
"Mama sudah bilangkan, kalau perempuan itu tidak pantas untukmu. Lihat saja sekarang, dia meninggalkanmu tidak peduli dengan kehamilannya. Ceraikan saja perempuan gila itu. Masih banyak perempuan yang lebih muda, pintar, dan cantik yang mau denganmu." Omel mama yang mengunjungi Geo.
Pria itu jatuh sakit, sudah satu minggu ini tidak dapat melakukan apa-apa. Morning sickness yang beberapa waktu lalu sudah reda, kini kembali lagi saat dirinya berjauhan dari Aish. Bahkan sekarang lebih parah, membuat tubuh Geo hanya bisa terbaring lemas di tempat tidur.
"Diem Mah!! Telingaku pusing mendengar suara Mama." Tegur Geo yang jengah dengan kehadiran sang mama.
Bukannya memberikan semangat, ibu yang telah melahirkannya itu malah mengompori supaya dirinya bercerai dengan Aish.
Antara kasihan dan lucu, Ferdinand tertawa geli mendengar celotehan putranya. Mana ada orang yang mengalami telinga pusing.
"Kau ini susah kalau dibilangin, yakin kalau yang dikandungnya itu anakmu." Perempuan paruh baya itu tetap bicara mengutarakan isi hatinya. Tidak peduli pada tatapan tajam anak dan suaminya.
"Mah!!" Tegur Ferdinand dan Geo bersamaan.
"Putramu tidak akan menggelepar seperti ini kalau yang dikandung Aish bukan cucu kita. Jaga mulutmu itu, jangan keterlaluan kalau bicara." Sentak Ferdinand geram, semakin didiamkan istrinya ini semakin menjadi-jadi.
"Kalian kenapa suka sekali membela perempuan tidak benar itu!"
"Cukup Mah, lebih baik Mama pulang sekarang!" Usir Geo menunjuk ke arah pintu, setelahnya calon ayah itu mengalami muntah-muntah lagi.
"Kita ke rumah sakit," putus Tora yang kasihan pada putranya. Wajah tampan itu sudah seperti mayat, pucat dan tak bertenaga. Tapi masih bisa marah-marah.
"Ogah, aku gak sakit Pah!" Tolak Geo seperti anak kecil.
__ADS_1
Tidak mau meninggalkan kamarnya yang menyimpan kenangan bersama Aish. Selama tinggal bersama istrinya itu, Geo sangat jarang membawa Aish jalan-jalan keluar dan membahagiakannya.
Kalau pun bersama, mereka hanya menghabiskan waktu dalam kamar. Bodohnya Geo, kenapa tidak mengajak istrinya itu liburan sekaligus honeymoon. Karena Aish yang selalu bersikap dewasa dan tidak pernah meminta apapun, Geo jadi tidak pernah memikirkan hal seperti itu.
"Ini kalau gak sakit apa namanya." Ferdinand sampai menjewer telinga putranya.
"Ini cuma bawaan bayi Pah, mereka gak mau jauh-jauh dari aku. Makanya Papa turun tangan sana cari menantu Papa." Suruh Geo yang tidak bisa bergerak lagi selain meminta anak buahnya lebih gencar melakukan pencarian. Ia tidak ingin tersiksa lebih lama tanpa Aish.
"Ck, kau yang membuat masalah Papa yang harus membereskannya."
"Jangan lupa kalau semua ini karena ulah anak kesayangan Papa. Kalau tidak karena Leo yang selalu mengusik keluarga kecilku, Aish tidak akan pergi!!" Geram Geo dengan suara lemah.
Ferdinand menghela napas panjang karena salah bicara.
"Arkh," tidak biasanya ia merasakan hal seperti ini. Padahal Aish tidak melakukan aktivitas berat yang bisa memicu kelelahan.
"Bi sakit," rengek Aish saat perutnya terasa semakin nyeri. Perempuan hamil itu sampai mengeluarkan keringat dingin.
"Bibi panggil dokter," perempuan paruh baya itu mendekati Aish. Bergegas menelpon dokter wanita yang ditugaskan khusus untuk mengawasi kandungan majikannya.
Segala keperluan wanita hamil itu di sediakan di villa. Aish dibatasi untuk keluar dari area villa, karena bisa membahayakan dirinya.
Tidak berapa lama seorang dokter wanita yang masih muda datang melakukan pemeriksaan.
__ADS_1
"Anda hanya stres dan kebanyakan pikiran. Saya sarankan agar suami juga mendampingi saat-saat kehamilan seperti ini." Dokter itu menyarankan, membuat Aish terdiam sendu.
"Kalau Nak Aish mau pulang, Bibi bisa beritahu Tuan Ken." Ujar pelayan yang kembali ke kamar setelah mengantarkan dokter pulang.
Aish menggelengkan kepala, "enggak Bi. Aku masih mau disini," katanya dengan bibir yang berusaha untuk tersenyum.
Perempuan paruh baya itu menatap iba pada Aish. Tiga bulan menemani Aish, ia tidak pernah melihat wanita hamil itu mengeluh selain memberikan kata penyemangat pada perut buncitnya.
"Bibi bisa keluar, aku gak apa kok. Paling setelah istirahat nanti perutnya sudah lebih baik."
"Iya," pelayan itu mengangguk kecil. "Kalau masih sakit panggil Bibi ya."
Aish menjawab dengan senyuman. Setelah sendirian di kamar, perempuan hamil itu memikirkan kembali ucapan dokter tadi.
Memang, selama bersama Geo anak-anaknya ini tidak pernah kekurangan kasih sayang. Sampai ia cemburu pada kandungannya sendiri.
Apa Aish egois kalau hanya memikirkan dirinya sendiri dan menjauhkan anak-anak dari ayahnya.
"Umma gak bermaksud membuat kalian jauh dari Papa, tapi Umma juga gak bisa berada di dekat Papa Nak."
Tanpa dikomando air matanya berjatuhan saat mengusap perut buncit yang sekarang sudah memasuki bulan ketujuh. Dua bulan lagi Aish akan melahirkan sendirian.
Abi pun tidak tahu dimana dirinya berada. Aish hanya menitipkan pesan agar Abi tidak perlu mengkhawatirkan keadaannya.
__ADS_1