
“Nak Adam,” panggil Abi Zayid pada pria yang sudah ingin pulang.
Matahari condong ke arah barat, sinarnya mulai kembali ke peraduan. Namun putrinya belum juga pulang, itu yang membuatnya cemas dan memutuskan bertanya pada Adam.
“Iya Abi,” Adam berjalan mendekati calon mertuanya yang seperti sedang terburu-buru.
Setelah dari butik dan mengantar Aisyah pulang ke rumah tadi Adam langsung kembali ke pesantren. Ia hanya sesekali menginap di pesantren.
“Aish ada bilang pergi kemana? Sampai sekarang dia belum pulang. Abi sudah telepon orang tua Nasya, tapi dia tidak ada disana. Ponselnya juga tidak bisa dihubungi,” jelas Abi Zayid dengan raut wajah gelisah.
Gurat-gurat kelelahan nampak tergambar dari kerutan yang semakin timbul. Namun tidak mengurangi wibawa dan ketampanannya. Ayah kandung Aishabella itu masih terlihat tampan dan gagah.
Adam menjawab dengan gelengan kepala, mengambil ponsel dan mencoba menghubungi calon istrinya namun tidak bisa tersambung.
“Adam cari Aish ke sekolah dulu ya Abi, siapa tahu masih disana.” Ujar Adam masih bersikap tenang, karena berpikir mungkin Aish telat pulang dan ponselnya kehabisan baterai jadi tidak bisa memberi kabar.
“Kabari Abi ya Nak,” pria berusia senja itu berusaha untuk tetap tenang. Dengan bibir yang terus melafalkan doa, semoga Allah selalu melindungi putrinya. Tidak biasanya Aish telat pulang dan tidak memberinya kabar.
“Iya Abi,” Adam mengangguk kemudian menyalami Abi Zayid setelahnya ia menuju TPA tempat Aish mengajar.
Sampai disana tidak ada siapa-siapa. Pak Satpam yang menjaga sekolah itu mengatakan kalau Aish sudah lama pulang dijemput oleh seorang pria.
"Bapak kenal siapa yang menjemput Aish?" Tanya Adam yang mulai dihinggapi kecemasan. Kalau tadi dia bisa tenang karena menganggap Aish masih di sekolah, namun sekarang hatinya mulai gelisah saat tahu calon istrinya itu sedang bersama pria.
__ADS_1
"Saya gak kenal, tapi Pak Ustadz bisa lihat di cctv. Mungkin kenal wajahnya," usul Pak Satpam mengajak Adam untuk melihat rekaman cctv yang kameranya terpasang di depan pos.
Adam mengangguk setuju dengan usul Pak Satpam. Ia mengikuti pria yang berusia lebih tua darinya itu masuk ke dalam pos dan melihat rekaman disana.
Gigi menggeretak dengan tangan terkepal menahan emosi saat tahu siapa pria yang sedang bersama Aish. Ia bergegas kembali ke pesantren untuk memberitahu Abi Zayid setelah meminta potongan rekaman cctv dan mengucapkan terimakasih pada Pak Satpam.
Kalau saat Aish pingsan dan Geo berinisiatif membantu menggendong calon istrinya itu ia masih bisa berpikir positif dan tetap tenang. Tapi sekarang, saat tahu kalau pria itu sedang main belakang dan mencari kesempatan untuk merebut Aish darinya ia sangat marah.
Adam berjalan dengan angkuh mendekati pria yang sudah membuatnya emosi sedang mengobrol dengan Abi.
“Kemana kamu membawa Aish hah!” Tuduhnya diikuti tinjuan yang melayang ke wajah Geo.
Karena mendapatkan serangan dadakan Geo sedikit terhuyung dengan sudut bibir yang pecah dan mengeluarkan darah segar. Ia tidak mengerti kenapa Ustadz Adam datang-datang menyerangnya.
“Nak Adam jelaskan dulu, Aish kemana dan siapa yang membawanya?” Abi Zayid menarik tubuh Adam yang ingin melayangkan pukulan kembali. Dan Geo sudah siap untuk menghalaunya.
“Dia yang bawa Aish pergi Bi,” sentak Adam dengan emosi. Entah kenapa dia tidak bisa menahan diri, khawatir terjadi sesuatu pada calon istrinya itu.
Geo membelalakkan mata dituduh membawa Aish, namun beberapa detik kemudian pria itu mendesah berat saat menyadari sesuatu. Pasti semua ini ulah Leo, saudara keparatnya itu. “Tenang dulu, aku bisa jelaskan.”
“Benar kamu yang membawa Aish, Geo? Kenapa kamu melakukannya?" Abi Zayid menatap tidak percaya pada pemuda yang dianggapnya baik itu dengan rentetan pertanyaan.
Geo mengusap wajah frustasi berusaha menjelaskan, “bukan saya Abi.” Sanggahnya, namun terpotong oleh ucapan Adam.
__ADS_1
“Lalu siapa lagi kalau bukan kamu, jelas-jelas rekaman cctv itu menunjukkan wajah kamu! Memang orang yang punya wajah sepertimu itu ada dua!” Serang Adam semakin naik pitam.
“Memang ada dua dan bukan orang yang menculik Aish.” Jawab Geo, namun hanya dianggap bualan oleh Adam dan Abi Zayid.
“Katakan dimana Aish?” Teriak Adam maju beberapa langkah mendekati Geo.
“Demi Allah saya tidak tahu Ustadz, tapi saya tahu siapa yang melakukannya.”
“Jangan bawa-bawa Allah dan jangan banyak berkilah. Jelas kamu tahu kalau kamu pelakunya,” sengit Adam dengan tatapan menyorot kebencian.
Pria yang biasanya memancarkan tatapan teduh itu, sekarang tidak terlihat lagi keteduhannya. Hanya ada kemarahan yang memancar di matanya.
“Kembalikan putri saya Geo!” Abi Zayid ikut mendesak.
“Kalian tenang sebentar, saya tidak bisa berpikir cara menyelamatkan Aish kalau kalian menyerang saya seperti ini.” Geo tetap tenang kemudian menghubungi asistennya untuk mencari keberadaan Leo.
“Sandiwara apa yang sedang kau mainkan hah, kembalikan Aish sekarang juga!"
“Ustadz, saya tidak tahu dimana Aish.” Pasrah Geo, ucapannya terjeda kala adzan magrib berkumandang.
“Saya harap kamu mengembalikan putri saya sebelum sholat isya tiba.” Ucap Abi Zayid dingin lalu beranjak menuju masjid.
“Allahu Akbar,” Geo mengusap wajah gusar. Ikut melangkahkan kaki ke masjid, dalam hatinya terus memanjatkan doa agar Leo tidak bertindak diluar batas. Karena saudara kembarnya itu lagi-lagi menjual namanya. Dan inilah yang Leo mau, namanya hancur dan lenyap dari muka bumi.
__ADS_1