Takdir-Ku Kamu

Takdir-Ku Kamu
Part 38


__ADS_3

"Ayo sholat dulu. Kata Abi sebaiknya sholat sunnah sebelum memulai," Ajak Geo.


Aish yang tangannya masih di tangkup Geo semakin gugup. Saat pria itu memegangi tangannya saja jantungnya sudah berdebar-debar, apalagi mendapat ajakan seperti ini. Ia tidak berani menggerakkan kepala untuk mengangguk ataupun menggeleng.


"Ayo, aku tahu kamu susah tidur. Setelah ini kamu tidak akan mengalaminya lagi, karena ada aku yang menemani disini." Geo membantu Aish untuk bangun.


Aish bukannya bergerak, wanita yang statusnya baru berubah menjadi istri itu malah mematung mendapat perlakuan manis dari Geo. Sulit untuknya tidak merasakan berbunga-bunga saat diperlakukan begitu istimewa.


Baginya hal ini istimewa, tidak pernah ia mendapatkan perlakuan manis dari orang lain. Dengan Abi pun Aish tidak sedekat itu, memanggilnya dengan sebutan sayang saja Abi hampir tidak pernah.


"Heem mau digendong ya," goda Geo menoel hidung Aish. Membuat perempuan itu menggeleng malu.


"Eng-gak, bisa jalan sendiri Mas." Sahut Aish cepat dengan malu-malu, kakinya terasa lemas. Ia baru tahu kalau Geo yang biasanya terlihat datar bisa bersikap manis juga padanya. Pantas saja anak kecil seperti Nasya dibuat lengket.


"Ya udah ayo," Geo beranjak lebih dulu untuk berwudhu. Kemudian mereka sholat sunnah dua rakaat. Ia sudah belajar dari Abi bagaimana tuntunan sholat dan doa sebelum memulai berhubungan suami istri agar mendapatkan keturunan yang diberkahi Allah.


Geo tidak malu belajar pada mertuanya sendiri, karena memang Abi Zayid yang menyadarkannya untuk kembali ke jalan yang benar.

__ADS_1


"Mas," Aish tercekat saat Geo membawa tubuhnya yang masih menggunakan mukena ke tempat tidur.


"Kenapa, hm?"


"Kaget," Aish menunduk malu.


"Aku sudah berjanji memberikan anak untukmu kan, jadi kita tidak perlu menundanya." Geo mengangkat dagu Aish dengan lembut. Bibirnya tersenyum tipis sembari melepaskan mukena yang membalut tubuh sang istri.


Lagi-lagi Aish dibuat tidak percaya dengan perlakuan Geo yang begitu lembut padanya.


Cantik. Istrinya ini tidak kalah cantik dengan mantan kekasihnya. Tapi entah kenapa ia masih belum bisa menghapus bayangan Ara.


Aish hanya menganggukan kepala dengan segala kecemasan dalam dirinya. Bayangan bagaimana ia diperlakukan kasar oleh kembaran suaminya kembali berputar.


Saat itu Aish meronta-ronta dan memohon agar tidak di sentuh. Tapi lelaki itu semakin mendesaknya dengan liar dan menciuminya kasar. Kalau saja tidak ada yang datang hari itu, entah sudah sehancur apa dirinya.


"Aaaaaarrkkhh!!" Aish refleks berteriak saat Geo selesai berdoa dan mendekati pipinya. Tanpa sadar ia mendorong Geo menjauh. Tubuhnya bergetar ketakutan dan berkeringat dingin.

__ADS_1


Dan saat itulah Geo menyadari kalau Aish mengalami trauma atas apa yang pernah Leo lakukan.


"Aish lihat ini," panggil Geo lembut menunjuk gelang di pergelangan tangannya sambil menepuk pipi wanita yang tengah ketakutan itu.


"Maaf," ucap Aish gemetar. Mengambil tangan Geo lalu menciuminya. "Maaf," ulangnya dengan segala perasaan bersalah.


"Kenapa tidak katakan terima kasih sudah menemaniku disini, daripada meminta maaf." Ralat Geo, membiarkan tangannya digenggam Aish. Ia mengusap-usap puncak kepala istrinya dengan tangan yang lain agar lebih tenang. Melihat keadaan Aish seperti ini membuatnya benar-benar ingin menghabisi Leo.


"Terima kasih," gumam Aish sangat pelan.


"Kembali kasih," jawab Geo dengan bibir tersenyum kecil. "Tarik napas dulu ya lalu hembuskan pelan-pelan biar lebih tenang," diktenya yang diikuti Aish.


"Haus," keluh Aish setelah napasnya mulai teratur.


"Diam disini biar aku yang ambilkan ke belakang," tahan Geo saat Aish ingin bangun dari tempat tidur. "Siap-siap ya setelah ini," godanya sebelum beranjak ke dapur.


Aish membulatkan mata mengetahui sisi lain dari pria asing yang tak lain suaminya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2