Takdir-Ku Kamu

Takdir-Ku Kamu
Part 12


__ADS_3

Sepulang dari sekolah Aish tidak langsung pulang. Membawa dirinya menuju taman, wanita itu menghela napas panjang untuk menenangkan diri sejenak sambil memilin-milin buku jari, gelisah.


Lusa, untuk urusan seumur hidup itu ia tidak bisa memutuskannya dengan cepat. Baru tadi pagi ia memberitahu Abi akan keputusannya setelah melalui perenungan panjang dan istikharah tadi malam. Meskipun hatinya masih memiliki keraguan, tapi Aish melawan perasaan itu. Sungguh, semua ia lakukan demi kebahagiaan Abi.


Aish pulang ke rumah saat matahari mulai kembali ke peraduan. Cukup lama ia merenung dalam diam untuk meyakinkan hatinya. Lagi-lagi yang ada di pikirannya tidak ingin mengecewakan Abi.


"Baru pulang Nak?" Abi Zayid menyambut uluran tangan Aish yang menyalaminya setelah menyahut salam.


Perempuan berusia tiga puluh dua tahun itu mengangguk dengan tersenyum kecil. Namun senyuman itu tidak bisa menyembunyikan sendu dalam sorot matanya.


Abi Zayid mengusap puncak kepala Aish. Bisa melihat kegundahan yang berselimut di wajah putrinya.


"Bawa istikharah lagi ya Nak, perbanyak doa pada Allah." Nasehatnya singkat, tahu kalau putrinya sedang ragu. Banyaknya nasehat akan membuat putrinya ini semakin terbebani.


"Iya Abi," sahut Aish pelan kemudian ijin masuk ke kamar. Tidak mau Abi melihat kegundahan yang sedang disembunyikannya.


🍃


Hari yang mendebarkan itu akhirnya tiba juga. Waktu berlalu sangat cepat dalam dua hari ini. Para pihak keluarga Adam mendatangi kediamannya.


Abi menyambut mereka dengan suka cita dan memberikan jamuan yang terbaik. Bisa Aish lihat raut wajah Abi yang sangat bahagia. Apalagi saat berbincang hangat dengan calon besannya.


Proposal taaruf yang ia pilih itu jatuh kepada Adam. Yang sebenarnya Aish ambil karena itu proposal terakhir yang ia baca. Selain itu ia maupun Abi sudah mengenal pria yang merupakan guru di pesantren mereka itu. Itu juga yang menjadi salah satu pertimbangan Aish, karena tidak harus susah-susah berkenalan lagi.


Walaupun mereka kenal tapi pria itu tidak pernah mendesak meminta jawaban pada Abi. Bisa dilihat dari posisi proposal yang tertumpuk paling bawah. Artinya proposal itu sudah berbulan-bulan ada di rumahnya. Namun Aish enggan untuk menyentuhnya.


Abi menceritakan banyak hal tentang Adam,  bagaimana sikap dan kebaikan pria itu untuk lebih meyakinkan Aish. Sampai akhirnya Aish menerima semua itu dengan ikhlas tanpa keterpaksaan karena alasan Abi lagi. Itulah hebatnya Abi, meyakinkan tanpa adu argumen dengannya.


Saat pihak keluarga Adam mengutarakan maksud dan tujuan kedatangannya untuk mengkhitbah. Abi meminta pendapatnya, semua keputusan diserahkan pada dirinya.

__ADS_1


Aish mengangguk kecil pada Abi sebagai jawaban.


Pria berumur itu tersenyum lebar menepuk-nepuk punggung tangan putrinya dengan kebahagiaan yang membuncah. Kedua belah pihak keluarga menyepakati pernikahan akan dilakukan dua bulan lagi, hari dan tanggal mereka putuskan hari itu juga.


Seminggu setelah acara khitbah berlalu, hari ini Adam meminta ijin pada Abi untuk mengajak Aish mempersiapkan segala keperluan pernikahan mereka. Ia menyerahkan semua konsep dan dekorasi sesuai dengan yang calon istrinya itu inginkan.


Walau Aish mengatakan terserah saja, namun pria berparas teduh itu tetap ingin Aish yang memilih semuanya. Mereka pergi ditemani adik bungsu Adam, Aisyah.


Setelah mendatangi wedding organizer dan memilih konsep serta tempat seperti yang wanita itu inginkan. Adam mengajak Aish melihat rumah yang ingin dibelinya untuk mereka tempati nanti. Ia sudah membuat janji dengan pemilik rumah itu.


"Ustadz, apa ini tidak berlebihan, kita bisa tinggal di rumah Abi untuk sementara waktu." Sela Aish saat Adam mengutarakan niatnya mengajak Aish ke sebuah kompleks perumahan.


"Ustadz?" Pria yang duduk di depan kemudi itu mengernyitkan alis dengan setengah tertawa menoleh ke arah belakang sekilas kemudian fokus mengemudikan mobil kembali.


Aish dibuat tersipu malu oleh tawa renyah pria yang menjadi calon suaminya.


"Sudah terbiasa, gak enak kalau panggilannya diubah," sahut Aish sungkan.


Aisyah tidak mendebat ucapan calon kakak iparnya. Ia menoleh pada Adam kemudian berkata dengan wajah manyun saat menyadari nama mereka yang hampir sama.


"Abang manggil Mbak Aish apa? Masa Ai juga sama kayak aku."


"Zaujati," jawab Adam singkat yang semakin membuat Aish tersipu malu. Membuang pandangannya ke arah jalanan.


"Ish Abang bikin Mbak Aish malu," Aisyah mencubit gemas pinggang abangnya.


"Terus manggil apa? Ai satu, Ai dua, gitu?"


"Abaang, gak gitu juga. Masa kita dipanggil seperti anak bebek yang mau baris berbaris!" Protes Aisyah.

__ADS_1


Aish ikut terkekeh mendengar perdebatan kakak dan adik itu. Hingga mereka sampai di sebuah rumah mungil dengan bangunan dua tingkat. Halamannya luas, di halaman belakang ada spot olahraga. Dan ternyata disana juga tersedia tempat latihan menembak.


Indah. Kesan pertama Aish saat melihat bangunan yang didominasi dengan warna cat grey dan putih itu. Mereka diajak oleh ibu-ibu paruh baya yang merawat rumah itu berkeliling sambil menunggu sang pemilik rumah datang.


Adam baru mendapat kabar kalau yang punya rumah akan datang sedikit terlambat.


"Pokoknya Abang harus beli rumah ini," komentar Aisyah yang sangat bersemangat.


"Yang mau tinggal disini bukan kamu," celetuk Adam. Seketika wajah cerah Aisyah jadi mendung.


"Bagaimana kalian suka dengan rumah ini?" Tanya seorang pria muda yang datang dengan senyuman hangatnya. Senyuman itu berubah dingin saat melihat Aish ada disana.


"Suka, sama yang punya rumah juga suka!" Seloroh Aisyah cepat.


"Ai," tegur Adam dengan tatapan teduh.


"Hehe, bercanda Abang."


"Mas Geo yang punya rumah ini?" Tanya Adam takjub. Ia pernah beberapa kali bertemu dengan pria yang baru menjadi santri di pesantren tempatnya mengajar.


"Jadi Ustadz Adam yang mau beli rumah ini?" Geo tersenyum tipis membawa tamunya duduk di taman rumah itu dan meminta bibi untuk membuatkan minuman.


Ia sengaja tidak menggunakan agen properti untuk jadi perantara menjual rumahnya. Karena ingin rumah ini jatuh pada orang yang tepat. Saat mendengar ada orang yang mencari rumah untuk dijadikan hadiah pada calon istrinya Geo langsung setuju untuk bertemu.


"InsyaAllah kalau calon istri saya suka dengan rumah ini." Sahut Adam lembut, sementara Aish hanya diam. Jujur ia mengagumi rumah ini dari pertama kali melihatnya. Tidak menyangka kalau Geo pemiliknya.


"Saya membuat rumah ini untuk calon istri saya Ustadz, dia sangat suka konsep yang seperti ini. Dengan halaman luas dan tempat olahraga terbuka. Tapi takdir berkata lain, dia sudah bahagia dengan takdirnya. Jadi saya memutuskan untuk menjual rumah ini." Jelas Geo dengan senyuman getir.


Tentu saja penjelasan itu membuat hati Aish bergetar. Entah sebab apa, rasanya tidak rela kalau rumah impian orang lain ini dia yang menjadi pemiliknya nanti.

__ADS_1


__ADS_2