
Aish tinggal di sebuah villa yang jaraknya sekitar empat puluh menit dari pusat kota. Tempatnya jauh dari keramaian, menciptakan nuansa alami yang sejuk dan nyaman. Sangat pas untuk menenangkan diri.
Ini merupakan villa milik Ken, pria yang dulu pernah mengisi relung hati Aish. Namun ternyata menikah dengan adik sepupunya sendiri.
Pria itu juga yang dulu menenangkannya saat ketakutan melihat Ummi terbunuh di hadapannya. Ya, Ken lah pria masa lalu yang sulit untuk Aish lupakan. Namun sekarang sudah terganti oleh sosok Geo, sang suami.
Villa ini dikelilingi hamparan sawah yang luas, udaranya masih sangat segar dan tidak terpapar polusi.
Aish memandangi hamparan sawah hijau sambil mengelus perutnya yang mulai membesar. "Anak-anak Umma kuat ya Nak."
Hatinya sudah cukup sakit berada di sisi Geo, Aish tidak bisa mentoleransi lagi. Sudah cukup selama beberapa bulan ia hidup dengan pria yang hanya memikirkan perempuan lain. Dadanya terasa sesak setiap kali mendengar sang suami menyebutkan nama perempuan itu.
"Nak, anginnya terlalu kencang. Nanti masuk angin, ayo masuk." Tegur seorang pelayan wanita yang ditugaskan menjaga Aish selama dua puluh empat jam.
"Sebentar lagi Bi, udaranya sejuk bikin nyaman." Ujar Aish tersenyum pada wanita paruh baya yang menemani hari-harinya.
Pelayan itu ikut tersenyum dan duduk di samping Aish. "Kata orang jaman sekarang, nature is healing. Kehidupan menyakiti namun alam yang menyembuhkan. Dengan melihat alam kita bisa sambil bertafakur. Mensyukuri semua ciptaan Allah yang bisa membuat hati jadi lebih tenang."
Aish menoleh pada perempuan paruh baya dengan jilbab lebar itu. Bibirnya melengkung menyunggingkan senyuman, "boleh Aish peluk." Pintanya, tanpa menunggu persetujuan perempuan hamil itu memeluk pelayan yang dipanggilnya bibi.
"Aish kangen Ummi," lirihnya sendu. Bersama bibi, Aish seperti memiliki Ummi kembali. Perempuan itu selalu menemaninya kemana-mana. Tidak membiarkannya sendirian.
__ADS_1
Pelayan itu tidak menyahut, mengusap lengan Aish untuk memberikan ketenangan. Sementara di kota yang berbeda, tak ada sehari pun yang bisa Geo lalui dengan damai.
Hidupnya semakin kacau dan berantakan tanpa Aish. Membuat Leo lebih mudah untuk menghancurkannya.
Tanpa Geo sadari, Leo juga sedang gencar melakukan pencarian pada Aish. Ini kesempatannya untuk menghancurkan Geo sehancur-hancurnya.
"Abi makan dulu, Geo janji akan menemukan Aish." Ujar Geo yang setiap hari menyempatkan diri untuk menjenguk Abi Zayid di rumah sakit. Setelah mendapat kabar kepergian Aish, ayah mertuanya itu jatuh sakit.
"Abi gak nafsu makan," jawab Abi Zayid lemas.
"Maafkan Geo yang gak bisa menjaga Aish Bi," entah ini sudah kata maaf yang keberapa kalinya Geo ucapkan hari ini. Dia merasa gagal menjadi suami, apalagi istrinya pergi dalam keadaan mengandung anak-anaknya.
"Abi sakit bukan karena memikirkan Aish, hanya kecapean saja." Abi Zayid berbohong, ingin menyalahkan Geo namun juga kasihan pada menantunya ini. Semua sudah terjadi, ia hanya bisa berdoa agar putrinya selalu dalam lindungan Allah.
"Umma, kalian dimana?"
Gumam Geo penuh sesal, kenapa penyesalan selalu datang belakangan. Kenapa ia tidak bisa menyadari kalau hari-harinya sudah dipenuhi oleh Aish.
Saat merindukan sang istri, Geo hanya bisa memutar bayangan tentang Aish yang ada di kepalanya. Ia tidak punya satupun foto Aish di ponselnya. Sampai sekarang masih foto Ara yang memenuhi memori ponsel Geo.
"Mas." Panggil Aish, membuat Geo yang sudah beranjak beberapa langkah membalikkan badan.
__ADS_1
"Ya."
"Minta tolong panggilin Bibi ya buat lepas ini," tunjuk Aish pada gaun pengantin yang masih melekat di tubuhnya.
"Kalau cuma mau lepasin itu gak usah panggil Bibi. Aku masih bisa membantu," Geo membawa Aish duduk di meja rias dan ia berdiri di belakang wanita itu.
Wajah mereka masuk dalam satu frame cermin. Membuat bibir Aish melengkung ke atas membentuk senyuman.
"Ada apa?" Tanya Geo dengan alis berkerut seraya melepaskan satu persatu jarum pentul yang menjadi penyangga hijab Aish. Ia bisa melihat Aish tersenyum dari pantulan cermin.
"Aku bisa abadikan ini sebagai foto dalam ingatanku. Makasih ya sudah mau membantuku," ucap Aish tulus tidak menghilangkan senyuman di wajahnya.
Ia tidak masalah kalau Geo tidak menginginkan sesi foto dalam pernikahan ini. Ya, hanya syarat itu yang Geo pinta dan Aish setuju tanpa mempermasalahkannya.
"Nanti kalau anak kita besar dan ingin mendengar cerita orang tuanya. Aku bisa menjelaskan bagaimana papanya waktu muda," lanjut Aish bangga.
Geo tidak menanggapi, memberikan respon dengan wajah datar. Ia masih mengurus jarum-jarum yang menempel di hijab Aish dengan perasaan keheranan. Kenapa harus menggunakan begitu banyak jarum dengan pentulan kecil yang bisa membahayakan ini.
"Maaf, bukain resletingnya aja Mas. Tangan aku gak nyampe, yang lain bisa aku selesaikan sendiri kok." Ujar Aish tersadar sudah banyak bicara. Geo mungkin tidak menyukai orang yang cerewet, pikirnya.
Mengingat percakapan itu membuat dada Geo semakin terasa sesak. Bagaimana tabahnya Aish menghadapi dirinya.
__ADS_1
Jika setiap wanita ingin selalu dianggap cantik dan mengabadikan setiap momen bahagia di hari pernikahannya. Tidak dengan Aish yang setuju dengan persyaratan Geo. Hanya karena tidak ingin memiliki kenangan dengan istrinya, Geo sampai melukai perasaan Aish sedalam itu. Dan kini ia sangat menyesali kebodohannya.