Takdir-Ku Kamu

Takdir-Ku Kamu
Part 76


__ADS_3

Geo yang tiba di ruang tamu memasang wajah datar saat melihat siapa tamunya.


"Kalian mau apa menyusul kesini?" Tanya Geo tanpa basa-basi pada kedua orang tuanya yang sudah menunggu sejak tadi.


Kalau saja tadi dia belum mendapatkan asupan nutrisi dari Aish bisa saja langsung meledak. Tapi karena masih ada hormon dopamin di tubuhnya setelah aktivitas tadi, jadilah Geo masih bisa sedikit lebih santai.


"Mama mau ketemu calon cucu boleh," perempuan paruh baya itu menatap putranya penuh harap. Ingin menebus kesalahannya dan menjadi ibu mertua yang sesungguhnya untuk Aish.


"Cucu," Geo tersenyum miring. "Tidak ada," jawabnya lantang.


"Mama mohon maafin Mama, Geo. Mama mau melihat calon cucu Mama."


"Memberi maaf, tidak akan. Mama sendiri yang bilang kalau yang dikandung Aish itu bukan anakku. Jadi itu berarti bukan cucu Mama," tekan Geo dengan menggebu-gebu.


"Geo," tegur Ferdinand. Tidak tega melihat istrinya yang memohon sambil menangis.


"Sejak kapan Mama mengakui cucu dari perempuan yang Mama anggap gila," Geo tersenyum sinis. Masih sangat jelas diingatannya ketika sang mama meneriaki istrinya perempuan gila.


"Mama mohon Geo, maafin Mama." Perempuan paruh baya itu mendekati putranya dan bersimpuh disana.

__ADS_1


Jika keadaan masih wajar seperti biasanya maka tentu saja Geo tidak tega. Tapi karena ibu yang telah melahirkannya itu membuatnya kecewa begitu dalam, jadilah Geo membutakan hatinya.


"Cukup Mah, silahkan kalian pergi dari sini!" Usir Geo yang tak bergerak sedikitpun dari posisinya.


"Geo Ferdinand, kau jangan keterlaluan pada Mama mu sendiri." Ferdinand membawa istrinya untuk bangun.


Namun perempuan paruh baya itu tidak mau sebelum sang putra memaafkannya.


"Mama janji, Mama sendiri yang akan menghukum Leo."


Geo hanya berdecak sinis menanggapi ucapan sang mama.


Sesampainya di ruang tamu Aish membelalak kaget melihat mama mertuanya bersimpuh di hadapan sang suami. Tapi suaminya itu malah memasang wajah datar tak peduli.


"Mas," tegur Aish kecewa. Wanita dengan perut membuncit itu membawa mama mertuanya bangun dan mendudukkan di sofa.


"Mama gak pantas ngelakuin itu, walau Mama salah sekalipun." Ucap Aish sendu, matanya melirik tajam sang suami yang tak mengubah ekspresi datarnya.


"Sekarang Mama lihat, perempuan yang Mama anggap gila itu lebih membela Mama daripada aku." Ujar Geo masih meradang.

__ADS_1


"Mama minta Maaf."


Aish tidak suka melihat Geo yang memojokkan mamanya sendiri. Sementara Ferdinand hanya bisa menghela napas panjang. Putranya itu sangat susah dilunakkan hatinya.


"Mas, apa salahnya maafin Mama. Jika Allah saja mau memaafkan hambanya, kenapa kita tidak."


"Karena aku bukan Tuhan, Aish!" Tidak sengaja Geo menyentak wanitanya karena terbawa emosi.


Aish menangis sendiri melihat suaminya yang begitu keras.


Melihat istrinya yang tiba-tiba menangis, calon ayah itu jadi merasa bersalah.


"Sayang," Geo mendekati Aish yang menangis karena ulah dirinya.


"Maaf, Mas bukan marah sama Aish." Katanya membawa wanita hamilnya itu dalam pelukan. Beruntung Abi Zayid sedang tidak ada di rumah. Jadi tidak menyaksikan drama ini.


"Gak papa kalau Mas gak mau maafin Leo. Tapi aku mohon maafin Mama," mohon Aish dengan wajah pilu.


Tentu saja Geo tidak bisa menolak permintaan dari wanita yang dicintainya ini. Ya, Geo sudah menyadari perasaannya saat Aish pergi dari hidupnya. Kehilangan membuatnya menyadari akan arti cinta.

__ADS_1


__ADS_2