
Aishabella menghela napas panjang saat melihat siapa yang datang. Suasana hatinya sedang tidak baik, tapi tidak mungkin juga ia meninggalkannya masuk ke kamar.
"Bundaaa...!!" Nasya naik ke sofa lalu meringsek duduk di pangkuan Aish tanpa izin.
"Kenapa gak sekolah?" Tanya Aish datar, membuka suara pun rasanya sangat malas.
"Bunda kenapa tidak ke sekolah? Tadi Abi Ken sama Ummi Nana bilang mau jenguk Bunda. Jadi Nasya gak sekolah, mau ikut kesini. Bunda sakit?" Bibir mungil Nasya terus berceloteh walau Aish tidak memperhatikannya.
"Bunda sehat," jawab Aish singkat.
Ia sedang tidak mood, kehadiran Nasya pun tidak bisa membuat moodnya membaik. Yang ada malah moodnya semakin buruk saat melihat pria bertubuh tegap dengan tatapan teduh itu ada di rumahnya.
"Bunda marah sama Nasya?" Nasya bertanya dengan mata berkaca-kaca karena diabaikan Aish.
__ADS_1
Seketika Aish memfokuskan perhatiannya pada Nasya dan merasa bersalah. "Bunda gak marah sama Nasya," katanya memeluk bocah kecil itu. Tanpa sadar cairan bening dari netranya berjatuhan, entah karena apa. Sejak kejadian pagi itu hatinya jadi lebih sensitif dan malas keluar rumah untuk bertemu orang.
“Kenapa Bunda gak suka Nasya ada disini?”
“Siapa yang gak suka Nasya disini,” Aish mengusap belakang kepala Nasya yang dilapisi jilbab kecil. Wajah mungil putri Adnan itu mirip seperti boneka dengan kulit putih, hidung mancung dan bulu mata lentik. Sangat menggemaskan.
“Bunda,” jawab Nasya cemberut mengurai pelukannya lalu menangkup pipi Aish. “Kenapa Bunda menangis?” Hari ini bocah kecil itu banyak bertanya, namun tidak ada jawaban yang membuatnya puas keluar dari mulut Aish. Perempuan dewasa yang selalu ia panggil bunda itu hanya menjawab sekedarnya saja.
Elvina duduk di samping Aish sementara suaminya keluar rumah bersama Abi, mereka berbincang di teras. Ia tidak mengajak putranya, sengaja meluangkan waktu untuk mengunjungi Aish saat mendapat kabar yang tidak mengenakkan.
"Ada apa? Kalau butuh seseorang untuk mengosongkan pikiranmu mungkin aku bisa membantu." Elvina mengusap punggung tangan Aish dengan lembut. Diantara mereka memang pernah terjadi perselisihan. Namun ia sudah lama memaafkan dan melupakan semuanya.
Aish menggelengkan kepala menatap ke arah lain. Setiap kali teringat ummi, ia juga teringat pada laki-laki yang pertama kali memberikannya rasa aman selain Abi. Walaupun sudah berlalu tujuh belas tahun lamanya, namun semua masih tergambar jelas dalam ingatan.
__ADS_1
"Apa kamu mau kutemani ke dokter? Kita bisa bertemu dokter pribadi aku kalau kamu tidak bisa bercerita padaku." Elvina masih membujuk, baru tahu kalau sepupunya memiliki trauma sejak lama.
Kalau saja kemarin Abi Zayid tidak keceplosan bicara, sampai sekarang ia tidak akan tahu apa-apa. Saat itu juga Elvina memaksa sang paman untuk menceritakan semuanya tanpa ada yang boleh ditutup-tutupi lagi.
"Aku baik-baik saja, jangan khawatir." Aish menanggapi dengan senyuman palsu.
"Tidak ada orang yang baik-baik saja saat dia berusaha untuk tetap waras menjalani hidup, sedang hatinya tengah dilanda badai kegundahan."
Elvina menggenggam kedua tangan Aish yang terasa dingin.
"Apa ini ada hubungannya dengan Ken?" Tanyanya hati-hati.
Aish mengangkat satu sudut bibir saat adik sepupunya membuat tebakan dengan pemikirannya sendiri.
__ADS_1
"Jangan buat aku semakin menerka-nerka Aish," gusar Elvina karena ucapannya tidak mendapat tanggapan.
Istri Ken itu tidak memaksa sang sepupu bicara lagi setelah berkali-kali ditanya tidak ada jawaban yang ia dapat.