Takdir-Ku Kamu

Takdir-Ku Kamu
Part 15


__ADS_3

Melihat kehadiran Ustadz Adam Geo langsung mundur. Tidak tahu kalau calon suami perempuan itu ikut bersama mereka. Ia merasa tidak enak hati karena menggendong Aish dan dilihat calon oleh suaminya.


Suasana ruang keluarga hening, sibuk dengan pikiran masing-masing.


Geo sibuk memikirkan bagaimana cara menjelaskan pada Ustadz Adam, sungkan dengan guru agamanya itu. Padahal ini bukan kali pertama untuknya menggendong Aish. Kalau perempuan biasa mungkin tidak terlalu ia pikirkan. Tapi ini putri dari pemilik yayasan pondok pesantren, pastilah marwahnya sangat terjaga.


Sementara Adam sibuk menerka penyebab histerisnya sang calon istri. Aish seperti memiliki trauma yang ia tidak tahu apa itu.


"Maaf Nak Adam, tadi darurat. Aish tiba-tiba pingsan," Abi Zayid buka suara untuk melepas kecanggungan yang tercipta agar tidak terjadi salah paham.


"Tidak perlu minta maaf Abi," pria bernama Adam itu tersenyum lembut pada calon mertuanya. Dia tidak terlalu mempermasalahkan perihal pria lain yang menolong calon istrinya. Walau ada rasa tidak rela di hati.


Abi Zayid menghela napas lega karena Adam bisa mengerti situasi yang sedang mereka hadapi.


"Kalian duduklah dulu," suruhnya lalu beranjak ke kamar untuk mengambil selimut dan minyak kayu putih. Tidak lupa meminta pelayan membuatkan teh untuk dua pemuda itu.


"Maaf Ustadz, sudah tidak sopan menyentuh calon istri Anda." Ucap Geo untuk membebaskan rasa canggung diantara mereka.


"Tadi darurat, langkahmu sudah tepat." Sahut Adam dengan tenang, "terima kasih ya Mas, saya datang terlambat." Lanjutnya menepuk pundak Geo yang dijawab pria itu dengan anggukan kepala.

__ADS_1


Tidak berapa lama Abi Zayid datang menyelimuti putrinya kemudian mengoleskan minyak kayu putih ke beberapa titik. Setelahnya mengambil tissue dan meneteskan minyak kayu putih di sana lalu mendekatkan ke hidung Aish.


Menghirup aroma mint menyegarkan yang masuk ke indra penciumannya Aish mengerjapkan mata.


"Abi!" Lirihnya membuka netra yang sembab secara perlahan.


Abi orang yang dilihatnya saat membuka mata. Pria yang begitu menyayanginya itu tengah tersenyum teduh padanya. Gurat lelah tak bisa dihilangkan dari wajah itu.


"Iya, Abi disini Nak." Sahut Abi Zayid sembari merapikan jilbab Aish yang berantakan.


"Maafin Aish," ucap Aish sendu karena sudah membuat keributan. Ia membuat Abi jadi malu memiliki anak yang tidak waras sepertinya.


"Aish sudah bikin malu Abi," gumam Aish sendu. Membangunkan tubuhnya lalu duduk dengan kepala yang masih terasa berat dan berisi penuh.


"Abi tidak pernah malu memiliki kamu. Kamu anugerah yang Allah ciptakan untuk selalu Abi jaga," pria lanjut usia itu mengusap sudut mata Aish yang berembun kemudian membawanya dalam pelukan.


"Aish kaget Abi. Aish ingat Ummi. Aish takut!!" Ucap Aish yang mendapat usapan lembut di punggungnya dari sang abi.


Beberapa detik kemudian perempuan itu tersadar kalau di ruangan ada empat mata yang sedang memindai ke arahnya dengan tatapan berbeda. "Kenapa mereka disini Abi," bisik Aish lalu membenamkan wajahnya ke pelukan Abi Zayid.

__ADS_1


"Nak Geo yang membawamu pulang dan calon suamimu sedang khawatir padamu," Abi Zayid balas berbisik tidak melepaskan sang putri dari pelukan.


Ia memang jarang menunjukkan kasih sayangnya pada Aish. Karena putrinya ini terlalu mandiri.


"Abi gak ceritakan?" Aish mendongakkan wajah, mendapatkan gelengan kepala dari Abi sebagai jawaban. Membuat wanita itu bisa bernapas lega.


🍃


Tidak ada yang berani bertanya kenapa Aish bisa histeris. Abi Zayid menutup semua cerita masa lalu yang bisa membuat trauma putrinya kembali.


Hanya saja mereka yang melihat Abi Zayid mengizinkan pria asing menggendong putrinya menyayangkan semua itu. Padahal disana ada Ustadz Adam yang sudah menjadi calon suaminya.


"Sudah, gak usah dengerin ucapan mereka. Waktu itu Abi gak lihat ada Nak Adam disana, dan kamu bersembunyi pada Nak Geo." Tutur Abi lembut, putrinya yang terlihat melamun beberapa hari ini membuatnya buka suara.


Aish tersenyum getir, mengingat kejadian malam dimana Ummi menghembuskan napas terakhir setelah mendapatkan luka tusukan.


Ia berlari meninggalkan rumah sambil berteriak dan menangis memanggil Abi. Malam itu Abi masih mengisi ceramah di masjid. Di tengah ketakutannya ia menabrak orang yang dalam pikirannya adalah Abi. Aish langsung memeluknya, memberitahu apa yang terjadi dengan tergagap dan tumpahan air mata.


"Assalamualaikum," ucapan salam membuyarkan lamunan Aish. Ia masih diam di tempat duduknya saat Abi beranjak menyambut tamu.

__ADS_1


__ADS_2