Takdir-Ku Kamu

Takdir-Ku Kamu
Part 46


__ADS_3

Dengan hati-hati Aish naik ke tempat tidur, merebahkan kepalanya di dada bidang sang suami.


“Maaf,” lirihnya dengan perasaan bersalah karena telah mengacuhkan Geo.


“Berhentilah meminta maaf,” Geo menyahut dengan mata masih terpejam. Tangan kirinya terulur untuk membelai lembut punggung Aish.


“Aku bikin Mas capek ya?”


Nada suara menyalahkan itu membuat Geo membuka mata dan menatap Aish dengan penuh kelembutan.


“Siapa yang ngijinin nih kepala buat mikir yang aneh-aneh, hm.” Ujarnya sembari menyingkirkan rambut yang menutupi pipi Aish dengan tangan kanan.


Aish menggerakkan kepala menggeleng, kemudian berucap. “Aku cuma nyusahin kamu Mas, harusnya kamu gak perlu memaksakan diri untuk menikahiku.”


“Memangnya kamu mau nyusahin siapa lagi kalau bukan suamimu ini, hm.” Geo tersenyum mengacak puncak kepala sang istri.


“Mass,,” rengek Aish.


Memang benar tidak ada yang bisa ia repoti selain dirinya sendiri. Selama ini Aish selalu berusaha melakukan segala sesuatunya sendiri, sebisa mungkin tidak ingin menyusahkan orang lain.


“Tuh kan, kalau senyum gini manis banget.” Puji Geo yang memunculkan semburat kemerahan di pipi Aish.

__ADS_1


"Mas sudah makan?" Tanya Aish yang dijawab Geo dengan gelengan kepala.


"Kita izin sama Abi makan malam di luar ya, kita belum pernah makan berduakan." Ujar Geo yang ingin memiliki lebih banyak waktu berdua dengan Aish. Memposisikan diri seperti orang yang sedang pacaran.


Aish menurut saja, tidak membantah. Setiap kali ia menyinggung masalah perasaan, Geo selalu saja mengalihkan pembicaraan. Membuat Aish ragu bisa mendapatkan cinta dari suaminya sendiri.


Sebuah restoran mewah menjadi pilihan Geo. Ia tidak melepaskan sedetikpun tangan Aish dari genggamannya. Sampai mereka duduk di salah satu kursi yang sudah ia reservasi. Seprofesional itu Geo dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang suami.


Aish memang senang Geo memperlakukannya dengan begitu lembut dan perhatian. Tapi percayalah ada sudut hatinya yang terluka karena kepura-puraan sang suami ini.


"Aishabella, aku gak ngizinin kamu buat mikirin apapun." Geo mengusap puncak kepala Aish, wanitanya itu memang tersenyum. Tapi tatapannya menunjukkan kalau sedang terluka.


"Kita kesini untuk menciptakan kenangan indah, oke. Jadi jangan pikirkan apapun yang membuatmu terluka sendiri. Aku sedang berjuang untuk mencintaimu, tapi kenapa kamu terus melukai diri sendiri." Tutur Geo dengan lembut.


Selembut perasaan Aish yang tiba-tiba saja meneteskan kristal bening dari matanya.


Geo tidak peduli sedang berada di tempat umum dan menjadi pusat perhatian. Menghapus butiran bening itu dari pipi mulus sang istri lalu mengecupnya lama di kening.


"Pulang dari sini kamu harus membayar semua kebaikanku ini dengan memanjakannya," bisik Geo seraya melirik ke bawah. Bibirnya menerbitkan senyuman usil lalu menjauhkan kepala dari Aish.


"Mas,,," rengek Aish dengan mata melotot. Sempat-sempatnya Geo memikirkan hal seperti itu di tempat umum.

__ADS_1


"Iya Aish," jawab Geo yang tidak berhenti tersenyum. Tercetus di pikirannya ingin membawa Aish ke apartemennya malam ini, agar mereka bisa berduaan tanpa takut ada yang mengganggu.


"Malu," Aish menundukkan wajah karena ditatap para pengunjung yang lain.


"Ngapain malu, yang pacaran panggil ayah bunda sebelum menikah aja gak malu, hm. Kitakan sudah halal, biar aku dapat pahala terus." Sahut Geo sambil menepuk-nepuk punggung tangan Aish yang berada di atas pahanya. Istrinya itu sudah tersipu malu dan tersenyum berbinar.


Setelah menunggu beberapa waktu pramusaji datang membawakan pesanan mereka.


"Ara mau makan apa Sayang?" Ujar salah satu pengunjung yang mungkin baru datang dan duduk membelakangi mereka. Geo langsung menajamkan pendengaran saat mendengar nama perempuan yang paling bertahta di hatinya disebutkan.


"Ara makan apa aja asal Abang suapi," suara manja khas wanita yang sangat dicintainya itu membuat jantung Geo berdetak kencang. Suara yang sudah lama tidak ia dengar, membuat rindunya kembali menyeruak ke permukaan.


"Mas, kenapa gak dimakan?" Tanya Aish pada sang suami yang belum memulai makannya.


"Kenyang lihat senyum kamu," Geo berusaha bersikap biasa agar tidak membuat Aish curiga. Padahal hatinya tengah gelisah saat ini, ingin sekali ia menoleh ke belakang lalu membawa Ara dalam pelukan.


"Mas ih," Aish mencubit pelan pinggang suaminya yang selalu saja membuat hatinya berbunga-bunga dan juga terluka secara bersamaan.


"Jangan sentuh sembarangan, kalau gak mau pulang sekarang hm." Ancam Geo dengan tawa kecil sambil mengerling jahil.


Aish memberengut masam melanjutkan makannya. Daripada meladeni sang suami yang membuat pipinya merona-rona.

__ADS_1


__ADS_2