Takdir-Ku Kamu

Takdir-Ku Kamu
Part 24


__ADS_3

"Sudah tidur Bi?" Tanya Geo pada Abi Zayid yang baru keluar dari kamar Aish. Malam sudah larut, matanya sangatlah mengantuk. Namun ia tahan agar tidak terpejam, malam ini tubuhnya benar-benar lelah.


Ia masih berada di rumah Abi Zayid karena merasa bertanggung jawab atas semua yang terjadi. Sementara Ferdinand dan Pandu sudah lama pulang.


"Alhamdulillah sudah lebih tenang, terima kasih Nak. Maaf tadi Abi menuduh kamu yang menculik Aish," ujarnya dengan wajah lelah.


"Abi jangan minta maaf, semua terjadi memang karena saya. Saya yang harusnya minta maaf karena sudah membuat putri Abi terluka psikis dan fisiknya."


Sebelum benar-benar tertidur tadi Aish sempat mengamuk kembali saat lukanya dibersihkan Geo. Sebenarnya ia ingin membawa Aish ke rumah sakit, namun perempuan itu tidak mau. Daripada semakin tantrum lebih baik ia tangani sendiri.


Abi Zayid tersenyum kecil kemudian menepuk bahu Geo. "Kamu istirahat, Abi sudah minta Bibi menyiapkan ruang tamu."


"Saya pulang saja Bi," tolak Geo secara halus. Tidak ingin orang salah paham kalau melihat ia menginap di rumah ini. Abi Zayid tidak membantah, membiarkan Geo pulang ke kamarnya di pondok.


🍃


"Abaaang, coba sini lihat. Mirip Mbak Aish," Aisyah menarik sang abang yang sudah siap berangkat, untuk melihat berita yang barusan viral di instagram.


"Ai, jangan kebanyakan main instagram. Belajar yang benar atau Abang bilangin Ayah."


"Ish, lihat bentaran aja sih. Malah ceramah!!" Gerutu Aisyah menunjukkan ponselnya pada Adam. Pria itu langsung beristighfar mematikan layar ponsel sang adik.


"Ada apa sih ribut-ribut di tengah pintu," tegur Bunda.


"Ini Bun ada video,,, mmppp..."


Adam langsung membekap mulut Aisyah supaya tidak melanjutkan kalimatnya.


"Aaaarrgghh," Aisyah mencubiti tangan Adam yang membuatnya susah bernapas. Karena telapak tangan lebar sang kakak itu juga menutup hidungnya.

__ADS_1


"Abang, aku gak bisa napas ih!" Rengek Aisyah setelah berhasil lepas dari bekapan Adam.


"Makanya diam, jangan bicara apa-apa kalau tidak tahu kebenarannya." Sungut Adam menjitak kening sang adik pelan, membuat gadis itu mengaduh dramatis.


"Jadi ini beneran Mbak Aish?" Pertegasnya sambil menatap layar ponsel kembali. Aksi itu sukses membuat Adam menghela napas kasar.


"Kalian ributin apaan?" Perempuan beranak dua itu merebut ponsel di tangan sang putri kemudian refleks berteriak.


"Astagfirullahaladzim," kaget perempuan itu setelah melihat video Aish melakukan hal tidak senonoh bersama pria dengan pakaian terbuka.


Menatap tajam putranya lalu berkata, "kamu gak boleh nikah sama dia Adam."


"Bundaa, ini gak seperti yang Bunda lihat. Saya akan tetap menikahinya."


"Enggak, Bunda gak setuju. Apapun alasannya Bunda gak bisa merestui kalian lagi!" Tegas Bunda, Aisyah yang mendengar itu tentu saja merasa bersalah pada sang abang.


"Kenapa dibatalkan? Masuk, bicara di dalam jangan di tengah pintu!!" Tegas seorang pria yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya.


Ibu dan anak itu menurut. Bunda menjelaskan sesuai keinginannya dan Adam menyanggah sesuai fakta yang terjadi. Sementara Aisyah mengkerut duduk diantara abang dan bundanya.


"Ai, gunakan sosial mediamu dengan bijak. Jangan apa yang kamu lihat langsung ditelan begitu saja tanpa diolah lebih dulu. Jatuhnya bisa jadi fitnah dan merugikan banyak orang." Beritahu sang ayah, gadis itu mengangguk pelan sambil meremas roknya.


"Bunda juga gak bisa membatalkan pernikahan ini hanya dengan penilaian Bunda sendiri. Adam sudah menjelaskan kalau semua ini sengaja dibuat untuk menjatuhkan kehormatan Aish. Adam memang sudah seharusnya melindungi calon istrinya."


"Tapi Bunda tetap tidak setuju, berita itu gak serta-merta bisa hilang dalam sekejap. Dan semua orang pasti mengingat jelas wajahnya. Bunda gak mau punya menantu bermasalah dan nanti malah merusak nama baik keluarga."


"Bunda," Adam menarik napas panjang sebelum bicara agar tidak terbawa emosi pada perempuan yang sudah mengandung dan melahirkannya. "Apa penilaian orang lebih penting untuk Bunda?" Perempuan itu mengangguk tegas.


"Lalu bagaimana dengan Aish yang menjadi korban namun dipersalahkan dunia. Bagaimana kalau hal buruk itu terjadi pada putri Bunda." Adam menatap tajam sang adik yang ada diantara mereka, gadis itu terus menunduk.

__ADS_1


"Apa Bunda tidak bisa menurunkan ego sedikit untuk bersimpati pada orang yang tengah mengalami musibah," lanjutnya hati-hati.


"Bunda bisa bersimpati padanya tapi Bunda tetap tidak bisa menjadikannya sebagai menantu."


Ucapan itu sukses membuat Adam mengepalkan tangan, menahan emosi. Adam memilih pamit pergi dari pada dia kelepasan bicara yang bisa menyakiti sang bunda.


"Abaang!" Aisyah menyusul kakaknya yang terlihat sedang marah. "Maafin Ai," ucapnya sendu.


"Lain kali kalau ada hal sensitif seperti itu jangan dibikin heboh. Ai bisa nanya saat berdua sama Abang ajakan. Biar gak jadi gini," Adam mengusap puncak kepala sang adik yang tertutup hijab. Wajah itu tengah mendung, sebentar lagi airnya akan runtuh.


Gadis itu mengangguk lalu merentangkan tangan minta dipeluk, menumpahkan tangisnya dalam pelukan Adam. "Maafin Ai," gumamnya. Kalau Bunda sudah bicara maka semua jadi repot. Ayah pun tidak bisa membantah, yang ada malah jadi perdebatan di antara keduanya.


"Abang maafin," ujar Adam tidak berhenti mengusap kepala sang adik yang berada dalam pelukannya.


"Mbak Aish gimana?"


"Kalau memang dia jodoh Abang pasti Allah berikan jalan keluarnya. Sudah sana masuk, Abang berangkat dulu."


Aisyah menurut mengurai pelukannya membiarkan sang abang pergi.


"Kenapa bodoh sih," pekiknya seraya memukul kepala sendiri. Kalau sampai pernikahan Bang Adam gagal, dia akan jadi manusia yang paling merasa bersalah.


"Kepalanya gak salah, jangan dipukul." Tegur sang ayah lembut kemudian memberikan usapan disana.


"Abang pasti sedih kalau Bunda gak mau merestui Abang sama Mbak Aish," adu Aisyah sesenggukan.


"Ayah nanti bicara sama Bunda ya Sayang, jangan sedih. Bunda lagi kebawa emosi aja, siap-siap Ayah tunggu di mobil kita berangkat bareng."


"Iya Ayah," jawabnya berlari masuk ke rumah. Gadis itu sampai tidak mau menatap sang bunda yang menegurnya agar jangan berlari dan hati-hati.

__ADS_1


__ADS_2