku," ucap Aish dengan suara rendah.


"Seperti pernikahan pada umumnya."


"Pernikahan tidak sesederhana itu Mas, yang saling mencintai saja kadang mereka tidak sanggup menghadapi badai rumah tangga. Apalagi kalau hanya sebatas rasa kasihan Mas, aku tidak yakin bisa menjalaninya. Aku hanya manusia biasa, perempuan yang memiliki perasaan."

__ADS_1


"Aku tidak suka ada yang menghina dan merendahkan kalian. Walau bagaimanapun semua terjadi karena aku. Jadi aku yang harus menyelesaikan semuanya."


Aish tersenyum getir dari balik masker, kepalanya menggeleng pelan.


"Terima tawaranku, kalau ini bukan buat kamu setidaknya buat Abi. Beliau berjasa dalam hidupku. Aku kasihan melihat kondisi Abi sekarang, orang-orang menganggapnya rendah. Padahal Abi bisa saja mengklarifikasi semuanya, terutama tentang pernikahan kamu dan Ustadz Adam yang dibatalkan. Pelan-pelan aku akan menyelesaikan semua ini, membawa pelaku sesungguhnya ke hadapan mereka semua."


Jelas Geo panjang lebar, namun Aish bergeming di tempat. Tidak memberikan tanggapan apa-apa. Banyak pikiran yang berkecamuk di kepalanya.


"Abi ingin punya cucu. Kamu maukan memberikan Abi cucu," bujuk Geo hati-hati agar tidak menyinggung perasaan Aish.


"Kamu mau memberikan anak untukku meski tanpa cinta?" Tanya Aish bimbang, harus menerima tawaran itu atau tidak.


Geo mengangguk yakin, membuat Aish berpikir ulang. Salah satu tujuannya menikah memang untuk kebahagiaan Abi.


"Berikan aku waktu untuk berpikir Mas."


"Iya, aku tunggu jawabanmu. Beritahu aku kapanpun kamu sudah punya jawabannya." Ujar Geo bertepatan dengan Nasya yang memanggil namanya. Pria itu lekas berdiri menghampiri Nasya.


Bisakah Aish percaya pada pria yang baru beberapa bulan ini dikenalnya. Bahkan ia tidak tahu asal-usul pria itu dari mana. Tapi melihat Geo yang begitu cepat akrab dengan Abi dan Nasya menciptakan keyakinan tersendiri di hatinya. Apalagi saat pria itu terang-terangan melindunginya.

__ADS_1


__ADS_2