Takdir-Ku Kamu

Takdir-Ku Kamu
Part 51


__ADS_3

Keheningan di ruang tamu membuat suasana jadi terasa mencekam. Belum ada yang memulai pembicaran sejak kedatangan Ferdinand beberapa menit yang lalu.


Baik mama maupun Geo masih sama-sama diam. Geo diam karena sedang menekan emosinya agar tidak meledak.


"Ada apa?" Ferdinand menatap putranya dengan penuh tanda tanya. Sepertinya baru terjadi sesuatu yang membuat Geo sangat emosi hingga memintanya untuk segera pulang.


“Coba tanyakan pada istri kesayangan Papa, apa yang sudah dilakukannya pada istriku,” cecar Geo.


Mama memelototkan mata, tidak percaya kalau putranya mengadukan perbuatannya pada sang suami.


“Kau menuduh Mama melakukan sesuatu pada istrimu. Istri gilamu itu yang sudah mendorong Mama sampai jatuh dan melemparkan piring ke Mama.” Seloroh mama menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Memang Aish yang mendorongnya, tapi setelah ia jambak. Puas rasanya melihat sisi lain menantu tak diinginkannya itu.


Perempuan paruh baya itu tersenyum melihat suaminya yang diam tanpa ekspresi. Menatap mereka berdua bergantian.


“Cukup Mah!! Apa salah Aish sampai Mama harus menjambaknya, kalau Aish salah cukup memberitahu tanpa menghina atau melukainya.” Geo sudah susah payah meredam emosi, mama malah sengaja mengibarkan bendera perang.


“Benar Mama menjambak Aish?” Tanya Ferdinand dengan raut yang sulit dibaca. Entah percaya atau tidak dengan penjelasan sang istri. Tahu istrinya itu sangat sulit menerima perempuan yang dekat dengan putra-putranya. Tidak hanya kali ini saja, tapi sejak dulu.


“Papa menuduh Mama?” Mama balik bertanya dengan suara meninggi.


Ferdinand hanya tersenyum tipis membuat mama tersenyum kemenangan karena menganggap sang suami percaya padanya.


“Papa bisa saja membuka rekaman cctv tanpa perlu bertanya, tapi Papa ingin tahu apa alasan Mama tidak suka dengan Aish.”


Ucapan Ferdinand membuat mama membulatkan mata sempurna. Menatap sang suami penuh permusuhan.


“Mama tidak suka Geo menikah dengan Aish. Perempuan penggoda seperti dia tidak pantas bersama Geo dan menjadi ibu dari cucu-cucuku.”


“Siapa yang penggoda Mah!” Geo langsung naik pitam mendengar istrinya direndahkan. Sudah cukup ia bersabar menghadapi mama yang semakin keterlaluan.


“Harusnya Mama lihat diri Mama, apa pantas disebut sebagai ibu saat sedang merendahkan perempuan lain tanpa sebuah alasan. Terlebih itu menantu Mama sendiri.”

__ADS_1


“Geo!!” Tegur Ferdinand pada putra sulungnya yang sudah meninggikan suara dan terbakar emosi.


“Jangan salahkan aku kalau tidak akan pernah menginjakkan kaki ke rumah ini lagi.” Geo beranjak dari sofa, malas melanjutkan perdebatan dengan mama.


“Jadi kau lebih membela Aish dibanding Mama!” Sentak mama dengan suara nyaring, membuat Geo berhenti melangkah dan menoleh ke arah mama dengan senyuman sinis. Senyuman yang menggores hati seorang ibu.


“Aku tidak pernah memberikan pilihan. Tapi sikap Mama tidak layak untuk menjadi ibu yang baik buat Aish. Aku tidak akan membiarkan istriku terluka lagi,” Geo berujar sebelum melanjutkan langkah jenjangnya.


“Geo!!” Teriak perempuan paruh baya itu menggelegar, karena lagi-lagi Geo mengabaikannya.


“Papa juga mau membela Aish dibanding Mama!!” Geramnya pada sang suami yang masih duduk dengan tenang.


“Kalau Mama bisa bersikap lebih baik dan meminta maaf dengan Aish itu tidak akan terjadi.”


“Tidak akan, Mama tidak akan pernah meminta maaf dengan perempuan gila itu.”


“Aish tidak gila Mah!” Tekan Geo tanpa menghentikan langkahnya. Raut wajah sudah seperti binatang buas yang ingin menerkam mangsa.


Dengan hati-hati Geo naik ke atas pembaringan, mengelus lembut rambut hitam Aish. Bukannya memberikan kebahagiaan untuk Aish, kehadirannya malah semakin membuat istrinya ini terluka.


“Mas,” Aish mengerjapkan mata saat merasakan elusan di kepalanya.


“Sudah bangun, hm.” Geo tersenyum membubuhkan kecupan di kening Aish. “Kita pulang sekarang ya," ajaknya. Tidak ingin membiarkan Aish berlama-lama bertemu mama.


Wanita itu mengangguk kecil, setelahnya Geo bangkit mengambil hoodie di lemari lalu membantu Aish memasangnya.


“Maaf ya, bajunya bau kelamaan di lemari.” Ucapnya sambil membuka lebar lubang tangan hoodie agar Aish bisa meloloskan tangannya tanpa kesakitan.


"Gak papa Mas," Aish menyahut dengan senyuman. Walau tanpa cinta, tapi Geo selalu memperlakukannya dengan manis.


“Cantiknya Umma,” puji Geo membuat Aish mengerutkan kening. “Umma?” Gumamnya bingung.

__ADS_1


“Iya, ini nih Umma-nya anak-anakku nanti. Cantik banget,” Geo kembali memuji diikuti kecupan di kening.


“Mas,” pipi Aish sudah merona merah dibuatnya. Kali ini sikap Geo lebih manis dari sebelum-sebelumnya yang memang sudah manis.


"Iya Umma, ada apa hm." Goda Geo, merangkulkan tangannya di pinggang Aish lalu membawanya keluar dari kamar.


“Mas, aku bisa jalan sendiri. Nanti Mama lihat,” cicit Aish yang kembali ketakutan saat mengingat mama mertuanya.


“Emang kenapa kalau Mama lihat, hm. Kamu kan istriku.” Tanpa melepaskan rangkulannya Geo menggiring Aish menuruni anak tangga.


Tanpa niat berpamitan ia melewati ruang tengah begitu saja. Padahal disana masih ada papa dan mama.


"Mas gak pamit dulu, ada Papa juga."


"Gak usah," jawab Geo singkat.


Aish bertanya-tanya dalam hati, apa gerangan yang terjadi selama dirinya ketiduran tadi.


“Aish tangannya kenapa?” Ferdinand terkejut melihat tangan menantunya yang terbalut perban.


“Coba Papa tanyakan sama Mama,” jawab Geo tak acuh.


“Dia sendiri yang gila sampai melukai tangannya." Jawab mama tanpa rasa bersalah, bahkan berani menatap tajam Aish yang menunduk ketakutan.


"Cukup mengatai Aish gila Mah, kalau disini ada yang gila orangnya itu adalah Mama. Tidak ada orang sehat yang menyakiti menantunya sendiri." Geo menggeram marah, harusnya Aish tidak mendengar kalimat menyakitkan ini.


"Mas," bukannya tersinggung dengan ucapan mama. Wanita itu malah khawatir Geo dan mama yang bertengkar.


"Mama!!" Satu peringatan dari Ferdinand membuat ibu dua anak yang kembali ingin menyerang sang menantu dengan lidah tajamnya itu terdiam. "Duduk," titahnya pada Geo dan Aish.


Dengan sangat terpaksa Geo membawa istrinya untuk duduk. "Jangan dengerin ucapan Mama ya," bisiknya di telinga Aish. Kemudian mengeratkan rangkulan, ia bisa merasakan tubuh Aish yang gemetar ketakutan.

__ADS_1


__ADS_2