
"Belum tidur?" Tegur Abi Zayid pada Geo yang berdiri di depan dispenser membelakanginya. Ia juga ingin mengambil air putih. Kebiasaannya saat bangun tidur sebelum melakukan sholat malam pasti minum air putih.
Geo terjingkat, "Abiii." Kagetnya saat menoleh kearah suara sambil mengelus dadanya yang berdebar-debar karena terkejut. Ia pikir tengah malam lewat begini semua penghuni rumah sudah tidur.
"Kebangun Bi, haus." Sahut Geo seraya meneguk air yang diambilnya tadi dengan gelagapan. Khawatir kalau Abi tahu apa yang hampir ia lakukan pada Aish.
"Abi gak bisa tidur?" Geo bertanya balik untuk menetralisir rasa gugupnya.
"Baru bangun, bangunin Aish sholat ya Nak. Biasanya dia yang bangunin Abi, mungkin kemarin siang kecapean jadi lupa. Atau kalian habis olahraga, hm." Di akhir kalimatnya Abi Zayid menggoda Geo sembari menuangkan air putih ke gelas.
"Abiii," Geo tersenyum kikuk.
"Buatkan Abi cucu yang banyak ya," bisik sang mertua. Setelahnya menepuk punggung Geo kemudian pamit kembali ke kamar lebih dulu.
Geo mengangguk kecil dengan mata membulat sempurna. "Cucu yang banyak, satu saja belum dirilis." Gumamnya pada diri sendiri, melangkahkan kaki meninggalkan dapur tanpa membawa apa-apa. Melupakan tujuan sesungguhnya datang ke tempat itu.
"Minumnya mana Mas?" Tanya Aish yang sudah dalam posisi duduk menunggu Geo. Ia benar-benar haus, tenggorokannya terasa kering setelah jantungnya dibuat olahraga berkali-kali.
Geo menepuk jidat seraya berseru. "Lupa, tadi airnya aku minum, aku ambilkan lagi ya."
Pria itu bergegas kembali ke dapur mengambil air putih. Tidak tanggung-tanggung Geo membawakan sekalian dengan tekonya.
Aish melongo melihat tingkah Geo dengan alis bertaut. "Ada apa?" Selidiknya pada sang suami.
"Tadi ketemu Abi, aku kaget tiba-tiba ada yang nyapa malam-malam. Mana baru pertama nginap lagi," jelas Geo sambil bergidik membuat Aish terkekeh kecil.
__ADS_1
"Abi emang biasa bangun jam segini, biasanya aku yang bangunin. Aku panggil dari pintu aja Abi sudah bangun, waspada banget." Tutur Aish menjelaskan.
"Abi tadi juga nyuruh aku bangunin kamu," beritahu Geo sambil menuangkan air putih lalu memberikannya pada Aish. "Abi gak tahu aja kalau kamu sudah bangun dari tadi, hm."
Aish mulai mempelajari sisi lain Geo yang kelihatannya suka usil, dari cara pria itu menggodanya.
"Terus Abi bilang buatkan cucu yang banyak." Lanjut Geo yang membuat Aish langsung tersedak, hausnya tiba-tiba lenyap.
Aish menatap Geo dengan perasaan serba salah. Ia tidak mau menuntut Geo untuk menuruti keinginan Abi, cukup tahu diri dengan posisinya sekarang. Geo bersikap baik walau tidak mencintainya, itu sudah lebih dari cukup.
"Maaf ya Mas kalau Abi membuatmu gak nyaman dan bikin kamu kayak dikejar-kejar gini."
"Aku gak mau maafin." Geo mengambil gelas di tangan Aish, meletakkannya di atas nakas. Ia menghapus bibir basah Aish dengan tissue.
"Karena memang tidak ada yang harus aku maafkan. Sekarang Pun kita bisa bikinkan Abi cucu, hm."
Aish terdiam dengan jantung yang semakin berisik. Rasanya saat ini kupu-kupu sedang berterbangan di perutnya.
"Tidak apa kalau tidak bisa sekarang, tidur." Titahnya mengusap ujung kepala Aish. Ternyata ia bisa bersikap seprofesional ini dalam menjalankan tugas. Meski harus menekan rasa sakit dalam dirinya sendiri.
"Aku bisa Mas, aku mau nyoba lagi."
"Yakin?" Tanya Geo memastikan.
Aish mengangguk pelan meyakinkan dirinya.
__ADS_1
"Bawa minum dulu." Ujar Geo mendekatkan bibir gelas sampai ke mulut Aish. Istrinya itu hanya meminum sedikit.
Sebelum memulai kembali Geo menarik napas panjang. Membetulkan niatnya, ia tidak ingin menjadikan Aish hanya sebagai pelarian. Sungguh ia ingin mengganti posisi Ara di hatinya, kalau saja bisa dengan mudah.
"Ingat aku Geo Ferdinand suamimu bukan penjahat itu." Bisik Geo lembut mendekati Aish, kemudian memberikan gigitan kecil di telinga wanitanya.
Hal itu membuat tubuh Aish mendapat sengatan listrik dan merinding, perlahan Geo mulai menuruni leher Aish.
"Arkh," Aish kembali mendorong Geo yang mengendus lehernya sambil menggeleng takut.
Geo sigap menjauhkan kepalanya, menatap mata sendu sang istri dengan teduh.
"Istirahat aja ya, nanti kita coba lagi. Jangan dipaksakan sekarang," Geo kasihan melihat Aish yang memaksakan diri melawan rasa takutnya.
"Aku bisa Mas," Aish berucap dengan bibir bergetar. Takut Allah marah kalau dia tidak bisa memenuhi kewajibannya sebagai istri.
"Aku bisa," ulang Aish untuk meyakinkan dirinya sendiri.
"Biarkan hubungan kita sama-sama nyaman dulu baru kita memulainya lagi ya," Geo tidak memaksakan.
Ada sudut hatinya yang merasa lega karena tidak harus melakukannya malam ini. Hah, sungguh dia lelaki brengsek bukan. Bersikap seperti pahlawan padahal penjahat sesungguhnya.
"Mas gak apa?"
"Aku gak apa," Geo membantu Aish untuk berbaring lalu menyelimutinya. Hasratnya sebagai lelaki tentulah ada. Tapi hatinya belum sepenuhnya yakin untuk menyentuh Aish.
__ADS_1