
Geo terbangun merasakan kepalanya berat. Ia tidak jadi kembali ke kantor, membiarkan Pandu yang mengurus pekerjaannya. Tangannya meraba-raba ke samping, dimana tadi Aish berbaring disana. Pantas saja ia seperti kehilangan guling hidup, ternyata kosong. Istrinya tidak ada di sampingnya.
"Aish," panggil Geo sambil memijat kepalanya.
Panggilan itu bertepatan dengan Aish yang masuk, membawa segelas jus apel di tangannya. Tadi Rena yang membuatkan, ia tiba-tiba ingin minum yang segar-segar.
"Dari mana?" Gusar Geo. Merebut jus apel di tangan Aish. Perempuan itu tidak dapat menyelamatkan jusnya yang sudah menyapa ke tenggorokan sang suami lebih dulu.
"Mas, aku belum minum!" Aish tak kalah gusar, baru membayangkan minuman itu masuk ke tenggorokannya. Eh, isinya malah sudah berkurang setengah.
"Ini aku sisain," Geo memberikan setengahnya lalu memeluk Aish dari belakang. Tidak mempedulikan wajah masam sang istri, ia membenamkan kepala di ceruk leher Aish. "Kalau gini pusingnya hilang, apalagi kalau lihat kamu gak pake baju."
Ucap Geo mesum, membuat Aish menyemburkan jus yang baru masuk ke mulutnya.
"Mas," rengek Aish yang lagi-lagi tersedak karena suaminya.
"Hm, kenapa. Sakit?" Dengan sengaja Geo membersihkan mulut Aish dengan baju yang dikenakan wanita itu.
"Kamu aneh banget kenapa sih Mas?" Habis sudah kesabaran Aish menghadapi Geo yang menurutnya sangat menyebalkan hari ini.
"Kamu yang kenapa jadi marah-marah, aku cuma mau dimanja." Balas Geo tidak mau kalah.
Aish menghela napas panjang lalu menghembuskannya dengan kasar. "Bajuku jadinya kotor Mas," sebutnya lemas.
__ADS_1
"Tinggal di lepas bajunya, gak usah pakai baju." Sahut Geo asal, diikuti satu alis yang terangkat.
Perempuan itu tidak menyahut lagi, pasalnya Geo tidak mau melepaskan dirinya. Fix suaminya itu sedang kerasukan makhluk halus.
🍃
Keesokan paginya Geo yang baru bangun mengalami muntah-muntah. Pusingnya bukan berkurang, malah bertambah. Ia sampai tidak bisa berangkat ke kantor.
"Mas, kita ke dokter aja ya, kamu pucat gini." Ujar Aish yang baru selesai membaluri tubuh Geo dengan minyak kayu putih. Setelah muntah-muntah tadi suaminya itu terlihat tidak berdaya.
"Aku gak papa, peluk aja sini."
"Kamu sakit Mas."
Sekejap mata saja Aish tidak ada di pandangannya sudah membuat Geo merengek.
Aish hanya bisa pasrah, sejak kemarin siang Geo tidak mau melepaskan dirinya.
"Aku mau sup ikan, tapi buatan kamu. Gak mau buatan bibi," pinta Geo manja tanpa melepaskan pelukannya.
"Dibikinin Mbak Rena aja ya Mas, tanganku gak bisa nih." Aish mengangkat telapak tangan kanannya yang masih terbalut perban.
"Maunya kamu, kan masih ada tangan aku."
__ADS_1
"Hm," Aish mengangguk saja, kalau ditolak akan semakin rewel.
Seperti tadi malam yang tiba-tiba minta buatkan susu sebelum tidur. Padahal ia tidak pernah melihat sang suami minum susu. Aish yang malas bangun tidak mau membuatkan, alhasil Geo merengek seperti anak kecil sampai keinginannya terpenuhi.
"Makasih Umma," Geo tersenyum ceria menghadiahkan kecupan di pipi Aish.
🍃
Sepanjang Aish memasak, Geo tidak mau melepaskan pelukannya. Tubuhnya menempel di belakang Aish, namun tangannya tetap bergerak menuruti apa yang sang istri perintahkan. Ia benar-benar menjadi tangan Aish, dari membersihkan ikan sampai memotong bawang dilakukannya.
"Makannya dihabiskan ya Umma," ujar Geo usil setelah menghidangkan sup ikan di meja.
"Mas, kan kamu yang mau sup ikan."
"Enggak," Geo tanpa merasa bersalah menggelengkan kepala. "Aku cuma mau lihat kamu makan ini."
"Gak mau, pokoknya Mas yang harus makan ini." Seloroh Aish kesal, menyendokkan sup ikan ke mulut Geo menggunakan tangan kirinya.
"Aish," pekik Geo terkejut. Berlari ke wastafel untuk memuntahkan isi perutnya. Perutnya kembali mual saat dimasuki makanan itu.
"Mas," Aish menyusul Geo khawatir.
"Kita ke dokter," paksanya melihat sang suami yang lemas.
__ADS_1
Susah payah Aish menopang tubuh besar itu untuk duduk. Setelahnya menghubungi Pandu sesuai perintah suaminya.