Takdir-Ku Kamu

Takdir-Ku Kamu
Part 23


__ADS_3

Melihat Abi Zayid yang hatinya terluka, membuat rasa bersalah Geo semakin menggunung. Ia bersimpuh di hadapan orang yang sudah mengenalkan sholat padanya kembali setelah sekian lama ia tidak pernah bersujud.


"Abi, maaf. Semua terjadi karena saya," sesal Geo. Menggenggam erat tangan lelah yang mulai keriput.


Abi Zayid menggeleng pelan, membawa Geo untuk bangun dan kembali duduk di sofa. "Bukan salah kamu, Nak. Ini cobaan untuk Aish, mungkin dengan ini Allah akan mengangkat derajatnya."


Setelah kalimat itu terucap suasana ruang tamu kembali hening. Geo tidak tahu terbuat dari apa hati pria di sampingnya ini. Pasti kecewa padanya, tapi masih mampu bersikap biasa.


Sementara Ferdinand dan Pandu tidak banyak bicara. Mereka berada di sana sebagai bentuk kepedulian.


"Abiiii..!!" Seruan Aish memecah keheningan malam. Mata sembabnya menatap tajam ke arah semua orang yang ada di ruang tamu.


"Pergiiiiii...!!!" Amuk Aish saat melihat Adam, Geo dan dua orang yang tidak dikenal berada di rumahnya.


"Pergi..!!!" Ulang Aish, dengan membabi buta menghamburkan meja tamu yang terdapat suguhan makanan dan minuman.


Setelahnya wanita itu terpekik nyaring karena kopi panas yang tumpah ke kaki, membuat gamisnya kotor. Dentingan gelas-gelas kaca yang terjatuh ke lantai bersahutan. Gerakan cepat itu membuat para pria yang ada disana tercengang.


"Aish!!" Kaget Adam dan Abi Zayid bersamaan.


Abi Zayid segera bangkit, menarik Aish hati-hati untuk duduk. Lalu membersihkan pakaian sang putri yang ketumpahan kopi panas, “ganti baju Nak.”

__ADS_1


Wanita itu menggeleng, menatap Geo tajam dan bengis. Geo yang ditatap seperti itu hanya membalasnya dengan tatapan datar.


Jauh dalam lubuk hatinya merasakan nyeri saat melihat betapa hancurnya wanita itu. Mata sembab dan hidungnya merah merekah karena terlalu banyak menangis. Tangan Geo mengepal kuat, kondisi Aish seperti ini gara-gara perbuatan Leo.


"Aish," panggil Adam lembut untuk menenangkan. Ditatapnya netra sayu itu penuh dengan kehangatan. Hatinya ikut terluka melihat betapa kacau keadaan calon istrinya sekarang.


"Pergi Mas, pergi!! Aku gak mau nikah sama kamu, pergiiii!!" Teriak Aish menggelegar, menutup kedua telinganya kemudian kembali terisak nyaring.


Ia tidak ingin melihat Adam, tapi kenapa pria itu masih ada di rumahnya. Ia malu, benci pada dirinya sendiri. Rasanya sudah tidak pantas bersanding dengan pria itu.


"Aish," Adam ingin membujuk namun terpangkas oleh teriakan Aish.


"Pergi Mas, pergiii!!"


Dengan berat hati Adam pamit pulang. Ia tidak bisa menyalahkan Geo atas keadaan yang menimpa Aish. Namun kenyataannya, karena kehadiran pria itulah calon istrinya mengalami hal buruk.


"Abi, Aish mau pergi dari sini. Aish mau nyusul Ummi!!" Gumam Aish di tengah isak tangisnya.


"Aish mau ninggalin Abi," pria itu membawa putrinya dalam pelukan.


Aish kemudian menggeleng tidak setuju dengan ucapan yang keluar dari mulutnya barusan. Bukan dia yang harusnya pergi.

__ADS_1


“Aish mau dia mati!!” Tunjuk Aish


pada Geo, mendorong kasar sang abi dari pelukannya lalu mengambil pecahan


gelas yang berserakan di lantai mengacungkannya pada Geo.


“Aish, istighfar Nak. Istighfar,” Abi Zayid berusaha melepaskan pecahan gelas yang Aish pegang. Namun wanita itu semakin


menggenggam kuat sampai tangannya berdarah.


Geo berdiri, menatap Aish tepat di bola matanya. “Lakukanlah, kalau itu bisa menghilangkan amarah dan kebencianmu.” Ucapnya tenang, meminta Abi Zayid untuk melepaskan tangan Aish. Agar tangan wanita itu tidak semakin terluka.


"Geo!!" Sentak Abi Zayid dan Ferdinand yang sedari tadi diam.


“Lakukanlah,” Geo menarik tangan Aish pelan ke depan dadanya. Namun wanita itu menggeleng, melepaskan pecahan gelas. Kemudian menutup wajahnya dengan tangan yang berdarah.


Tidak. Dia bukan pembunuh. Dia bukan pembunuh. Dia tidak ingin jadi pembunuh. Seru batinnya berteriak.


Geo lekas mencegat, menahan tangan Aish agar darah tidak mengenai wajahnya.


"Lepaskan!!" Aish meronta, mendorong tubuh Geo lalu berlari menjauh tanpa peduli banyak pecahan gelas yang berserakan di lantai. Kaki telanjangnya menginjak salah satu benda itu, membuatnya terpekik kesakitan.

__ADS_1


Geo mengambil langkah cepat mengangkat tubuh Aish agar tidak menapak ke lantai. Tubuhnya terasa lemas, malam ini energinya terkuras habis hanya untuk mengurus korban Leo. Selain tangan wanita itu yang berdarah kakinya juga.


"Lepasin!!" Aish yang berada dalam gendongan Geo kembali meronta minta dilepaskan. Sudah tidak peduli dengan rasa sakit pada tangan dan kakinya yang terluka. Karena hatinya jauh lebih sakit saat ini.


__ADS_2