Takdir-Ku Kamu

Takdir-Ku Kamu
Part 11


__ADS_3

"Saya tidak pantas menginjakkan kaki di tempat suci ini. Dosa saya terlalu banyak dan saya malu untuk menampakkan diri pada Tuhan." Jawab Geo dengan suara bergetar, selama ini dia begitu jauh dan berjarak dengan Tuhan. Kakinya melangkah mundur, turun dari teras masjid.


"Allah selalu melihat kita dua puluh empat jam, mengawasi tanpa henti. Lebih jeli dari cctv buatan manusia. Hanya kita saja yang selalu lupa dengan keberadaan Allah. Sehingga berbuat sesuatu semau diri sendiri tanpa mengikuti aturan-Nya." Abi Zayid tersenyum ikut turun mendekati Geo.


"Manusia hina seperti saya ini apa masih pantas untuk mendapatkan ampunan?" Tanya Geo ragu, karena ia tidak pernah hidup mengikuti aturan Tuhan.


"Allah itu Maha Rahman dan Rahim, memberikan hidayah pada orang-orang pilihan-Nya. Tidak peduli berapa banyak dosa-dosa yang telah mereka perbuat. Itu bukti kasih sayang Allah kepada hambanya. Dan hari ini Allah telah memilih Nak Geo untuk kembali bersujud pada-Nya. Hidayah itu mahal, tidak bisa didapatkan begitu saja. Betapa beruntungnya Nak Geo yang telah menjadi hamba pilihan itu." Abi Zayid meyakinkan Geo dengan penuturan panjangnya, mengajak pemuda itu kembali bertepatan adzan dzuhur yang dikumandangkan.


Geo masih ragu untuk melangkah memasuki masjid, namun Abi Zayid tidak menyerah sampai pria itu benar-benar berada dalam masjid.


Hal yang pertama kali Geo rasakan adalah kedamaian saat kakinya pertama kali menginjak ubin masjid. Entah datangnya dari mana hawa dingin yang membuat hatinya menjadi adem. Sekujur tubuhnya merinding saat mendengar suara merdu muadzin yang mengumandangkan adzan. Tidak terasa tetesan air matanya jatuh tanpa dikomando.


Abi Zayid menepuk punggung Geo, mengajaknya ke shaf paling depan. Geo menurut, menghapus air matanya yang sempat terjatuh di pipi.


"Bagaimana perasaan Nak Geo?" Tanya Abi Zayid saat satu persatu jamaah masjid kembali setelah usai sholat.

__ADS_1


Geo menepuk dadanya yang sekarang merasakan semakin terhimpit setelah selesai sholat. Ia malu, benar-benar malu pada Tuhan. Diberi kesempatan hidup untuk yang kedua kali tapi tidak dimanfaatkannya dengan baik.


"Sesak, tapi lega." Ungkap Geo yang bingung menjelaskan bagaimana kondisi perasaannya saat ini. Seperti baru saja bertemu dengan seseorang yang sudah lama tidak ia temui. Namun perasaan lega itu bercampur dengan rasa cemas, takut dan khawatir kalau ditinggalkan jauh lagi.


"Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan pada dirinya, maka Allah akan bukakan untuknya pintu perendahan diri, perasaan tidak berdaya, selalu bersandar hatinya kepada Allah Ta’ala dan terus-menerus merasa butuh kepada-Nya.


Ia memeriksa aib-aib dirinya, kebodohan yang ada padanya dan kezalimannya. Di samping itu, ia menyaksikan dan menyadari betapa luas karunia, ihsan, rahmat, kedermawanan dan kebaikan Rabbnya serta kekayaan dan keterpujian diri-Nya.


Oleh karena itu, orang yang benar-benar mengenal (Allah) akan meniti jalannya menuju kepada Allah di antara kedua sayap (sikap) ini. Dia tidak mungkin meniti jalan hidupnya dengan baik kecuali dengan keduanya. Ketika salah satu dari kedua belah sayap itu hilang, maka dia bagaikan seekor burung yang kehilangan salah satu sayapnya.”


"Saya malu," ucap Geo getir.


"Memang seharusnya kita malu pada Allah, karena begitu banyak nikmatnya namun kita sering lalai bersyukur."


"Saya tidak pantas mendapatkan pengampunan Tuhan," lanjut Geo lagi.

__ADS_1


Abi Zayid menggeleng pelan, "Jangan berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun dan sangat menyayangi Nak Geo. Dengan adanya Nak Geo di masjid ini, itu merupakan bukti kasih sayang dan kebesaran Allah." Tuturnya, setelah berbincang cukup lama dan Geo menyatakan ingin belajar di pesantren, Abi Zayid mengajak pemuda itu pulang.


Sesampainya di rumah mereka disambut Aish.


"Abi makan siang duluan ya sudah Aish siapkan," ujar perempuan cantik dalam balutan hijab biru muda itu.


"Kamu gak ikut makan, mau berangkat ke sekolah sekarang?" Tanya Abi Zayid setelah mempersilahkan Geo duduk.


"Aish ke rumah Nana dulu Bi, itu si Nasya lagi ngambek. Gak mau sekolah kalau aku gak datang jemput kesana," jawabnya sambil tersenyum geli. Begitulah ancaman Nasya ketika menelponnya tadi.


Abi Zayid mengangguk, kemudian mengingat sesuatu dan berkata. "Abi sudah sampaikan jawabanmu pada Nak Adam. Lusa mereka akan datang untuk mengkhitbah kamu."


Ucapan sang abi membuat Aish membeku di tempatnya berdiri. Ia seakan kehabisan oksigen untuk bernapas. "Abi, kenapa mendadak?"


"Nanti kita bicara lagi," sahutnya kemudian beralih pada pemuda yang terlihat bingung di depannya. "Ayo makan Nak Geo," ajak Abi Zayid.

__ADS_1


Aish menghela napas panjang beranjak ke kamar, moodnya berubah buruk dalam sekejap. "Tenang Aish, tenang. Kan kamu yang bilang akan menuruti semua keinginan Abi." Dialognya pada diri sendiri, untuk meyakinkan hatinya kembali. Ia memang mau menikah, tapi tidak secepat ini juga. Kesannya jadi terburu-buru.


__ADS_2