Takdir-Ku Kamu

Takdir-Ku Kamu
Part 67


__ADS_3

"Bunda," Nasya naik ke tempat tidur memeluk perut Aish yang sudah membuncit.


Entah apa yang dibisikkan Elvina sang tante, sampai membuat anak kecil itu bisa berakting di depan Geo. Dan sukses membuat suami Aish itu tidak curiga.


"Om penculik sedang ulang tahun ya, jadi kita kerjain?" Tanya Nasya lugu yang diangguki Aish.


"Nasya harus bisa jaga rahasia ya, biar kejutannya berhasil." Pinta Aish, sedikit khawatir kalau anak Adnan yang polos ini ceplas-ceplos bicara saat bertemu suaminya nanti.


"Siap, Nasya pintar jaga rahasia kok." Ujarnya menciumi perut Aish, "dedek kalau masih dalam perut pintar. Gak seperti adek Nasya," celotehnya.


Aish tersenyum mengusap kepala bocah yang sedang memainkan perutnya sambil menunggu jam keberangkatan. Ia sudah memutuskan untuk pergi dari suaminya. Tidak tahan hidup bersama pria yang masih mencintai perempuan lain, sangat menyakitkan. Geo hanya menginginkan anaknya namun bukan dirinya.


"Nasya di panggil Abi," beritahu Attisya yang masuk ke kamar Aish bersama adik iparnya, Elvina.


"Baik Ummi," Nasya kecil menurut turun dari tempat tidur. Sebelum pergi ia mencium perut Aish terlebih dulu.


"Kamu yakin mau pergi, anak-anak perlu ayahnya." Elvina menatap sendu kakak sepupunya. Walau Aish tidak bercerita banyak, ia bisa merasakan kesedihan wanita hamil itu.


"Mereka tidak akan kehilangan papanya," Aish tersenyum mengusap perutnya. Semoga ini keputusan yang terbaik, daripada terus terluka dalam diam.


Ah dia lupa, foto pernikahan pun Aish tidak punya. Bagaimana nanti ingin mengenalkan anak-anak pada papanya.

__ADS_1


"Tetaplah disini bersama kami, biar kami yang menjagamu. Kasihan Abi kalau ditinggal," Elvina tak kuasa menahan air matanya. Sangat berat hatinya untuk melepaskan dan menyetujui keinginan Aish untuk bersembunyi dari suaminya.


"Aku akan menyusahkan kalian disini dan Geo pasti akan datang lagi." Aish tetap teguh pada pendiriannya, untuk Abi ia akan mengabarinya nanti.


🍃


Geo mengepalkan tangan saat mengingat kembali siapa dalang dibalik semua masalahnya. Tidak lain dan tidak bukan adiknya sendiri yang menjebaknya.


Leo juga yang sudah menghasut Rena agar berpenampilan seperti Ara. Ralat, bukan Leo namun orang suruhannya. Perempuan itu tidak bersalah dan tidak tahu apa-apa.


"Brengsek Leo!!" Umpat Geo kasar.


"Sayang kalian dimana?" Pria itu mendesah frustasi, "aku janji akan bilang cinta sama kamu kalau kita ketemu nanti. Bodohnya aku yang tidak menyadari perasaan ini, Aish."


Geo menepuk dadanya yang terasa sesak. Baru satu hari tidak bersama Aish hidupnya sudah seberantakan ini. Jangankan untuk berangkat ke kantor, untuk bangun saja tidak bersemangat. Kerjaannya hanya memantau orang-orang yang sudah ia bayar untuk mencari keberadaan Aish.


"Sayang," Geo teringat saat menghapus air mata Aish yang menangis tidak jelas karena apa.


"Cerita sama Mas, apa yang bikin gak nyaman. Apa yang bikin dadanya sesak?" Tanyanya lagi dengan lembut seraya mengusap punggung sang istri.


Istrinya itu tidak menjawab, malah menguatkan pelukan padanya. Seakan pelukan itu tidak boleh dilepas. Membuat Geo semakin keheranan.

__ADS_1


"Cup-cup, Umma mau apa? Apa yang bikin gak nyaman Aish?"


Tanpa melepaskan pelukannya Geo menempelkan pipinya pada pipi Aish. Tangan yang tidak berhenti memberikan elusan.


"Kalau sudah tenang, cerita ya. Apa yang bikin Umma gak nyaman," bujuk Geo lembut.


"Aku cemburu sama mereka Mas?" Aish kembali sesenggukan sambil mengusap perutnya.


"Kenapa cemburunya sama mereka?" Tanya Geo, lucu bukan alasan yang membuat istrinya itu menangis dan uring-uringan sejak semalam.


"Kamu lebih menyayangi mereka daripada aku," sebut Aish. Sontak Geo langsung tergelak mendengar jawaban itu.


"Dengar ya Aish Sayang," Geo membiasakan diri memanggil istrinya dengan sebutan seperti itu.


"Kalau seandainya aku harus terpaksa disuruh memilih antara kamu dan nyawa anak-anak kita. Aku tetap akan memilih kamu yang berada disisiku. Jangan berpikir aku tidak menyayangimu, kamu sangat berarti untukku."


"Mas bohong, Mas bilang gitu biar aku senang ajakan." Seru Aish, Geo geleng-geleng kepala sambil tertawa kecil mendengar tuduhan itu.


Sekarang Geo barulah mengerti akan arti percakapan beberapa bulan yang lalu dengan istrinya itu. Sebegitu lelahnya kah hati Aish sampai merasa cemburu pada kandungannya sendiri.


Sementara Geo sibuk menenangkan hanya untuk menghilangkan overthinking sang istri. Padahal yang Aish butuh hanyalah ungkapan cinta yang tulus dan pengakuan darinya.

__ADS_1


__ADS_2