
"Angkat kepalamu, nanti mahkotanya jatuh." Bisik Geo di telinga Aish saat Adam sudah berlalu dari hadapan mereka setelah memberikan ucapan selamat dan mendoakan keduanya.
Aish refleks mengangkat kepala, mempertemukan netranya dengan netra Geo yang sudah berubah posisi jadi di hadapannya. Para tamu memang tidak banyak, jadi mereka tidak perlu berdiri terlalu lama untuk menerima ucapan selamat.
"Mau ke kamar?" Tawar Geo yang langsung disetujui Aish.
Sedari tadi memang Aish sudah merasa tidak nyaman berada diluar. Walau tidak ada yang membicarakan tentangnya. Namun tetap saja ia lebih suka menyendiri sekarang.
"Istirahatlah, aku menemani Abi dulu di luar." Ujar Geo setelah mengantarkan Aish sampai ke kamar.
Aish mengangguk kecil, " Mas." Panggilnya, membuat Geo yang sudah beranjak beberapa langkah membalikkan badan.
"Ya."
"Minta tolong panggilin Bibi ya buat lepas ini," tunjuk Aish pada gaun pengantin yang masih melekat di tubuhnya.
"Kalau cuma mau lepasin itu gak usah panggil Bibi. Aku masih bisa membantu," Geo membawa Aish duduk di meja rias dan ia berdiri di belakang wanita itu.
Wajah mereka masuk dalam satu frame cermin. Membuat bibir Aish melengkung ke atas membentuk senyuman.
"Ada apa?" Tanya Geo dengan alis berkerut seraya melepaskan satu persatu jarum pentul yang menjadi penyangga hijab Aish. Ia bisa melihat Aish tersenyum dari pantulan cermin.
__ADS_1
"Aku bisa abadikan ini sebagai foto dalam ingatanku. Makasih ya sudah mau membantuku," ucap Aish tulus tidak menghilangkan senyuman di wajahnya.
Ia tidak masalah kalau Geo tidak menginginkan sesi foto dalam pernikahan ini. Ya, hanya syarat itu yang Geo pinta dan Aish setuju tanpa mempermasalahkannya.
"Nanti kalau anak kita besar dan ingin mendengar cerita orang tuanya. Aku bisa menjelaskan bagaimana papanya waktu muda," lanjut Aish bangga.
Geo tidak menanggapi, memberikan respon dengan wajah datar. Ia masih mengurus jarum-jarum yang menempel di hijab Aish dengan perasaan keheranan. Kenapa harus menggunakan begitu banyak jarum dengan pentulan kecil yang bisa membahayakan ini.
"Maaf, bukain resletingnya aja Mas. Tangan aku gak nyampe, yang lain bisa aku selesaikan sendiri kok." Ujar Aish tersadar sudah banyak bicara. Geo mungkin tidak menyukai orang yang cerewet, pikirnya.
Akhir-akhir ini Aish memang sangat jarang berinteraksi dengan orang lain. Hanya Geo yang menjadi lawan bicaranya. Dan itu yang membuatnya bisa lebih santai bicara dengan pria itu tanpa rasa cemas. Padahal cuma masalah pernikahan yang mereka bicarakan.
Geo membuka resleting gaun Aish tanpa ada adegan terpesona. Karena sang istri menggunakan manset berlengan panjang.
"Terima kasih Mas," Aish kembali tersenyum.
Perhatian kecil yang Geo tunjukkan, membuat hatinya menghangat. Tapi Aish sadar, pria itu hanya sekedar melakukan kewajiban untuk melindunginya. Selebihnya ia tidak bisa menyentuh sisi lain Geo. Seperti tadi, ketika dia membahas hal yang lebih menjurus Geo terlihat datar.
"Istirahat," Geo menepuk puncak kepala Aish yang masih terlapisi ciput. Ya, dia sampai selesai melepaskan hijab Aish walau wanita itu menyuruhnya berhenti.
"Kenapa sih suka banget bikin aku deg-degan. Ya Allah aku takut kecewa," gumam Aish saat Geo sudah menghilang di balik pintu kamar. Memegangi kepalanya yang tadi ditepuk Geo, entah berapa kali sudah kepalanya mendapatkan elusan dari pria itu hari ini.
__ADS_1
"Kamu boleh mencintainya Aish, tapi tidak boleh sakit hati kalau dia pergi. Kecewa boleh tapi jangan meratapi," Aish memegangi dadanya.
Ada rasa takut kehilangan, apalagi pernikahan ini hanya bentuk rasa kasihan Geo padanya. Dia tidak boleh mengharapkan cinta Geo, tapi Aish bisa memanfaatkan waktu yang ada ini untuk mencintainya sebagai suami. Tidak ada perjanjian sampai kapan pernikahan ini berakhir. Geo berjanji membantunya membahagiakan Abi dan memberikan anak untuknya.
Apa dia terlalu murahan mengatasnamakan pernikahan hanya untuk membuat Abi bahagia. Padahal Abi sudah bilang tidak menuntutnya untuk menikah lagi.
🍃
Sampai suasana rumah sepi Aish baru keluar kamar. Dekorasi di ruang tengah belum dilepaskan. Sejak siang tadi ia tidak melihat Geo lagi, entah pergi kemana suaminya itu.
"Abi capek," Aish mendekati Abi yang duduk dikursi kebesarannya.
"Sedikit, padahal undangannya gak banyak ya tapi berasa capeknya kalau menikahkan anak gadis sendiri." Goda Abi Zayid yang tidak berhenti menampilkan raut bahagianya.
"Makasih ya Abi, gak lelah besarin dang ngurusin Aish. Mencintai dan menyayangi Aish sampai sekarang."
"Sekarang sudah ada yang menjaga kamu jadi Abi lebih tenang, gak khawatir lagi. Kamu turuti semua keinginan suamimu ya Nak, asal tidak melanggar syariat Allah. Geo sepertinya sangat menyayangi kamu."
Aish mengangguk pelan, tersenyum manis menyembunyikan fakta kalau Geo tidaklah mungkin menjatuhkan hati padanya. "InsyaAllah Abi, Aish akan berusaha jadi istri yang baik. Doain Asih ya agar bisa menjalankan ibadah terlama ini dan menghadapi segala ujian di dalamnya."
"Tanpa kamu minta Abi selalu mendoakan Nak."
__ADS_1
Aish menganggukkan kepala dan memeluk Abi dari belakang. "Semoga Aish bisa menjalankan rumah tangga ini walau tidak mendapatkan cinta dari suami Aish Bi. Selama Geo tidak menyakiti hati dan fisik Aish terang-terangan, InsyaAllah Aish kuat." Aish membatin, belum apa-apa rasa khawatirnya sudah lebih besar. Tidak seperti sebelum-sebelumnya dia masih bisa bersikap tidak acuh mau Geo mencintainya atau tidak. Duh hati, memang tidak bisa ditebak maunya apa.